Ikan Sapu-Sapu Ancam Ekosistem: Pakar UMM Dorong Pemanfaatan Pakan Ternak Potensi kolapsnya rantai makanan di perairan darat Indonesia kini menjadi ancaman nyata akibat invasi ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis). Pakar perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rindya Ferry Indrawan, S.Pi., MP., menegaskan bahwa ikan yang awalnya dianggap sepele ini telah berubah menjadi ancaman ekologis yang serius karena kemampuan adaptasinya yang ekstrem. Tiga Jalur Perusakan Ekosistem Menurut Ferry, ikan sapu-sapu merusak keseimbangan alam melalui tiga cara utama: Kompetisi Pakan: Merebut nutrisi penting (alga dan mikroorganisme dasar) yang merupakan makanan utama ikan lokal. Dominasi Biomassa: Reproduksi yang masif memungkinkan mereka menguasai ruang hidup dengan sangat cepat. Kerusakan Fisik: Kebiasaan menggali lubang di tepian sungai memicu erosi parah dan menghancurkan tempat pemijahan alami ikan lokal. Karakter "Super Survivor" Ikan ini sangat sulit ditekan populasinya karena memiliki perlindungan alami berupa kulit keras dan sirip berduri tajam, sehingga predator seperti biawak pun enggan memangsanya. Selain itu, mereka mampu bertahan di air dengan kadar oksigen minimal dan bersifat omnivora oportunistik—saat pakan utama habis, mereka akan memangsa telur dan larva ikan lokal seperti nilem, tawes, wader, dan betok. Langkah Taktis dan Solusi Ekonomis Laboratorium Perikanan UMM telah mengambil langkah nyata melalui riset pemijahan dan restocking ikan lokal secara berkala di Kali Brantas. Namun, upaya akademisi saja tidak cukup. Ferry menyarankan solusi komprehensif berupa: Penangkapan Massal: Untuk menekan lonjakan biomassa di sungai. Pemanfaatan Ekonomis: Mengolah ikan sapu-sapu menjadi pakan ternak berprotein tinggi, sehingga keberadaannya tidak lagi dibiarkan merusak, melainkan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Ikan Sapu-Sapu Ancam Ekosistem: Pakar UMM Dorong Pemanfaatan Pakan Ternak

Potensi kolapsnya rantai makanan di perairan darat Indonesia kini menjadi ancaman nyata akibat invasi ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis). Pakar perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rindya Ferry Indrawan, S.Pi., MP., menegaskan bahwa ikan yang awalnya dianggap sepele ini telah berubah menjadi ancaman ekologis yang serius karena kemampuan adaptasinya yang ekstrem.

Tiga Jalur Perusakan Ekosistem

Menurut Ferry, ikan sapu-sapu merusak keseimbangan alam melalui tiga cara utama:

Karakter “Super Survivor”

Ikan ini sangat sulit ditekan populasinya karena memiliki perlindungan alami berupa kulit keras dan sirip berduri tajam, sehingga predator seperti biawak pun enggan memangsanya. Selain itu, mereka mampu bertahan di air dengan kadar oksigen minimal dan bersifat omnivora oportunistik—saat pakan utama habis, mereka akan memangsa telur dan larva ikan lokal seperti nilem, tawes, wader, dan betok.

Langkah Taktis dan Solusi Ekonomis

Laboratorium Perikanan UMM telah mengambil langkah nyata melalui riset pemijahan dan restocking ikan lokal secara berkala di Kali Brantas. Namun, upaya akademisi saja tidak cukup. Ferry menyarankan solusi komprehensif berupa:

  1. Penangkapan Massal: Untuk menekan lonjakan biomassa di sungai.

  2. Pemanfaatan Ekonomis: Mengolah ikan sapu-sapu menjadi pakan ternak berprotein tinggi, sehingga keberadaannya tidak lagi dibiarkan merusak, melainkan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.