Jurusan Perikanan Berhasil Membuat Ikan ‘Kayu’ di Sendang Biru
Sendang Biru merupakan salah satu daerah di Kabupaten Malang yang diketahui memiliki potensi ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) sangat besar. Potensi inilah yang mendorong Jurusan Perikanan untuk melakukan terobosan terbaru dalam pengolahan ikan cakalang di wilayah Sendang Biru. Melalui kerjasama dengan PT. Deho Canning Industry, pada tahun 2009 dibuatlah program Pemberdayaan Masyarakat Nelayan Sendang Biru Melalui Program Pembuatan Ikan Asap Cakalang (Katsuwonus Pelamis) Untuk Bahan Katsuobushi. Untuk merealisasikan program itu kemudian dibuatlah pabrik pengolahan ikan cakalang skala home industry. Pengolahan ikan cakalang ini berupa pembuatan ikan ‘kayu’, yang mana ikan cakalang tersebut diasap hingga bentuk dan kekerasannya menyerupai kayu. “Tujuan dari program ini adalah meningkatkan pendayagunaan sumberdaya perikanan ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) yang semula dijual dalam bentuk segar menjadi bentuk olahan berupa ikan asap, sehingga menjadi komoditas atau konsumsi ekspor” tutur David Hermawan selaku ketua pelaksana program, yang sekarang sedang menyelesaikan program doktornya di Institut Pertanian Bogor. Ia berharap bila pembuatan ikan ‘kayu’ ini berhasil, maka bisa memberdayakan masyarakat nelayan Sendang Biru melalui usaha pengolahan ikan asap pola kemitraan dengan PT. Deho Canning Industry. Selama ini memang di Sendang Biru belum ada yang membuat ‘ikan kayu’. Kebanyakan usaha pengolahan ikan yang ada adalah abon ikan dan pindang. Padahal ikan kayu merupakan bahan baku Katsuobushi, yang akan dijadikan komoditas olahan untuk tujuan Negara Jepang. Pengembangan olahan ikan ‘kayu’ ini banyak dilakukan di luar pulau Jawa, khususnya Manado. Sedangkan untuk pengembangan di Jawa belum ada. Dengan waktu sekitar satu tahun, yang dimulai dari pembuatan alat hingga proses pembuatannya, Jurusan Perikanan akhirnya berhasil membuat ikan ‘kayu’ di Sendang Biru. Sebelumnya memang beberapa dosen Jurusan Perikanan telah melakukan studi banding ke Manado dan Jepang untuk mengetahui secara langsung pembuatan ikan ‘kayu’. Sehingga dalam proses pembuatan nantinya tidak mengalami kendala yang berarti. Dengan keberhasilan ini bisa jadi UMM menjadi perguruan tinggi pertama kali yang berhasil dalam membuat ikan ‘kayu’. (Riz)
Dosen Perikanan Raih Penyaji Terbaik Penelitian Dikti
Pada bulan Desember 2009, Dikti melalui Kopertis Wilayah VII Jatim menyelenggarakan Seminar Penelitian Dosen Muda dan Studi Kajian Wanita. Dari sekitar lebih dari 300 judul penelitian, terpilih 100 judul yang akan diikutkan dalam Seminar Hasil Penelitian Dosen Muda dan Studi Kajian Wanita tahun 2009. Seminar yang pesertanya berasal dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur tersebut dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada 15 – 16 Desember 2009 di Hotel Pelangi Kota Malang. Dari hasil penilaian dewan juri terpilih dua orang peserta sebagai penyaji terbaik, salah satunya adalah Riza Rahman Hakim, S.Pi. dosen termuda di Jurusan Perikanan, Universitas Muhammadiyah Malang. Ia merasa bangga dengan prestasi yang diraihnya, ”Prestasi ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, namun juga untuk Jurusan Perikanan dan UMM”, tutur dosen yang pernah menjadi Kepala Laboratorium Perikanan ini. Di balik semua itu, Riza juga memiliki strategi tersendiri dalam menyajikan hasil penelitiannya. ”Percaya diri dan mampu mengkomunikasikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami audiens, itulah kuncinya”, ungkap dosen yang juga pernah meraih Juara I dalam Pelatihan TOT for Entrepreneurship, yang diselenggarakan oleh Dikti dan Universitas Ciputra pada tahun 2008 silam. Seminar Hasil Penelitian kali ini merupakan kesempatan pertama yang diikutinya, setelah setahun sebelumnya juga mendapat dana hibah penelitian Dikti, namun belum terpilih untuk diseminarkan. Ia berharap prestasi ini mampu mendorongnya untuk meraih prestasi yang lebih tinggi lagi. (Riz)