Dosen Perikanan UMM dan Dinas Perikanan Perkuat Ketahanan Pangan di RW 04 Wagir Lewat Sistem RAS

WAGIR, MALANG – Sektor perikanan di wilayah Kecamatan Wagir terus didorong menuju modernisasi. Bertempat di balai pertemuan RW 04, Desa Wagir, Dinas Perikanan Kabupaten Malang berkolaborasi dengan Program Studi Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) intensif mengenai budidaya ikan nila dengan Sistem RAS (Recirculating Aquaculture System), Kamis (29/01/2026). Hilirisasi Riset Kampus ke Masyarakat Kegiatan ini menjadi wadah bagi akademisi Perikanan UMM untuk melakukan hilirisasi teknologi hasil riset kepada warga. Penggunaan sistem RAS ditekankan sebagai solusi budidaya di lahan sempit dengan efisiensi pakan yang tinggi. “Kami membawa keahlian teknis dari kampus untuk memastikan masyarakat dapat menerapkan biosekuriti dan manajemen kualitas air yang terukur. Dengan RAS, produktivitas ikan nila bisa meningkat berkali-kali lipat dibanding metode tradisional,” jelas perwakilan tim ahli UMM di hadapan para peserta. Inovasi Teknologi RAS: Solusi Lahan Sempit dan Minim Air Dalam sesi sosialisasi tersebut, tim Dosen Perikanan UMM menekankan bahwa teknologi RAS bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan di tengah semakin terbatasnya sumber daya air. Melalui sistem ini, air kolam tidak dibuang, melainkan disirkulasikan kembali melalui serangkaian filter biologis dan mekanis untuk menjaga kualitasnya tetap optimal bagi pertumbuhan ikan. Sinergi Pemerintah dan Akademisi Perwakilan dari Dinas Perikanan Kabupaten Malang menyatakan bahwa pemilihan lokasi di Wagir sangat strategis untuk menjadi percontohan kampung perikanan cerdas (smart fishery village). Keterlibatan Perikanan UMM sebagai mitra strategis memberikan jaminan bahwa warga mendapatkan pendampingan berbasis data dan sains yang kuat. “Kami ingin warga RW 04 Wagir tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor utama dalam kemandirian pangan. Dengan sistem RAS, budidaya ikan nila bisa dilakukan di belakang rumah tanpa perlu khawatir bau atau penggunaan air yang boros,” ungkap tim penyuluh di lokasi. Melalui kegiatan bimtek ini, diharapkan muncul kelompok-kelompok pembudidaya baru yang mampu mengoperasikan sistem RAS secara mandiri. Pihak Perikanan UMM juga berkomitmen untuk terus memantau perkembangan teknis di lapangan, memastikan bahwa instalasi yang dibangun nantinya benar-benar produktif dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Wagir. (Humas/Sang)
Perikanan UMM Dukung SDGs, Mahasiswa Perikanan UMM Sulap Sampah Plastik Jadi Ecobrick di Kota Batu

(Dokumentasi pribadi) BATU – Masalah sampah plastik yang kian meningkat di kawasan permukiman menuntut solusi kreatif dan berkelanjutan. Menanggapi hal tersebut, sejumlah mahasiswa Program Studi Akuakultur yang tergabung dalam PERIKANAN UMM melaksanakan aksi nyata bertajuk “Pemanfaatan Ecobrick Sebagai Solusi Pengurangan Sampah Plastik” di Desa Dadaprejo, Kota Batu, pada Senin (26/1/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R Dadaprejo Mandiri, Kecamatan Junrejo ini merupakan bagian dari implementasi mata kuliah Wawasan Berkelanjutan. Sebanyak 16 mahasiswa PERIKANAN UMM angkatan 2025 turun langsung untuk berkolaborasi dengan petugas kebersihan dalam menangani timbulan sampah rumah tangga yang terus membengkak. Ketua Pelaksana kegiatan, Daffa Rayhan Zaky, menjelaskan bahwa fokus utama aksi ini adalah mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs) poin 15 mengenai perlindungan ekosistem daratan. Melalui metode ecobrick, sampah plastik yang sulit terurai dipadatkan ke dalam botol bekas hingga menjadi material kuat menyerupai bata atau balok. Program ini mengolah sampah plastik menjadi ecobrick dengan cara memasukkan plastik kering yang sudah dipilah ke dalam botol hingga padat. Inovasi ini bertujuan mencegah pencemaran lingkungan, memberikan nilai estetika pada area TPST, dan efektif mengurangi volume sampah ke TPA. Pembina kegiatan, Rindya Fery Indrawan, S.Pi., MP, berharap aksi yang dilakukan mahasiswa PERIKANAN UMM ini tidak hanya menjadi tugas kuliah semata, namun mampu mengedukasi masyarakat sekitar mengenai pentingnya disiplin pemilahan sampah dari sumbernya. “Kehadiran mahasiswa di lapangan juga bertujuan untuk membantu meringankan beban kerja rutin petugas di TPST. Kami berharap ini menjadi langkah jangka panjang dalam menciptakan lingkungan permukiman di Kota Batu yang lebih sehat, bersih, dan lestari,” tutur Rindya. Dengan aksi ini, mahasiswa PERIKANAN UMM membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup harus dilakukan secara menyeluruh, mencakup aspek daratan guna menjaga kualitas ekosistem air yang menjadi fokus utama studi mereka. (Humas/sang)