Perikanan UMM Lestarikan Mata Air, Mahasiswa Perikanan UMM Gelar “Umbulan Blue Action” di Sumber Umbulan

Lestarikan Mata Air, Mahasiswa Akuakultur UMM Gelar "Umbulan Blue Action" di Sumber Umbulan

MALANG – Kelestarian ekosistem air menjadi isu krusial di tengah perubahan iklim global saat ini. Menyadari hal tersebut, puluhan mahasiswa Program Studi Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025 mengambil langkah nyata melalui aksi lingkungan bertajuk “Umbulan Blue Action”. Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 21 Januari 2025 ini, difokuskan pada pemulihan ekosistem di kawasan wisata Sumber Umbulan, Malang. Aksi ini merupakan bagian dari implementasi poin-poin Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek perlindungan ekosistem perairan. Di bawah arahan dan bimbingan langsung dari Bapak Rindya Fery Indrawan, S.Pi., MP., para mahasiswa tidak hanya belajar secara teoretis di kelas, tetapi juga mempraktikkan ilmu konservasi langsung di lapangan. Restorasi Ekosistem: Dari Penghijauan hingga Restocking Ikan Kegiatan utama dalam “Umbulan Blue Action” mencakup dua agenda vital, yaitu penanaman bibit pohon dan penebaran benih ikan (restocking). Penanaman pohon dilakukan secara strategis di sekeliling sumber mata air. Langkah ini diambil untuk memperkuat struktur tanah guna mencegah erosi yang dapat mengakibatkan pendangkalan sumber air, sekaligus berfungsi sebagai daerah resapan air yang alami. Di sisi lain, penebaran berbagai jenis ikan dilakukan di aliran perairan Sumber Umbulan. Upaya ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan rantai makanan dan meningkatkan biodiversitas di dalam air. Dengan meningkatnya kualitas ekosistem perairan, diharapkan sumber daya alam tersebut tetap dapat memberikan manfaat ekonomi dan ekologi yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. Mengenal Potensi Lokal Sumber Umbulan Pemilihan lokasi di Sumber Umbulan juga didasari oleh status kawasan ini sebagai destinasi wisata alam yang sedang berkembang. Objek wisata ini memiliki keunikan berupa dua akses masuk yang memudahkan wisatawan. Akses Desa Ngenep: Menawarkan pengalaman melintasi pekarangan rumah warga dan hamparan persawahan yang asri. Area ini juga dilengkapi dengan lahan parkir motor yang luas dan teduh di bawah pepohonan. Akses Desa Lang-lang: Menyediakan kemudahan akses bagi pengunjung karena lokasi parkirnya yang berada tepat di pinggir jalan utama. Kondisi geografis yang strategis ini menjadikan Sumber Umbulan sebagai aset penting yang harus dijaga kebersihannya dari sampah maupun kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia. Harapan untuk Masa Depan Melalui kegiatan “Umbulan Blue Action”, mahasiswa Akuakultur UMM berharap dapat memantik kesadaran kolektif masyarakat lokal maupun pengunjung mengenai pentingnya menjaga hulu sungai dan mata air. Kontribusi nyata ini bukan sekadar tugas akademik, melainkan bentuk pengabdian untuk memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat menikmati air bersih dan ekosistem yang sehat. “Kami berharap aksi kecil ini memberikan dampak besar secara jangka panjang, baik bagi struktur tanah di sekitar sumber maupun bagi populasi ikan yang ada di sini,” pungkas salah satu mahasiswa penyelenggara di sela-sela kegiatan. (Humas/sang)

Bandeng Naik Kelas Menuju Panggung Blue Food Global

Transformasi dari Tambak ke KJA Laut

BARU saja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merilis capaian sektor kelautan dan perikanan Indonesia Tahun 2025. Salah satunya adalah data tentang total produksi perikanan Tahun 2025 yang mencapai 18,64 juta ton (hingga Tri Wulan III). Produksi ini meningkat 2,19ri periode yang sama tahun sebelumnya. Jika ditotal hasil produksi dari perikanan budidaya termasuk rumput laut adalah 13,21 juta ton dan perikanan tangkap 5,43 juta ton. Tentu ini sebuah capaian yang baik, disaat ancaman krisis iklim dan menyusutnya lahan daratan, dunia mulai menoleh ke arah samudera/laut. Kemudian muncul sebuah konsep pangan masa depan yang disebut sebagai Blue Food (pangan biru). Diantara sumber Blue Food lokal yang dimiliki Indonesia adalah ikan bandeng (Chanos chanos), yang jumlah produksinya di Tahun 2024 mencapai 792.863,87 ton untuk budidaya pembesaran (KKP, 2025). Selama ini bandeng dicitrakan sebagai komoditas yang ‘merakyat’ dan tradisional, namun di sinilah terdapat peluang besar untuk memimpin revolusi pangan Indonesia, dengan satu syarat bandeng harus ‘naik kelas’. Mengapa Blue Food? Konsep Blue Food merujuk pada pangan yang berasal dari sumber daya perairan, baik laut, sungai, maupun danau, yang diproduksi secara berkelanjutan. Keunggulan pangan biru diantaranya adalah memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan protein hewani di darat, namun kaya akan nutrisi esensial seperti Omega-3, protein tinggi, dan mikronutrien yang krusial untuk mencegah stunting. Bagi Indonesia, bandeng bisa menjadi salah satu kandidat utama dalam peta jalan Blue Food nasional. Ikan ini memiliki daya tahan yang luar biasa terhadap perubahan lingkungan dan penyakit, terutama sifatnya yang euryhaline yakni memilki kemampuan hidup pada kisaran salinitas yang luas (0-45 ppt) Sayangnya, citra bandeng seringkali terjebak dalam batas-batas tambak pesisir yang konvensional. Begitu pula terdapat faktor penghambat untuk bersaing di pasar global, seperti bau lumpur, kontaminasi limbah di pesisir, hingga alih fungsi lahan mangrove. Di sinilah perlunya teknologi Keramba Jaring Apung (KJA) laut hadir sebagai solusi transformatif. Transformasi dari Tambak ke KJA Laut Memindahkan budidaya bandeng dari tambak pesisir ke laut lepas menggunakan sistem KJA adalah langkah besar untuk membuat bandeng naik kelas. Keunggulan budidaya bandeng di KJA laut adalah kualitas lingkungan hidup yang lebih baik karena sirkulasi air terjadi secara alami dan berkelanjutan dari arus laut, bisa padat tebar tinggi hingga 125 ekor per m3 sampai panen, tanpa daya listrik, serta tanpa perlu treatment air secara khusus seperti pemupukan maupun pemberian probiotik. Hasilnya juga cukup signifikan. Pertama, masalah klasik bau lumpur/tanah yang sering dikeluhkan konsumen bisa hilang sepenuhnya, karena ikan tidak lagi bersentuhan dengan substrat dasar tambak. Kedua, kandungan nutrisi bandeng laut cenderung lebih baik karena mereka hidup di air dengan salinitas yang stabil dan kaya oksigen. Hal ini diperkuat oleh hasil riset Hakim et al. (2025), yang menyebutkan bahwa kandungan protein bandeng dari budidaya di KJA laut sebesar 40,96%. Kadar protein ini lebih tinggi dari bandeng hasil budidaya di tambak sebesar 24,18% (Malle et al, 2019). Ketiga, densitas atau padat tebar yang lebih tinggi namun tetap higienis. Ini berarti meningkatkan efisiensi produksi tanpa merusak ekosistem mangrove pesisir. Agar tetap dalam bingkai keberlanjutan, maka perlu diperhatikan juga daya dukung (carrying capacity) dari setiap perairan tempat KJA. Strategi Ekonomi dan Target Pasar Global Bagaimana agar benar-benar bandeng naik kelas? Jawaban singkatnya adalah bandeng tidak boleh hanya berakhir di pasar tradisional dengan harga rendah. Dengan sistem KJA laut mestinya bisa menaikkan citra bandeng, yang dulunya bandeng kualitas biasa menjadi bandeng premium. Kelebihan bandeng premium laut, seperti rasa yang lebih gurih dan tanpa bau lumpur, kandungan protein yang tinggi, sisik lebih bersih, ukuran seragam, dan tekstur daging yang lebih padat, bisa dijadikan standar untuk memenuhi pasar ekspor. Selama ini, pasar internasional juga sangat ketat mengenai standar keamanan pangan dan keberlanjutan. Budidaya di laut lepas bisa memberikan kendali lebih baik terhadap kebersihan produk. Jika dibarengi dengan sertifikasi budidaya berkelanjutan, bandeng KJA laut Indonesia bisa bersaing dengan komoditas ikan ekspor lainnya. Ini bukan sekadar mimpi, namun ini adalah peluang ekonomi yang bisa meningkatkan devisa negara sekaligus mengangkat derajat hidup para pembudidaya ikan. Di samping itu, transformasi ini juga membuka peluang industri hilir. Bandeng laut yang berkualitas tinggi adalah bahan baku sempurna untuk produk olahan premium, mulai dari bandeng tanpa duri kualitas ekspor hingga produk ready to cook (siap masak) yang bisa menembus pasar supermarket global. Tantangan dan Sinergi Kebijakan Pemindahan budidaya di tambak ke sistem KJA laut tentu saja bukan tanpa tantangan, di antaranya kebutuhan modal untuk infrastruktur KJA yang tahan ombak, ketersediaan bibit unggul yang seragam (sebaiknya benih yang ditebar minimum ukuran 10 cm), hingga logistik pakan yang berkualitas. Selain itu, pemerintah perlu memastikan tata kelola ruang laut melalui Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Hal ini untuk menghindari adanya kawasan budidaya yang berbenturan dengan jalur transportasi laut atau kawasan konservasi pariwisata. Pengembangan bandeng premium laut ini juga memerlukan dukungan riset dari akademisi dan pendampingan teknologi bagi pembudidaya lokal. Untuk menghindari agar teknologi ini tidak hanya dinikmati oleh korporasi besar, maka skema kemitraan antara pengusaha dan kelompok pembudidaya kecil harus dibentuk agar kesejahteraan yang dihasilkan dari laut bisa dirasakan secara merata. Menjadikan bandeng naik kelas melalui sistem KJA laut bukanlah sesuatu yang mustahil, karena negara kita sejatinya memilki semua kekuatan untuk mewujudkannya. Inilah saatnya bersinergi untuk membawa bandeng Indonesia bertransformasi dari pangan lokal menjadi primadona Blue Food global.