Sektor Kelautan sebagai Pintu Ekonomi Daerah

Oleh: Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, MS Negara kepulauan Indonesia memiliki sumber daya perairan yang cukup luas, baik sumber daya perairan laut maupun sumber daya perairan darat. Luas total kedua perairan tersebut tercatat sebesar dua per tiga dari luas negara republik ini. Menurut Saanin (1960), perairan darat (inland waters) Indonesia pada zaman penjajahan Belanda diartikan sebagai perairan yang berada di atas daratan, mulai dari batas air surut terendah sampai ke daerah pedalaman (pegunungan). Dengan demikian perairan darat tersebut meliputi sebagian perairan pantai, perairan payau, dan perairan tawar. Dengan adanya perkembangan teknologi budidaya pantai/laut, maka pada saat ini perairan darat hanyalah diartikan sebagai perairan yang meliputi perairan payau dan perairan tawar. Sarnita et al. (1999) menggunakan istilah “perairan daratan pedalaman” sebagai terjemahan dari istilah “inland waters” yang digunakan oleh Food Agriculture Organization (FAO). Luas perairan darat tersebut diperkirakan mencapai sekitar 54 juta ha. Perairan tawar dibagi menjadi perairan umum open waters dan perairan budidaya air tawar. Yang dimaksud dengan perairan umum adalah semua badan air yang bukan badan air yang digunakan untuk usaha budidaya ikan air tawar (kolam, tambak dan sawah). Dengan demikian perairan umum meliputi danau, waduk (danau buatan), sungai, rawa banjiran (flood plains) dan genangan air lainnya. Perairan umum tersebar di seluruh kepulauan Indonesia dengan karakteristik ekologi dan perikanan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Selain kegiatan perikanan, perairan umum dimanfaatkan pula oleh berbagai sektor pemanfaat seperti pembangkit tenaga listrik, irigasi pertanian, pasokan air minum, industri, navigasi, pariwisata, dan pembuangan limbah. Aset Nasional Sumber daya perikanan perairan umum merupakan suatu sumber daya alam yang bersifat dapat pulih (renewable), akses yang terbuka (open access), dan milik umum (common property). Sifat-sifat tersebut membuka peluang terjadinya eksploitasi berlebih sehingga sumber daya alam tersebut harus dikelola secara rasional agar aset nasional tersebut menjadi lestari. Di lain sisi keharusan untuk mengelola secara bijaksana potensi tersebut   dikarenakan sumber daya alam itu merupakan kekayaan nasional yang bersifat terbuka bagi seluruh rakyat di negara ini. Potensi perikanan perairan umum Indonesia cukup besar. Namun upaya pemanfaatan dan pengelolaannya masih belum optimal, meskipun usaha penangkapan ikan telah sejak dulu dilakukan oleh masyarakat nelayan di sekitarnya. Luas seluruh lahan perairan umum tercatat sekitar 13,85 juta ha, terdiri dari 0,05 juta danau buatan (man-made lake), 1,8 juta ha danau alam (natural lake) serta 12,0 juta ha sungai dan rawa banjiran (flood plain). Luas lahan perairan umum ini masih berubah-ubah dengan dibentuknya waduk-waduk (danau buatan) di satu pihak dan reklamasi lahan rawa banjiran di lain pihak. Potensi produksi perikanan perairan umum, yang sebagian terbesar terdapat di Kalimantan, ditaksir sebesar 0,8 – 0,9 juta ton (Samita, 1986). Mengingat estimasi potensi produksi tersebut dilakukan sekitar 40 tahun yang lalu, maka pada saat ini potensi produksi tersebut harus sudah diestimasi kembali. Keharusan untuk melakukan reestimasi potensi sumber daya perikanan di perairan umum di samping disebabkan karena kemungkinan adanya perubahan biologi perikanan yang besar selama kurun waktu 40 tahun tersebut, juga disebabkan karena luas perairan umum pada saat ini berubah banyak. Seperti kita ketahui sejumlah satu juta ha lahan perairan umum (sungai dan rawa banjiran) di Kalimantan Tengah baru-baru ini telah diubah menjadi lahan pertanian. Hal serupa terjadi pula di Jawa dalam skala yang jauh lebih kecil. Beberapa danau kecil di Jawa Barat telah direklamasi menjadi daerah permukiman atau fungsinya dialihkan menjadi daerah rekreasi, rumah makan, atau lainnya. Beberapa perairan umum lainnya luasnya berkurang akibat kekeringan yang berkepanjangan ataupun karena tingkat pendangkalan (sedimentasi/siltasi) yang cukup tinggi. Penghasil Ikan Hias Di samping mempunyai potensi yang cukup besar sebagai sumber daya ikan konsumsi, perairan umum juga berpotensi sebagai penghasil ikan hias. Pada saat ini terdapat 2 jenis ikan hias air tawar yang menjadi komoditas ekspor utama, yaitu ikan botia (Botia macracanthus dan Botia sp.) dan ikan arwana (Sclerophagus formosus). Ikan arwana merah (red dan super red arwana) terutama dihasilkan oleh perairan umum di Kalimantan Barat. Sedangkan ikan botia dihasilkan dari perairan umum di Jambi, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Ikan arwana perak kehijauan (silver green arwana), arwana kuning (golden arwana) banyak terdapat di perairan umum di Sumatra, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Sementara itu, di perairan umum sekitar Merauke (bagian selatan Irian Barat) banyak ditemukan ikan arwana perak (silver arwana, Sclerophages jardini). Selain ikan botia dan ikan arwana, beberapa jenis ikan seluang (Rasbora spp.) juga merupakan jenis ikan hias air tawar yang banyak dihasilkan oleh perairan umum di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Di perairan umum di Kalimantan dan Sumatera, selain ikan botia dan seluang, anak ikan tilan (Mastocembellus sp.) dan gabus/toman (Channa spp.) juga merupakan jenis ikan hias air tawar yang penampilannya cukup menarik. Di perairan umum di Irian Jaya ditemukan jenis ikan hias yang endemik, yaitu ikan pelangi (rainbow, Melanotaenia ayamaruensis). Jenis ikan hias ini terutama banyak tertangkap di Danau Ayamaru, Kabupaten Sorong, dan sedikit tertangkap di danau-danau lainnya di Irian Jaya seperti di Danau Sentani dan Danau Paniai. Sebagai akibat dari penangkapan yang berlebihan dan sampai batas tertentu akibat adanya pencemaran, salah satu jenis ikan hias air tawar, yaitu ikan ketutung (bala shark, Balantiocheilus melanopterus), yang biasanya banyak dihasilkan oleh perairan umum di Sumatera, pada saat ini sudah sangat jarang sekali tertangkap (hampir punah). Ikan hias ini dulunya merupakan jenis ikan hias air tawar yang banyak diekspor ke luar negeri dan hanya di Kalimantan Tengah saja nelayan setempat masih banyak menangkap jenis ikan ini. Potensi lainnya dari sumber daya perikanan perairan umum adalah potensi plasma nutfah ikan dan biota air lainnya. Tidak kurang dari 1.100 jenis ikan air tawar terdapat di perairan umum di Indonesia. Perairan umum Kalimantan memiliki tidak kurang dari 600 jenis ikan. Di Kawasan Suaka Danau Sentarum, tercatat lebih dari 200 jenis ikan air tawar. Beberapa jenis ikan dari perairan umum di Kalimantan dan Sumatera seperti ikan lampam (Barbus schwanefeldi), tengadak (Barbus bulu), patin kunyit (Pangasius kunyit), baung (Mystus spp.), lais (Cryptopterus spp.), dan ikan betutu (Oxyeleotris marmoratus) berpotensi untuk dikembangkan menjadi komoditas ikan budidaya. Bahkan satu jenis ikan dari perairan umum, yaitu ikan jelawat (Leptobarbus hoeveni), sudah sejak lama berhasil ditangkarkan. Kekayaan plasma nutfah tersebut merupakan modal utama untuk menghasilkan spesies unggul melalui pengembangan rekayasa genetiknya. Di samping kaya akan plasma

Outlook Perikanan 2012 : Industrialisasi Perikanan Budidaya

Beberapa tahun terakhir, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menempatkan sub sektor perikanan budidaya sebagai primadona pembangunan perikanan nasional. Hal ini tidak terlepas dari besarnya potensi perikanan budidaya yang belum digali dan dimanfaatkan secara optimal. Disisi lain akuakultur Indonesia saat ini juga membutuhkan sentuhan industrialisasi dalam berbagai aspek. Industrialisasi yang dimaksud meliputi dukungan kebijakan, infrastruktur, permodalan, teknologi, dari hulu sampai hilir. Konsep ini dibahas lebih mendalam dalam acara seminar Outlook Perikanan yang bertema “Industrialisai Perikanan: Peluang dan Tantangan Bagi Usaha Budidaya” di di Hotel Menara Peninsula Jakarta (18/1). Seminar yang diadakan untuk yang keempat kalinya ini menghadirkan Men KP (Menteri Kelautan dan Perikanan) Sharif Cicip Sutardjo sebagai keynote speaker sekaligus membuka seminar. Acara tahunan ini terselenggara atas kerjasama TROBOS dengan Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT). Dalam sambutannya Cicip mengemukakan, konsep Industrialisasi kelautan dan perikanan sendiri merupakan sebuah proses perubahan sistem produksi hulu dan hilir. Tujuannya untuk meningkatkan nilai tambah, produktivitas, dan skala produksi sumberdaya kelautan dan perikanan, melalui modernisasi yang didukung dengan arah kebijakan terintegrasi antara kebijakan ekonomi makro, pengembangan infrastruktur, sistem usaha dan investasi, Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), serta SDM (Sumber Daya Manusia) untuk kesejahteraan rakyat. Catatan Kinerja 2011 Berdasarkan data KKP, produksi perikanan budidaya menunjukkan grafik positif berupa kenaikan signifikan, dari produksi sebesar 4,78 juta ton pada 2010 meningkat menjadi 6,97 juta ton pada 2011. Dalam presentasinya, Ketut Sugama Direktur Jenderal Perikanan Budidaya menyatakan pada 2012 perikanan budidaya diharapkan menyumbang lebih dari 50 % pencapaian target nasional. Menurut Ketut, pencapaian produksi paling besar yaitu untuk budidaya ikan kerapu yang mencapai 12,4 ribu ton atau 138 % dari target 9 ribu ton pada 2011. Secara umum komoditas perikanan budidaya (seperti rumput laut, ikan patin, lele, mas, nila, dan gurami) produksinya lebih tinggi dari 2010. Hanya untuk komoditas udang (vannamei dan windu) terlihat angka produksi yang lebih rendah yaitu pada 2010 mencapai 375 ribu ton, sementara sampai Oktober 2011 hanya 259 ribu ton.  Ketut optimis menargetkan angka produksi budidaya di 2012 akan mencapai 9,4 juta ton. Menyoroti kinerja perikanan 2011, Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Rokhmin Dahuri yang hadir sebagai pembicara menuturkan, saat ini masih sekitar 805 tambak rakyat d ikawasan pantura dalam keadaan mangkrak di Pantura (Pantai Utara Jawa). “Revitalisasi tambak udang jangan hanya tambak modern saja tetapi juga tugas pemerintah juga merevitalisasi tambak rakyat,” tegasnya. Tidak hanya itu, pengelolaan, pengolahaan produk perikanan juga harus diimbangi degan ilmu pengetahuan dan teknologi yang modern. Rokhmin mengutarakan, total potensi produksi akuakultur Indonesia sebesar 57,7 juta ton/tahun dan produksi 5,4 juta ton (9%). Dengan potensi produksi akuakultur terbesar di dunia dan permintaan terhadap berbagai jenis produk akuakultur yang terus meningkat, lanjut Rokhmin, mestinya perikanan budidaya bisa menjadi primemover (penghela) yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi berkualitas secara berkelanjutan untuk mewujudkan Indonesia yang maju, adil-makmur, dan mandiri. Sementara dari kacamata pelaku budidaya udang, Ketua Shrimp Club Banyuwangi Hardi Pitoyo mengungkapkan, total produksi udang 2011 untuk tambak semi intensif dan intensif dalam grup SCI sekitar 116.800 ton. “Konsistensi pemerintah dalam melakukan larangan impor berdampak pada meningkatnya gairah petani tambak dalam meningkatkan produksi dan melakukan revitalisalisasi tambaknya secara alamiah,” kata Hardi. Hardi berharap untuk 2012 budidaya udang nasional dapat mempertahankan kemandirian produksi. “Dengan kata lain no import,” tegas Hardi. Ia menambahkan, pada 2011 di pasar Amerika Serikat, ekspor udang Indonesia sudah diperingkat 2. “Pencapaian itu merupakan murni hasil produksi sendiri dengan upaya yg lebih serius rasanya akan mudah jadi produsen udang nomor 1 dunia,” kata Hardi. Lalu dari sisi pelaku pengolahan, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan (AP5I) Thomas Darmawan mengatakan, kapasitas pengolahan udang (UPU) turun sejak 2009 karena produksi udang turun. “Terjadi rasionalisasi di industri pengolahan udang/ikan bila pasokan bahan baku mahal, tidak lancar dan stabil sehingga yang kekurangan bahan baku lebih baik tidak beroperasi sementara atau tutup sama sekali, belum lagi utilitas kapasitas industri pengolahan udang/ikan masih kurang dari 40 % dengan utilitas bahan baku turun terus dari 59,33 % (2009) dan 57 % (2010),” jelasnya. Dari sisi peluang pasar, Direktur Jenderal Pengolahan, Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Viktor Nikijuluw melaporkan peluang pasar domestik untuk ikan sangat tinggi. Hampir 40 % ikan laut (fillet kakap, cucut, udang, layur, tongkol, layang, kembung, lemuru, tenggiri) dan 60 % ikan air tawar (gurami, mujair, patin, lele, nila, mas, udang, dan lainnya) dipasarkan ke Hotel (0,15 juta ton/th), Katering – Jasaboga (1,5 juta ton/th – rutin dan 0.44 juta ton/th – pesta ) dan Restoran (1 juta ton/th). Sedangkan seperti ikan selar, kembung, lele, mujair/nila, kekerangan dan mas lebih banyak di warung dan resto (10 juta ton/th). Sumber: http://www.trobos.com Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Februari 2012

Filosofi Rujak dalam Menulis

Sutawi menunjukkan salah satu penghargaan yang diraihnya dari menulis. Menulis itu seperti membuat rujak. Aktivitas mengumpulkan bahan, mengupas, mengiris-iris, mengumpulkan dan membumbui dalam penulisan itu seperti mengumpulkan materi tulisan, membaca, mengambil bagian-bagian tertentu, merangkai kemudian membumbui. “Karakter sebuah rujak ada dibumbunya. Demikian juga tulisan”, ujar Sutawi, mahasiswa program doktor Agribisnis Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (FPt-UB). Pada tahun 2010, Sutawi yang juga Dosen pada Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini telah meraih tiga prestasi pada kejuaraan Indonesia Menulis yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Kemdiknas RI). Ketiga prestasi tersebut adalah juara II Sayembara Penulisan Buku Pengayaan 2010 yang diselenggarakan Pusat Perbukuan Kemdiknas RI, Juara I Lomba Karya Tulis Pendidikan Karakter di Kemdiknas RI serta serta Juara I Lomba Karya Tulis Keaksaraan Kemdiknas RI. Untuk ketiga prestasi ini saja, ia telah mendapatkan total hadiah Rp. 44 juta dari Kemdiknas RI. Ayah tiga orang putera ini tergolong produktif. Mulai menulis pada 1990 saat mengawali karier sebagai dosen, hingga saat ini ia telah menghasilkan 300 karya tulis. Dari jumlah tersebut, kebanyakan merupakan artikel populer. “Paling tidak satu tulisan dimuat media tiap bulan”, ungkapnya diwawancarai PRASETYA Online hari ini (17/12). Kesukaannya untuk menulis jenis artikel populer bukannya tanpa alasan. Menurutnya, tulisan ilmiah lebih fleksibel, mudah dibuat, dipublikasi, dibaca dan langsung dimanfaatkan orang maupun pihak terkait. Hal ini berbeda dengan membuat buku, yang menurutnya butuh pemikiran lebih panjang, sulit mencari penerbit serta pertimbangan teknis lain yang dirasanya lebih memberatkan. Karena itu, ia baru melahirkan empat buah buku saja dengan penerbit seperti Bayumedia dan UMM Press. Keseluruhan buku tersebut, kata dia, berisi tentang bidang keahliannya yakni Agribisnis Peternakan. Dengan filosofi membuat rujak, dalam menulis artikel populer ilmiah menurutnya butuh wawasan luas dengan berfikir “out of the box”. “Untuk menulis satu bidang artikel populer kita tidak perlu sangat ahli dalam bidang tersebut”, ujarnya. Lebih lanjut ia menyatakan, “saya bersedia membagi ketrampilan menulis kepada orang lain”. Karena itu, ia pun bersedia diundang dalam berbagai pelatihan menulis baik di kampus maupun lainnya. Kepada mahasiswanya pun, Sutawi mengaku selalu memberi tugas menulis. “Saya memang sedikit memaksa mahasiswa untuk mau menulis agar mereka terlatih”, terangnya. Di akhir wawancara, Sutawi pun menyemangati dengan semboyannya bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menulis”. “Daya saing Indonesia sangat rendah mungkin karena kita terbiasa berucap dan tidak terbiasa menulis. Padahal dengan berucap akan mudah hilang sementara tulisan akan bisa terbaca sampai anak cucu”, pungkasnya. [nok] Sumber: http://prasetya.ub.ac.id/berita.php/id/detail/1949

Desain pengelolaan Perikanan Madidihang (Thunnus albacares) di Perairan ZEEI Samudera Hindia Selatan Jawa Timur

Indonesia memiliki wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) di Samudera Hindia melalui alur ruaya Madidihang, dengan wilayah pengelolaan kode 71 (FAO 2007). Madidihang di Perairan Samudera Hindia habitatnya terdapat di lapisan campuran (mixed layer) dan termoklin, yaitu pada kedalaman 200-250 m Indonesia, wilayah tersebut, diantaranya berada di WPP 573. Namun demikian, status potensinya (stock) pada saat ini diperkirakan telah mengalami overfishing atau mendekati overfishing (IOTC 2011). Perkiraan ini didasarkan kepada hasil tangkapan dunia di wilayah tersebut, selama periode 2003-2006, yaitu dengan  rataan 464.000 ton sementara Maximum Sustainable Yield (MSY) diestimasi sekitar 300.000 ton, sehingga di masa yang akan datang keberlanjutannya sangat mengkhawatirkan (ISSF 2011). Guna kepentingan konservasi dan keberlanjutan, dalam konteks global pengelolaanya di atur oleh suatu organisasi perikanan regional, yaitu  Indian Organization Tuna Commision (IOTC). IOTC, pada tahun 2012 akan mengatur dan membagi kuota jumlah tangkapan yang diperbolehkan (Total Alowable Catch, TAC) untuk masing-masing negara anggota, termasuk Indonesia (IOTC 2011). Ketentuan lain yang harus dipatuuhi oleh Indonesia adalah ketetapan, pemberlakuan langkah dan tindakan yang berkaitan dengan penggunaan alat tangkap, metode penangkapan, jumlah upaya tangkap, musim penangkapan, musim tidak menangkap, moratorium, serta pembatasan ukuran ikan yang ditangkap. Apabila aturan ini tidak dipatuhi maka dianggap melakukan kegiatan penangkapan yang illegal, yang akan berdampak dalam pemasaran hasil (ekspor). Ketentuan tersebut selain membawa keuntungan juga menjadi permasalahan bagi nelayan Indonesia, karena nelayan Indonesia harus bersaing dengan nelayan-nelayan asing yang berteknologi tinggi sementara nelayan Indonesia pada umumnya berteknologi rendah, termasuk nelayan tuna Sendang Biru. Dalam rangka adaptasi terhadap aturan tersebut, dalam penelitian ini dilakukan evaluasi terhadap fishing ground, hasil tangkapan dan armada tangkap nelayan tuna Sendang Biru Kabupaten Malang. Berbagai antribut dianalisis, terutama yang berkaitan langsung dengan diimensi ekologi, disamping dimensi ekonomi, teknologi,sosial dan kelembagaan. Masing-masing antribut selanjutnya dinilai indeks keberlanjutannya, sehingga masing-masing diketahui pula nilai levarge-nya. Nilai ini, selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam menentukan kebijakan upaya perbaikan pada kegiatan perikanan tangkap Madidihang yang mengacu pada Code of Conduct for Responsible Fisheries (FAO 1995), yaitu pengelolaan yang mengacu pada konsep pengelolaan yang bertanggung jawab dan keberlanjutan. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap kondisi hydro-oceanografi fishing ground diperoleh hasil untuk suhu menegak, DO dan konsentrasi klorofil-a diperoleh gambaran sebagai berikut bahwa lapisan campuran terhadap pada kolom air antara 0-29 m pada musim barat dan 0-49 m pada musim timur, dengan suhu, DO dan konsentrasi klorofil-a rataan amsing-masing 26.36-28.85OC dan 24.32-28.72OC, 3.82-4.56 mg/l dan 4.02-4.69 mg/l serta 0.07-03.38 mg/l dan 0.14-5.96 mg/l. sedangkan lapisan termoklin pada musim barat terhadap pada kedalaman 30-149 m dan 50-199 m pada musim timur. Konsisi suhu dan DO pada masing-masing musim tersebut berada pada kisaran 13.26-28.17OC dan 13.51-28.21OC; 2.37-4.39 mg/l. berdasarkan pada korelasi silang antara suhu permukaan dengan CPUE diperoleh hubungan yang negatif, sedangkan antara krolofil-a dengan CPUE diperoleh hubungan yang positif artinya bahwa CPUE naik pada saat terjadinya peningkatan konsentrasi krolofil-a. Penggunaan rumpon oleh nelayan sekoci Sendang Biru, berperan penting sebagai alat bantu dalam penangkapan ikan tuna, karena kapal sekoci memiliki ukura kecil, yaitu panjang 16 m, lebar  3.5 m dan tinggi 1.2 m, sehingga tanpa keberadaan rumpon pada kondisi perairan Samudera Hindia yang ekstrem sulit untuk melakukan penangkapn. Manfaat rumpon bagi nelayan sekoci, diantaranya adalah (1) hasil tangkapan besar (2) biaya operasional relatif rendah, dan (3) memperpanjang masa tangkapan, dari 6 bulan menjadi 8-10 bulan, bahkan ada yang melaut sampai 12 bulan. Jenis ikan tuna yang tertangkap dominan adalah  Madidihang (36.71%). Tingginya hasil tangkapan di rumpon tersebut berdampak terhadap peningkatan jumlah armada sekoci, yaitu pada tahun 2001 sejumlah 77 unit meningkat menjadi 303 unit pada tahu 2010. Meningkatnya jumlah kapal sekoci tersebut menggambarkan bahwa secara ekonomis usaha penangkapan ikan tuna dengan menggunakan kapal sekoci menguntungkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis kelayakan, yaitu : R/C ratio dan profitability masing-masing berkisar antara 1.74-2.02 dan 58-94% dengan payback period selama 27 bulan. Hasil evaluasi nilai indeks keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya Madidihang, dimensi ekologi, ekonomi, dan teknologi masing-masing adalah 78.78%, 72.60%, 72.56% dan berkategori cukup berkelanjutan, sedangkan untuk dimensi sosial dan kelembagaan 39.44% dan 39.57% dengan kategori kurang berkelanjutan. Nilai indeks berkelanjutan multi dimensi menunjukan status cukup berkelanjutan, namun demikian perbandingan nilai keberlanjutan multidimensi sebarannya untuk indeks dari kelima dimensi tersebut tidak berimbang. Hal ini berarti bahwa kegiatan pemanfaatan sumber daya Madidihang di perairan ZEEI oleh nelayan sekoci pada masa yang akan datang keberlanjutannya mengkhawatirkan. Kestabilan nilai indeks keberlanjutan dapat terjaga apabila kegiatan usaha penangkapan Madidihang tersebut diadakan perbaikan atau penataan terhadap antribut-antribut sensitif, terutama pada dimensi sosial dan kelembagaan. keyword; Madidihang, rumpon, CPUE, keberlanjutan dan ZEEI DAVID HERMAWAN.  Desain pengelolaan Perikanan Madidihang (Thunnus albacares) di Perairan ZEEI Samudera Hindia Selatan Jawa Timur. Dibimbing oleh : MENNOFATRIA BOER, ROKHMIN DAHURI, WIDODO FARID MA’RUF dan  SUGENG BUDIHARSONO.

Menulis Artikel Berbuah Rp 10 Juta

MALANG – Dosen Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sutawi berhasil memperoleh penghargaan sebagai pemenang pertama dalam lomba penulisan artikel pendidikan. Karya yang ditulisnya berjudul Restorasi Keberadaban Bangsa melalui Pendidikan karakter. Atas prestasinya di ajang yang digelar Kementrian Pendidikan Nasional dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2010 itu, alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini pun mendapatkan hadiah uang tunai senilai Rp 10 Juta. “Sebenarnya yang terpenting bukanlah hadiahnya, tapi bagaimana bisa menyumbangkan pemikiran terhadap kemajuan pendidikan bangsa,” ungkapnya. Menariknya lagi, kemenangan dosen ini diperoleh karena artikelnya diterbitkan di Harian Malang Post edisi 20 Juni 2010. Karena syarat untuk ikut lomba adalah karya artikelnya dimuat di koran sehingga ia pun memilih koran Malang Post sebagai medianya. Beruntung ia berhasil menjadi juara dan mengalahkan peserta lainnya yang terdiri dari unsur masyarakat umum bahkan wartawan. Diakui pria kelahiran pati 22 April 1965 ini, menulis menjadi aktivitas terpenting untuknya. Bahkan ia berprinsip karena saya menulis saya ada, kalau dosen tidak menulis berarti ia tidak ada apa-apanya. Karena itulah ia menargetkan setidaknya dalam satu bulan ada tulisan yang bisa dihasilkan. Tak hanya terkait disiplin ilmu yang digelutinya saja, tapi bisa tentang berbagai hal. Tidak heran jika berbagai penghargaan dalam menulis pun bisa didapatkannya. Sedikitnya ia pernah lima kali menjadi juara nasional dalam menulis. Mulai dari tema perhubungan, PLN, dan lainnya. Menggali ide dalam menulis baginya bukan hal sulit. Asalkan banyak membaca, banyak melakukan pengamatan, dan juga diskusi maka menulis pun bisa menjadi mudah. Untuk diskusi ia mengaku biasa melakukannya dengan sang istri yaitu Daroe Iswatiningsih yang juga dosen di UMM. Menulis menurutnya ibarat orang membaut rujak. Untuk mencari bahannya maka harus banyak membaca, jika bahan sudah terkumpul maka harus dikupas yang menarik dan diiris bagian mana yang dipotong. Terakhir dibumbui dan dirangkum busapay enak. “Falsafah orang menulis itu seperti membuat rujak, walau materi atau bahannya sama yang penting bumbunya,” ucapnya. (oci/eno) Sumber: Malang Post, 22 Agustus 2010

Jurusan Perikanan Berhasil Membuat Ikan ‘Kayu’ di Sendang Biru

Sendang Biru merupakan salah satu daerah di Kabupaten Malang yang diketahui memiliki potensi ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) sangat besar. Potensi inilah yang mendorong Jurusan Perikanan untuk melakukan terobosan terbaru dalam pengolahan ikan cakalang di wilayah Sendang Biru. Melalui kerjasama dengan PT. Deho Canning Industry, pada tahun 2009 dibuatlah program Pemberdayaan Masyarakat Nelayan Sendang Biru Melalui Program Pembuatan Ikan Asap Cakalang (Katsuwonus Pelamis) Untuk Bahan Katsuobushi. Untuk merealisasikan program itu kemudian dibuatlah pabrik pengolahan ikan cakalang skala home industry. Pengolahan ikan cakalang ini berupa pembuatan ikan ‘kayu’, yang mana ikan cakalang tersebut diasap hingga bentuk dan kekerasannya menyerupai kayu. “Tujuan dari program ini adalah meningkatkan pendayagunaan sumberdaya perikanan  ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) yang semula dijual dalam bentuk  segar menjadi bentuk olahan berupa ikan asap, sehingga menjadi komoditas atau konsumsi  ekspor” tutur David Hermawan selaku ketua pelaksana program, yang sekarang sedang menyelesaikan program doktornya di Institut Pertanian Bogor. Ia berharap bila pembuatan ikan ‘kayu’ ini berhasil, maka bisa memberdayakan masyarakat nelayan Sendang Biru melalui usaha pengolahan ikan asap pola kemitraan dengan PT. Deho Canning Industry. Selama ini memang di Sendang Biru belum ada yang membuat ‘ikan kayu’. Kebanyakan usaha pengolahan ikan yang ada adalah abon ikan dan pindang. Padahal ikan kayu merupakan bahan baku Katsuobushi, yang akan dijadikan komoditas olahan untuk tujuan Negara Jepang.  Pengembangan olahan ikan ‘kayu’ ini banyak dilakukan di luar pulau Jawa, khususnya Manado. Sedangkan untuk pengembangan di Jawa belum ada. Dengan waktu sekitar satu tahun, yang dimulai dari pembuatan alat hingga proses pembuatannya, Jurusan Perikanan akhirnya berhasil membuat ikan ‘kayu’ di Sendang Biru. Sebelumnya memang beberapa dosen Jurusan Perikanan telah melakukan studi banding ke Manado dan Jepang untuk mengetahui secara langsung pembuatan ikan ‘kayu’. Sehingga dalam proses pembuatan nantinya tidak mengalami kendala yang berarti. Dengan keberhasilan ini bisa jadi UMM menjadi perguruan tinggi pertama kali yang berhasil dalam membuat ikan ‘kayu’. (Riz)

Dosen Perikanan Raih Penyaji Terbaik Penelitian Dikti

Pada bulan Desember 2009, Dikti melalui Kopertis Wilayah VII Jatim menyelenggarakan Seminar Penelitian Dosen Muda dan Studi Kajian Wanita. Dari sekitar lebih dari 300 judul penelitian, terpilih 100 judul yang akan diikutkan dalam Seminar Hasil Penelitian Dosen Muda dan Studi Kajian Wanita tahun 2009. Seminar yang pesertanya berasal dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur  tersebut dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada 15 – 16 Desember 2009 di Hotel Pelangi Kota Malang. Dari hasil penilaian dewan juri terpilih dua orang peserta sebagai penyaji terbaik, salah satunya adalah Riza Rahman Hakim, S.Pi. dosen termuda di Jurusan Perikanan, Universitas Muhammadiyah Malang. Ia merasa bangga dengan prestasi yang diraihnya, ”Prestasi ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, namun juga untuk Jurusan Perikanan dan UMM”, tutur dosen yang pernah menjadi Kepala Laboratorium Perikanan ini. Di balik semua itu, Riza juga memiliki strategi tersendiri dalam menyajikan hasil penelitiannya. ”Percaya diri dan mampu mengkomunikasikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami audiens, itulah kuncinya”, ungkap dosen yang juga pernah meraih Juara I dalam Pelatihan TOT for Entrepreneurship, yang diselenggarakan oleh Dikti dan Universitas Ciputra pada tahun 2008 silam. Seminar Hasil Penelitian kali ini merupakan kesempatan pertama yang diikutinya, setelah setahun sebelumnya juga mendapat dana hibah penelitian Dikti, namun belum terpilih untuk diseminarkan. Ia berharap prestasi ini mampu mendorongnya untuk meraih prestasi yang lebih tinggi lagi. (Riz)

Lulusan Jurusan Perikanan Raih Lulusan Terbaik UMM

Pada tahun 2009, Jurusan Perikanan telah mengantarkan mahasiswanya menjadi lulusan terbaik UMM  pada wisuda  ke-52. Dialah Hilda, lulusan dari Jurusan Perikanan, Fakultas Peternakan dan Perikanan (Fapetrik) yang lulus dengan IPK nyaris sempurna, 3,99. Waktu tempuh kuliah gadis asal Bali ini tak sampai delapan semester. Masa kuliah Hilda dihabiskan dengan sangat tekun. Putri pasangan Sud’jai dan Julaiha (Alm) ini memang dikenal sebagai mahasiswa yang ulet, rajin dan sabar. “Saya akan melakukan apa saja, asal studi saya selesai. Tahun 2007 adalah masa tersulit saya, ketika mahasiswa yang lain menghabiskan waktu liburnya, saya harus bekerja di rumah makan untuk membayar uang SPP saya” ujar Hilda. Ketekunannya itu memperoleh perhatian universitas sehingga memperoleh tiga beasiswa yakni, BBM, Damandiri dan PPA. Beasiswa ini pula yang menghantarkan dia menyelesaikan studinya. Beasiswa ini diperoleh atas prestasi semasa kuliahnya yang mampu meraih indeks prestasi 4.00 (A) selama tiga semester. Tak hanya tekun dan rajin, Hilda juga aktif mengikuti kegiatan di luar kelas. Mahasiswa program studi Budidaya Perairan ini pernah menjadi Asisten laboratorium Perikanan, asisten bioteknologi perikanan, tenaga part timer dan pendamping PAUD. Beberapa pelatihan pernah diikuti mahasiswi angkatan 2005 ini. Diantaranya, keselamatan kerja di laboratorium, diklat jurnalistik, diklat advokasi, latihan kader HMI. Meski memiliki banyak kegiatan, gadis yang menamatkan sekolahnya (SD-SMA) di pulau dewata ini mampu menyelesaikan studi S1 tepat waktu (8 semester). Karya ilmiah mahasiswa jurusan Perikanan ini berjudul “Pengaruh β-Glucan dari Ragi Roti (Saccharomyces Cerevisiae) Terhadap Sistem Imun Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)”. Akhirnya Hilda, menemukan bahwa β-Glucan dapat meningkatkan kekebalan non-spesifik terhadap ikan nila. Meski sedang menyelesaikan studinya, Hilda tetap menyalurkan hobbinya membaca buku fiksi ilmiah dan ensiklopedi. Kerja keras, berdo’a pada Allah dan sabar, serta melakukan yang terbaik (do the best) adalah motto hidupnya. Rencananya, setelah di wisuda ia ingin bekerja dulu. Setelah itu ia berencana melanjutkan studi S2. “Saya ingin membanggakan orang tua saya, dengan studi setinggi-tingginya”, ujar Hilda. (Riz)

Jurusan Perikanan Pindah Kantor

Mulai tanggal 30 Januari 2010, kantor Jurusan Perikanan UMM yang semula menempati ruangan di GKB II lantai 1 pindah ke GKB I lantai 5, tepatnya di Ruang 505. Perpindahan ini berkaitan dengan adanya integrasi dua fakultas, yaitu Fakultas Pertanian dan Fakultas Peternakan-Perikanan, yang sekarang namanya berubah menjadi Fakultas Pertanian dan Peternakan. Seperti yang diungkapkan oleh Kajur Perikanan Sri Dwi Hastuti, S.Pi., M.Aqua bahwa tujuan adanya penyatuan kantor di GKB I adalah untuk memudahkan koordinasi dalam pengembangan fakultas ke depan, sehingga akan memudahkan dalam pemantauan pelaksanaan program kerja. Semoga dengan integrasi ini semakin meningkatkan kinerja para dosen dan karyawan, serta mampu meningkatkan atmosfer akademik di lingkungan Fakultas Pertanian dan Peternakan. (Riz)