
Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) kini bukan lagi sekadar penghuni akuarium, melainkan spesies invasif yang memicu aksi perburuan massal di berbagai daerah. Pakar Perikanan UMM, Rindya Fery Indrawan, menjelaskan bahwa ikan ini adalah “perusak sistematis” bagi perairan darat kita.
Faktor Utama Ancaman
Ada lima alasan mengapa keberadaan ikan ini sangat merusak menurut pakar:
-
Ketimpangan Kompetisi: Mereka merebut sumber pangan utama seperti alga dan mikroorganisme dari ikan lokal.
-
Ledakan Populasi: Pertumbuhan yang sangat cepat mendominasi ruang hidup di sungai.
-
Kerusakan Habitat: Kebiasaan menggali lubang di pinggiran sungai memicu erosi dan merusak lokasi pemijahan ikan lain.
-
Predator Oportunistik: Memangsa telur dan larva ikan lokal, serta menyebabkan telur tertimbun sedimen akibat aktivitas mereka di dasar sungai.
-
Daya Tahan Luar Biasa: Memiliki kulit keras dan sirip berduri sehingga minim predator alami, serta mampu bertahan di air tercemar dengan kadar oksigen rendah.
Dampak dan Langkah Penyelamatan
Dominasi ini mengancam keberlangsungan ikan endemik seperti wader, nilem, tawes, dan betok. Jika dibiarkan, spesies asli ini terancam punah secara lokal.
Sebagai respons, Laboratorium Perikanan UMM mengambil langkah strategis melalui:
-
Restocking: Melakukan pemijahan ikan wader secara berkala untuk dilepaskan ke Kali Brantas guna memulihkan populasi.
-
Pemanfaatan Ekonomis: Mendorong pengolahan ikan sapu-sapu menjadi tepung ikan atau pakan ternak. Namun, perlu dicatat bahwa ikan ini tidak disarankan untuk konsumsi manusia jika berasal dari air yang tercemar logam berat.