Mempertahankan Kesegaran Ikan Nila

kan nila merupakan  produk yang cepat turun kualitasnya. Kerusakan daging ikan setelah ikan dipanen disebabkan oleh tiga penyebab pokok sebagai berikut : Adanya enzim dari dalam tubuh ikan yang menyebabkan daging ikan menjadi busuk. Kerusakan yang disebabkan oleh kegiatan enzim ini disebutotolisis. Adanya bakteri pembusuk dari luar tubuh ikan yang masuk ke dalam jaringan tubuh ikan mati dan menghancurkannya. Adanya proses kimia di dalam jaringan tubuh ikan yang mulai busuk karena prosesotolisis. Ketiga penyebab proses pembusukan tersebut dapat berjalan bersama-sama, tumpang tindih, atau saling memperkuat. Proses pembusukan akan semakin cepat bila suhu semakin tinggi. Proses pembusukan ikan dapat dihambat bila suhu didinginkan sampai C atau lebih rendah. Untuk mempertahankan kesegaran ikan, dapat diterapkan prinsip rantai dingin. Artinya, setelah ikan dipanen atau ditangkap segera ditampung dan diangkut ke tempat lain untuk disimpan dan dijajakan. Di dalam rantai tersebut, ikan harus selalu dicampur dengan es. Jumlah es yang digunakan tergantung pada waktu yang diinginkan. Efektivitas es untuk mempertahankan kesegaran ikan ditentukan oleh ketahanan es tetap membeku. Seperti diketahui, es yang mencair bersuhu 00C Pada tabel berikut disajikan suhu dan jam pencairan es untuk mengawetkan ikan yang disimpan di dalam styrene box. Angka tersebut diperoleh jika ikan dan es itu disimpan di dalam boks berinsulais. Jika disimpan di tempat terbuka atau di dalam keranjang berlubang, tentu es lebih cepat cair sehingga kesegaran ikan tidak dapat dipertahankan. TABEL TEMPERATUR SAAT PENCAIRAN ES PADA IKAN DALAM STYRENE BOX Perbandingan Es Mencair dan Ikan Lama Es Mencair (jam) Suhu ( C) Es yang Mencair (%) 1 : 1 17 0 – 1,1 30,00 1 : 4 6 2,2 – 4,4 35,58 1 : 6 5 6,6 – 7,7 70,14 Sistem rantai dingin belum banyak dilaksanakan terutama di tingkat petani atau nelayan, serta bakul-bakul ikan tradisional. Sistem ini memerlukan biaya yang lebih banyak karena harus menyediakan es dalam jumlah yang cukup banyak sepanjang rantai perdagangan ikan. Namun, besarnya biaya ini akan tertutupi oleh harga ikan yang akan diperoleh karena ikan yang tetap segar harganya tinggi. Sumber: Suyanto, R ,2010 Pembenihan dan Pembesaran Nila, Penebar swadaya.

KOLOM MOTIVASI : CIPTAKAN KEMENANGAN ANDA

KOLOM MOTIVASI : CIPTAKAN KEMENANGAN ANDA

Sukses memang tidak akan dapat diraih tanpa perjuangan dan kerja keras. Semua orang pasti menyepakati pendapat itu. Atau seperti yang dikatakan seorang mentor saya dalam sebuah seminar, “Tidak ada sukses yang diraih dalam semalam”. Sekarang, semua orang bekerja keras dan berjuang mati-matian untuk mewujudkan cita-cita mereka. Pertanyaannya : kenapa hanya sebagian kecil yang bisa mewujudkan impian mereka? Ternyata kalau kita renungkan,  mungkin mereka melakukan hal yang sama : bekerja dengan sama kerasnya. Tapi yang ada di kepala (pikiran) mereka berbeda. Yang satu beranggapan bahwa sukses itu sulit dicapai, tapi satunya lagi berpikir bahwa tidak ada yang sulit kalau kita bisa memikirkannya, bisa membayangkan/memvisualisasikannya dan bertindak sejalan dengan impian sukses yang diidam-idamkan tersebut. Jadi pertama kali kita harus menciptakan kemenangan/kesuksesan di pikiran kita. Merdekakan pikiran kita dari segala belenggu (mental block) dan ciptakan kemenangan di pikiran kita terlebih dahulu. Munculkan keyakinan bahwa kita akan berhasil walaupun selusin kegagalan harus kita lalui. Kalau kita sudah melakukannya, pikiran akan menuntun tindakan fisik maupun perilaku mental mewujudkan keberhasilan dan kemenangan yang ingin Anda raih. Yang harus kita lakukan saat ini hanyalah melangkah/bergerak/bertindak untuk menyesuaikan diri dengan hokum alam (sunatullah) yang berlaku karena tidak mungkin ada akibat kalu tidak ada sebab. Kita harus menebar benih (ikhtiar) sebelum berharap menuai hasilnya. Kita harus menyadari bahwa di tengah segala kekurangan dan keterbatasan, kita dapat menciptakan kemenangan/kesuksesan di bidang apa pun sesuai dengan impian kita. Kuncinya ada di pikiran kita. Jika pikiran Anda berkata bahwa “Anda pasti bisa!” maka itulah yang akan menjadi kenyataan dalam kehidupan nyata dengan syarat Anda mempersembahakan 100 % usaha lahir dan batin untuk mewujudkannya. Usaha dan doa kita akan berjalan sesuai dengan kata pikiran kita, pikiran yang dominan-yang terekam dalam alam bawah sadar-yang akan menjadi semacam autopilot yang membimbing kita menuju apa pun yang menjadi tujuan hidup kita. Separah apa pun cobaan hidup yang telah mendera kehidupan kita, selagi masih ada nafas yang berhembus, kita masih diberi kesempatan untuk meraih sukses. Sebuah kemenangan besar tercipta dari kemenangan-kemenangan kecil. Ciptakan kemenangan-kemenangan itu dan rayakan agar alam bawah sadar kita merespon bahwa sebenarnya kita adalah seorang pemenang. Kita bisa menghasilkan karya nyata yang luar biasa dan merangkai kesuksesan-kesuksesan kecil menjadi yang lebh besar. Saya yakin setiap orang memiliki sumber daya cukup dan potensi diri yang belum semuanya tergali sehingga kita pasti bisa lebih cepat mencapai tujuan. Untuk itu, jika sekarang Anda sedang bersedih dan meratapi sebuah kegagalan yang menimpai; tunggu apa lagi,bangkitlah! Mungkin kegagalan itu menyakitkan, tapi lebih sakit lagi jika Anda hanya bersedih dab meratapi nasib. Bangkitlah, sekarang saatnya untuk memulai lagi dengan semangat dan upaya yang lebih dahsyat. Ciptakanlah kemenangan/keberhasilan Anda sekarang juga mulai dari hal yang paling kecil yang bisa kitajangkau! Berani bermimpi, berani pula untuk mewujudkan mimpi itu dalm kehidupan nyata! Suatu hari nanti kita pasti merasakan kebahagian dan kepuasan atas apa yang sedang kita perjuangkan hari ini. Hati kitalah yang nantinya akan bicara sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Hellen Keller yang tidak bisa melihat dan mendengar, “Hal terbaik dan terindah yang tidak dilihat atau disentuh oleh dunia adalah hal yang dirasakan di dalam hati.” Kepuasan batin akan kita rasakan ketika sebuah keberhasilan kita raih. Mungkin hal itu terjadi ketika kita lulus seleksi penerimaan karyawan di sebuah perusahaan yang bonafid, atau ketika bisnis kita mulai berkembang, atau saat si dia yang menjadi pujaan hati membalas perasaan kita. Atau hal lain yang sederhana namun luar biasa bagi diri kita pribadi. Source : Majalah Al-Husna (www.alhusna.org) Edisi 26 Bulan Juni 2012 hal. 16

Optimalkan Produksi dengan Seleksi Lele Berkala

Optimalkan Produksi dengan Seleksi Lele Berkala

Langkah penyortiran atau seleksi dalam tahapan pembesaran ikan lele akan menghasilkan keseragaman ukuran sehingga keuntungan bisa optimal Pada budidaya ikan lele terdapat tahapan seleksi bibit pada setiap interval waktu tertentu. Di kalangan para pembudidaya ikan, aktivitas ini dikenal dengan istilah grading up(penyortiran). Praktiknya adalah dengan memisahkan bibit ikan leles ecara berkala menjadi beberapa kelompok berdasarkan ukurannya. Seleksi bibit ini pada dasarnya memang perlu dilakukan agar tercapai tingkat keseragaman ukuran (sesuai umur ikan). MenurutKo Ahan, pembudidaya lele dari Parung, Kabupaten Bogor,tahapan seleksi bibit dalam budidaya lele sangat penting agar ada keseragaman ukuran.  Selain itu agar target panen tercapai, dalam arti ukuran panen lele di saat panen bisa mendekati seragam juga. “Grading upjuga mempengaruhi produksi maupun SR (Survival Rate). Jika dilakukan penyortiran, SR akan mencapai di atas 90%, namun jika tidak biasanya di bawah 80%,” ujarnya. Senada dengan Ko Ahan, Indra Ferdian pembudidaya pembenihan dan pembesaran lele dari Gunungsindur, Kabupaten Bogor menyatakan, penyortiran dalam budidaya lele sangat penting. Keuntungan lainnya dari penyortiran, karena sifat lele yang kanibal (pemakan sesama jenis), ikan ukuran besar akan memakan ikan yang lebih kecil. “Bahkan, seleksi bibit dengan penyortiran ini dianjurkan oleh Balai Besar Budidaya Air TawarSukabumi,”tegasnya. Lanjutnya, dengan penyortiran bisa diketahui kualitas bibit bagus atau tidak. Dan mempermudah pembeli bibit untuk membeli ukuran yang akan dipelihara. “Semua ukuran bibit ikan akan dibeli dalam budidaya lele ini, selain bisa untuk mendeteksi ikan sakit dan tidak,” terangnya. Ditambahkan Suryana, pembudidaya pembesaran asal Cogreg, Kabupaten Bogor, menuturkan manfaat penyortiran pada saat panen keuntungannya lebih besar dibandingkan yang tidak melakukan penyortiran. Ia mengilustrasikan, dengan memelihara 10.000 ekor bibit, jika menggunakan penyortiran maka keuntungan saat panen bisa mencapai Rp 1.500.000, tetapi kalau sebaliknya hanya Rp 700.000. Setali tiga uang dengan Suryana dan Ko Ahan, Toto, pembudidaya pembenihan dan pembesaran lele asal Karangsinom, Indramayu, mengutarakan pentingnya penyortiran dalam budidaya lele, terutama dalam pembenihan. Jika bibitnya kualitas jelek, akan menyebabkan ukuran beragam atau kacau. “Dan jika populasi banyak karena sifat kanibalismenya, akan berkurang populasinya,” jelasnya. Sementara dari pelaku pabrikan, Tejo,Technical Service and Sales PT Suri Tani Pemuka (STP), menjelaskan, budidaya lele dengan kolam yang luas dan kualitas benih yang tidak seragam akan menghasilkan ukuran berbeda dengan umur yang sama. Perbedaan ukuran hanya terpaut 1 ukuran tidak masalah, tetapi kalau perbedaannya cukup jauh akan jadi masalah. “Maka itu diperlukan penyortiran,” tegasnya. Sedangkan, menurut Aquaculture Territory Manager Cargill Animal Nutrition, Akhmad Firmansyah, keuntungan penyortiran adalah adanya keseragaman panen karena harga tiap ukuran panen itu berbeda. Ditambah, benih dalam satu ukuran/partai tidak dalam 1 umur yang sama. Seperti pada  lele ukuran 5 – 6 dan 7 – 8 cm bisa diperoleh dari benih umur yang berbeda. “Ada yang berumur 4 minggu dan 8 minggu,” sebutnya. Pakan Lebih Efisien Penyortiran berpengaruh terhadap efisiensi pakan. Seperti diutarakan Indra, dari hasil penyortiran diketahui jenis pakan yang paling tepat sesuai umur dan ukurannya sehingga bisa mempercepat pertumbuhan.Ia misalkan satu kolam diperkirakan ukurannya 2 – 3 cm, lalu hanya diberi pakan untuk ukuran ikan kecil saja. “Sementara dalam kolam tersebut ada ikan yang ukurannya sudah besar, maka kita boros. Seharusnya meningkat kepada pakan ikan untuk ukuran lebih besar dengan harga pakan lebih murah,”ujarnya. Charman atau akrab dipanggil Maman pembudidaya lele asal Losarang, Indramayu mengatakan,  kalau sudah dipenyortiran, maka ikan sudah satu ukuran sehingga pemberian pakan akan efektif dan pemakaian pakan akan full. Arti full dijelaskan Maman, misal populasi ikan 20.000 maka dibutuhkan pakan sebanyak 2 ton. “Tetapi kalau tidak dipenyortiran dengan populasi sama dan pakan sudah 1 ton, ukurannya amburadul,”cetusnya. Sementara Firman mengatakan, dengan penyortiran jelas FCR (Feed Conception Rasio) lebih efisien. Dan target FCR bisa tercapai atau ditekan sehingga akan menurunkan biaya produksi. Sedangkan Tejo, menuturkan penyortiran bisa menentukan jenis pakan, karena  pakan yang diberikan bisa sesuai dengan bukaan mulut ikan. Terkait efisiensi pakan, Totomengingatkan, dalam proses penyortiran, ikan tidak makan sehingga penurunan konsumsi pakan bisa turun 5%. Ini berarti pertumbuhan tidak naik, bahkan bobot badannya bisa turun. Dan tingkatan pertumbuhannya bisa terhambat karena ada jeda tidak diberi makan dan ikan bisa stres. Pada kondisi stres ini jika ikan diberi makan akan mati, jadi butuh waktu untuk rekondisi ikan. “Maka, harus diperhatikan kondisi ikan,”sebutnya. Sumber:  Majalah Trobos edisi Mei 2012

Prospek Ikan Patin

    Salah satu jenis ikan air tawar yang banyak dilirik adalah Ikan Patin. Dengan rasa daging yang gurih dan kandungan protein tergolong tinggi mengakibatkan tingkat konsumsi dan penyerapan jenis ikan patin dipasaran ini cukup tinggi. Oleh karena itu budidaya ikan patin mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan. Sekilas Mengenai Ikan Patin Ikan Patin dengan nama latin Pangasius pangasius merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan ciri fisik berbadan panjang berwarna putih perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Kepala ikan patin relatif kecil, mulut terletak di ujung kepala agak di sebelah bawah (merupakan ciri khas golongan catfish). Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba. Klasifikasi ikan patin adalah sebagai berikut: Ordo : Ostarioplaysi. Subordo : Siluriodea. Famili : Pangasidae. Genus : Pangasius. Spesies : Pangasius pangasius Ham. Buch. Kerabat patin di Indonesia terdapat cukup banyak, diantaranya: Pangasius polyuranodo (ikan juaro), Pangasius macronema, Pangasius nasutus. Ikan ini cukup responsif terhadap pemberian makanan tambahan. Pada pembudidayaan, dalam usia enam bulan ikan patin bisa mencapai panjang 35-40 cm. Sebagai keluarga Pangasidae, ikan ini tidak membutuhkan perairan yang mengalir untuk membesarkan tubuhnya. Pada perairan yang tidak mengalir dengan kandungan oksigen renda hpun sudah memenuhi syarat untuk membesarkan ikan ini. Pemanfaatan Ikan Patin Jenis ikan Patin ini biasanya dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi yaitu sebagai sumber protein hewani selain itu ada juga yang memanfaatkannya sebagai ikan hias. Syarat Umum Tempat Pemeliharaan  Kualitas air yang diperlukan untuk budidaya ikan patin adalah air bersih, tidak tercemar bahan kimia ataupun limbah beracun, serta tidak terlalu keruh.  Keasaman air berkisar pada 6,5 – 7.  Suhu untuk penetasan telur menjadi larva di akuarium pada kisaran 26 – 28 C, jika suhu kurang dari itu bisa digunakan pemanas (heater). Untuk menghindari timbulnya jamur, maka perlu ditambahkan larutan penghambat pertumbuhan jamur (Emolin atau Blitzich dengan dosis 0,05 cc/liter). Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,tidak berporos, dengan kelebihan dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi disungai maka lokasi yang tepat yaitu sungai yang berarus lambat.  Sumber :http://binaukm.com

Jurusan Perikanan UMM Kembangkan Akuaponik

 MALANG – Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian – Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (FPP UMM) terus berupaya mengambangkan system akuaponik. Akuaponik merupakan model bidudaya perikanan terpadu antara tanaman sayuran dan ikan dengan menggunakan teknologi system resirkulasi.             Sasarannya menghasilkan protein ikan sekaligus sayuran, dan teknologi ini memiliki peluang untuk dapat dikembangkan. Baik di wilayah perkotaan dengan memanfaatkan lahan pekarangan, atupun lahan non produktif dalam system budidaya ikan terpadu berwawasan lingkungan (ecological sound integrated aquaculture)             Beberapa keuntungan dari penerapan akuaponik adalah biaya produksi yang rendah, produktivitas dan keuntungan usaha lebih tinggi, mampu mengeliminir pencemaran lingkungan, hemat lahan dan air, dapat dilakukan dekat lokasi pusat pemasaran, dapat dilakukan dekat lokasi pemasaran, dapt diaplikasikan pada berbagai jenis sayuran, serta dapat disesuaikan dengan aspek estetika dan higenis.             Dua penelitiya yakni Hariyadi S.Pi, M.Si dan Ganjar Adhy Wirawan, S.Pi mengatakan, pihaknya sudah mengembangkan riset tentang akuaponik sejak 2010 lalu.              “Penelitian terbarukan yang telah dilakukan jurusan perikanan tentang teknologi akuaponik adalah pengembangan model biofiltering pada system budidaya akuaponik sebagai inovasi system budidaya ramah lingkungan,”ungkap salah satu peneliti, Hariyadi.             Hasil penelitian menunjukkan, kisaran sushu air pada kolam budidaya akuapunik adalah 22,81° – 23,63°C, oksigen berada di antara 3,4 – 4,5 mg/l, pH atau derajat keasaman air berada pada kisaran 8 – 8,25, kadar nitrit adalah 0,05 mg/l, nitrat sebesar 30 mg/l, dan kadar Amonia (NH4+) yang diketahui menggunakan alat ukur reagen ammonia menunjukkan kadar 0 mg/l.             Phospat berada pada kisaran 0,50 – 0,75 mg/l, serta kekeruhan berada pada nilai yang optimal. Data kualitas air tersebut menunjukkan bahwa budidaya akuaponik berada pada batas normal.             Ada tiga system dasar dalam akuaponik yaitu menggunakan media tanam pasir, kerikil, dan clay. Fungsi kerikil sebagai “bioreactor fluidized bed” dapat mengurangi padatan terlarut dan menjadi habitat bagi bakteri nitrifikasi yang terlibat dalam konversi nutrisi, sedangkan jenis ikan yang dibudidayakan yaitu ikan nila, mas vawal air tawar, koi, dan gurami. Akuaponik merupakan teknologi alternative produksi sumber pangan, yang dapat dilakukan oleh siapapun dan pada kondisi lahanyang kurang produktif. Secara sederhana berikut disajikan sistematika dari model teknologi akuaponik.             Lebih lanjut Ganjar mengungkapkan, sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ke empat dunia, masalah ketersediaan sumber pangan menjadi topic yang selalu mendapat perhatian dari berbagai pihak. Terlebih di era teknologi dan globlalisasi seperti saat ini, dimana kebutuhan atas pangan yang berkualitas, higenis, dan dapat diproduksi mandiri secara meningkat.             Kondisi itu tentunya harus mendapatkan inovasi – inovasi pemecahan masalah, salah satunya melalui penerapan teknologi Akuaponik. Akuaponik merupakan teknolgi alternative ramah lingkungan dengan memanfaatkan lahan yang terbatas dan hemat sumber daya air atau zero water exchange system. Sumber : Malang Post, edisi Sabtu 2 Juni 2012 hal. 12

Wirausaha Muda Jurusan Perikanan UMM

Penampilannya sederhana, umurnya masih belia, namun tekadnya untuk mengembangkan wirausaha sungguh luar biasa. Adalah Sony Lestianto  mahasiswa perikanan FPP UMM angkatan 2011 yang memulai usahanya dengan  berjualan snack/makanan ringan di kantor-kantor di lingkungan Fakultas Pertanian-Peternakan. Bagi Sony  panggilan akrabnya, berbisnis di sela-sela jam kosong saat kuliah mengasyikkan. Disamping mendapatkan income, juga mendapatkan kenalan (seduluran). Pendapatan dari bisnisnya dia gunakan untuk menghidupi dirinya dan sebagian biaya kuliahnya, sisa tabungan rencananya dia gunakan untuk investasi lele di daerah Malang kota lama. Dia mengungkapkan prospek lele di malang sangat memungkinkan untuk dikembangkan karena permintaan yang tinggi dari warung makan. Selama ini lele lebih banyak dikirim dari daerah Tulungagung dan sekitarnya.

Budidaya Ikan Nila

Budidaya Ikan Nila

Penyiapan Sarana dan Peralatan     1)   KOLAM Sarana berupa kolam yang perlu disediakan dalam usaha budidaya ikan nila tergantung dari sistim pemeliharaannya (sistim 1 kolam, 2 kolam dlsb). Adapun jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan nila antara lain: a) Kolam pemeliharaan induk/kolam pemijahan Kolam ini berfungsi sebagai kolam pemijahan, kolam sebaiknya berupa kolam tanah yang luasnya 50-100 meter persegi dan kepadatan kolam induk hanya 2 ekor/m2. Adapun syarat kolam pemijahan adalah suhu air berkisar antara 20-22 derajat C; kedalaman air 40-60 cm; dasar kolam sebaiknya berpasir. b) Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama pemeliharaan di dalam kolam pendederan/ipukan antara 3-4 minggu, pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm. c) Kolam pembesaran Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran, yaitu: Kolam pembesaran tahap I berfungsi untuk memelihara benih ikan selepas dari kolam pendederan. Kolam ini sebaiknya berjumlah antara 2-4 buah dengan luas maksimum 250-500 meter persegi/kolam. Pembesaran tahap I ini tidak dianjurkan memakai kolam semen, sebab benih ukuran ini memerlukan ruang yang luas. Setelah benih menjadi gelondongan kecil maka benih memasuki pembesaran tahap kedua atau langsung dijual kepada para Petani. Kolam pembesaran tahap II berfungsi untuk memelihara benih gelondongan besar. Kolam dapat berupa kolam tanah atau sawah. Keramba apung juga dapat digunakan dengan mata jaring 1,25–1,5 cm. Jumlah penebaran pembesaran tahap II sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter persegi. Pembesaran tahap III berfungsi untuk membesarkan benih. Diperlukan kolam tanah antara 80-100 cm dengan luas 500-2.000 meter persegi. d) Kolam/tempat pemberokan Pembesaran ikan nila dapat pula dilakukan di jaring apung, berupa Hapa berukuran 1 x 2 m sampai 2 x 3 m dengan kedalaman 75-100 cm. Ukuran hapa dapat disesuaikan dengan kedalaman kolam. Selain itu sawah yang sedang diberokan dapat dipergunakan pula untuk pemijahan dan pemeliharaan benih ikan nila. Sebelum digunakan petak sawah diperdalam dahulu agar dapat menampung air sedalam 50-60 cm, dibuat parit selebar 1- 1,5 m dengan kedalaman 60-75 cm. 2) PERALATAN Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan nila diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember, baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg),cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar kekeruhan. Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan nila antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas), seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi). 3) PERSIAPAN MEDIA Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb. Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi, diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram dan 10 gram/meter persegi. PEMBIBITAN 1) Pemilihan Bibit dan Induk      Ciri-ciri induk bibit nila yang unggul adalah sebagai berikut: a) Mampu memproduksi benih dalam jumlah yang besar dengan kwalitas yang tinggi. b) Pertumbuhannya sangat cepat. c) Sangat responsif terhadap makanan buatan yang diberikan. d) Resisten terhadap serangan hama, parasit dan penyakit. e) Dapat hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan yang relatif buruk. f) Ukuran induk yang baik untuk dipijahkan yaitu 120-180 gram lebih per ekor dan berumur      sekitar 4-5 bulan. Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah sebagai berikut: a) Betina Terdapat 3 buah lubang pada urogenetial yaitu: dubur, lubang pengeluaran telur dan lubangurine. 2. Ujung sirip berwarna kemerah-merahan pucat tidak jelas. 3. Warna perut lebih putih. 4. Warna dagu putih. 5. Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan. b) Jantan Pada alat urogenetial terdapat 2 buah lubang yaitu: anus dan lubang sperma merangkap lubang urine. 2. Ujung sirip berwarna kemerah-merahan terang dan jelas. 3. Warna perut lebih gelap/kehitam-hitaman. 4. Warna dagu kehitam-hitaman dan kemerah-merahan. 5. Jika perut distriping mengeluarkan cairan. Ikan nila sangat mudah kawin silang dan bertelur secara liar. Akibatnya, kepadatan kolam meningkat. Disamping itu, ikan nila yang sedang beranak lambat pertumbuhan sehingga diperlukan waktu yang lebih lama agar dicapai ukuran untuk dikonsumsi yang diharapkan. Untuk mengatasi kekurangan ikan nila di atas, maka dikembang metode kultur tunggal kelamin (monoseks). Dalam metode ini benih jantan saja yang dipelihara karena ikan nila jantan yang tumbuh lebih cepat dan ikan nila betina. Ada empat cara untuk memproduksi benih ikan nila jantan yaitu: a) Secara manual (dipilih) b) Sistem hibridisasi antarjenis tertentu c) Merangsang perubahan seks dengan hormon d) Teknik penggunaan hormon seks jantan ada dua cara: Perendaman 2. Perlakuan hormon melalui pakan 2) Pembenihan dan Pemeliharaan Benih Pada usaha pembenihan, kegiatan yang dilakukan adalah : a) Memelihara dan memijahkan induk ikan untuk menghasilkan burayak (anak ikan). b) Memelihara burayak (mendeder) untuk menghasilkan benih ikan yang lebih besar. Usaha pembenihan biasanya menghasilkan benih yang berbeda-beda ukurannya. Hal ini berkaitan dengan lamanya pemeliharaan benih. Benih ikan nila yang baru lepas dan mulut induknya disebut “benih kebul”. Benih yang berumur 2-3 minggu setelah menetas disebut benih kecil, yang disebut juga putihan (Jawa Barat). Ukurannya 3-5 cm. Selanjutnya benih kecil dipelihara di kolam lain atau di sawah. Setelah dipelihara selama 3-1 minggu akan dihasilkan benih berukuran 6 cm dengan berat 8-10 gram/ekor. Benih ini disebut gelondongan kecil. Benih nila merah. Berumur 2-3 minggu, ukurannya ± 5 cm. Gelondongan kecil dipelihara di tempat lain lagi selama 1- 1,5

Budidaya Ikan Sidat

Budidaya Ikan Sidat

Ikan sidat (anguilla bicolor), termasuk familiAnguillidae, ordo Apodes. Di Indonesia diperkirakan paling sedikit terdapat 5 (lima) jenis Ikan Sidat, yaitu : Anguilla encentralis, A. bicolor bicolor, A. borneonsis, A. Bicolor Pacifica, dan A. celebensis. Ikan Sidat mungkin tidak dikenal oleh banyak orang di sini. Tapi, di berbagai negara ikan sidat jadi makanan primadona yang harganya sangat mahal. Permintaan ekspor sidat terus meningkat. Harga jualnya juga mencengangkan. Sayangnya, teknik pendederan dan pembesaran yang menjadi kunci dihasilkannya sidat berkualitas dan layak ekspor belum banyak dikuasai. Ikan sidat adalah sejenis belut, namun bentuknya lebih panjang dan besar. Ada yang mencapai 50 cm. Memang tidak enak dilihat. Tapi siapa sangka, konsumen asing menganggap cita rasa ikan sidat enak dan memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kalau di restoran Jepang, ikan ini sebutannya Unagi. Kandungan vitamin A mencapai 4.700 IU/100 gram, sedangkan hati ikan sidat lebih tinggi lagi, yaitu15.000 IU/100 gram. Lebih tinggi dari kandungan vitamin A mentega yang hanya mencapai 1.900 IU/100 gram. Bahkan kandungan DHA ikan sidat 1.337 mg/100 gram mengalahkan ikan salmon yang hanya tercatat 820 mg/100 gram atau tenggiri 748 mg/100 gram. Sementara kandungan EPA ikan sidat mencapai 742 mg/100 gram, jauh di atas ikan salmon yang hanya 492 mg/100 gram dan tenggiri yang hanya 409 mg/100 gram. Teknologi budi daya masih baru di Indonesia. Budi daya ikan sidat di Indonesia baru ditemukan sekitar tahun 2007 oleh Satuan Kerja Tambak Pandu Karawang, yang merupakan UPT Ditjen Perikanan Budi Daya, Departemen Kelautan dan Perikanan. Padahal ikan sidat sudah cukup lama dibudidayakan di Jepang dan Thailand. Asal tahu saja, pengembangan budi daya kedua negara menggunakan benih dari Indonesia. “Melihat permintaan pasar dunia yang sangat besar mendorong kami untuk melakukan penelitian budi daya ikan sidat,” Ikan Sidat tumbuh di perairan tawar (sungai dan danau) hingga mencapai dewasa, setelah itu Ikan Sidat dewasa beruaya ke laut dalam untuk melakukan reproduksi. Larva hasil pemijahan akan berkembang, dan secara berangsur-angsur terbawa arus ke perairan pantai. Ikan Sidat yang telah mencapai stadia elver (glass eel) akan beruaya dari perairan laut ke perairan tawar melalui muara sungai. Harga ikan memang sangat menggiurkan. Harga di tingkat Petani ikan sidat untuk elver dengan harga jual antara Rp. 250.000/kg. Untuk ukuran 10-20 gram berkisar antara Rp 20.000-Rp 40.000/kg, sedangkan ukuran konsumsi >500 gram untuk jenis Anguilla bicolor pada pasar lokal rata-rata Rp 75.000/kg; jenis Anguilla marmorata Rp 125.000-Rp 175.000/kg. Larva Sidat (elver) berhubungan dengan musim. Diperkirakan larva Ikan Sidat dimulai pada awal musim hujan, akan tetapi pada musim tersebut faktor arus sungai dan keadaan bulan sangat mempengaruhi intensitas ruayanya. Ikan Sidat termasuk ikan karnivora. Di perairan umum Ikan Sidat memakan berbagai jenis hewan, khususnya organisme benthik seperti crustacea (udang dan kepiting), polichatea (cacing, larva chironomus dan bivalva serta gastropods). Aktivitas makan Ikan Sidat umumnya pada malam hari (nokturnal). Ikan sidat telah dibudidayakan secara intensif di Eropa khususnya di Norwegia, Jerman dan Belanda serta Asia, yaitu : Jepang, Taiwan dan China daratan. Di negara-negara lain seperti Australia, Indonesia dan beberapa negara Eropa dan Afrika Barat umumnya produksi Ikan Sidat masih mengandalkan dari hasil penangkapan di alam.. Ikan Sidat dapat dibudidayakan di dalam ruangan tertutup (indoor) dan di luar ruangan (outdoor). Di Indonesia dengan suhu lingkungan yang relatif konstan sepanjang tahun maka pemeliharaan Ikan Sidat dapat dilakukan di luar ruangan (out door).  Secara praktis Ikan Sidat dapat dibudidayakan di kolam tanah berdinding bambu, kolam beton (bak beton), pen dan keramba faring apung. Apa pun jenis wadah yang digunakan dalam budidaya Ikan Sidat yang hamus diperhatikan adalah bagaimana mencegah lolosnya ikan dari media budidaya. Lingkungan Perairan yang Baik untuk Budidaya Ikan Sidat Suhu. Pada pemeliharaan benih Ikan Sidat lokal, A. bicolor bicolor, suhu terbaik untuk memacu pertumbuhan adalah 29°C. Salinitas. Pada pemeliharaan Ikan Sidat lokal.,, A. bicolor bicolor (elver), salinitas yang dapat memberikan pertumbuhan yang baik     adalah 6 – 7 ppt. Oksigen Terlarut. Kandungan oksigen minimal yang dapat ditolelir oleh Ikan Sidat berkisar antara 0,5 – 2,5 ppm. pH. pH optimal untuk pertumbuhan Ikan Sidat adalah 7 – 8. Amonia (N H3- N) dan Nitrit (NO2-N) Pada konsentrasi amonia 20 ppm sebagian Ikan Sidat yang dipelihara mengalami methemoglobinemie dan pada konsentrasi 30 – 40 ppm seluruh Ikan Sidat mengalami methemoglobinemie. Kebutuhan Nutrien Seperti halnya jenis ikan-ikan lain, Ikan Sidat membutuhkan zat gizi berupa protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Kadar protein pakan optimal adalah 45% untuk ikan bestir (juvenil) dan sekitar 50% untuk ikan kecil (fingerling). Budidaya Ikan Sidat Pada Jaring Apung Jaring Apung. Satu unit jaring apung memiliki empat kolam berukuran 7 x 7 m, dengan jaring berukuran 7 x 7 x 2,5 m dan mata jaring 2,5 inchi. Untuk menghindari lolosnya ikan, disekeliling tepian kolam bagian atas diberi penutup dari hapa dengan lebar 60 cm. Benih Ikan Sidat. Benih Ikan Sidat (Anguilla bicolor) berbobot 15 – 20 gram per ekor dengan panjang 20-30 cm.. Benih Ikan Sidat diperoleh dari Pelabuhan Ratu hasil tangkapan nelayan di perairan umum. Padat Penebaran. Setiap kolam ditebar 100 kg benih Ikan Sidat. Pakan. Pakan yang diberikan adalah pakan buatan berbentuk pasta dengan kandungan : ¦ Protein 47,93% ¦ Lemak 10,03% ¦ Seratkasar 8,00% ¦ BETN 8,32% ¦ Abu 25,71% Pakan diberikan sebanyak 3% dari berat total ikan Konvensi pakan sebesar 1,96. Dengan konvensi tersebut akan diperoleh laju perturnbuhan rata-rata 1,46`% dengan mortalitas 9,64 %. Masa Pemeliharaan dan Panen. Pemeliharaan Ikan Sidat pada kolam keramba jaring apung selama 7 – 8 bulan, dan masa. panen secara bertahap dapat dimulai pada masa pemeliharaan 4 bulan. Ukuran Ikan Sidat yang, dipanen dapat – mencapai ukuran. konsumsi yaitu 180 – 200 gram per ekor. Pemeliharaan ikan sidat pada kolam jaring apung merupakan salah satu alternatif dalam rangka penganekaragaman budidaya ikan pada kolam keramba jaring apung. Namun dalam penerapannya masih perlu diperhatikan kondisi serta kualitas perairan umum yang dipergunakan. Sumber: carabudidaya.com

Pelet Herbal untuk Gurami

Pelet Herbal untuk Gurami

Kurang lebih 3 bulan ikan gurami yang dibesarkan dengan pakan pelet ini sudah bisa dipanen dan mampu mencapai bobot 8 – 9 ons per ekor dengan tingkat kematian sangat minim Pelet herbal, terbesit dipikiran adalah pelet yang dihasilkan dari tumbuhan organik  atau pelet yang mampu mengobati segala macam penyakit pada ikan atau ternak. Faktanya memang seperti itulah manfaat yang diberikan dari pakan ikan buatan Mochammad Nurul Badrus. Ia menuturkan karena kebutuhan pakannya ketika 1990 kian membengkak seiring dengan bertambahnya kolam pembesaran ikan gurami (gurame) miliknya maka ia pun memutar otak untuk mencari alternatif pakan lainnya demi kelangsungan usaha keluarga tersebut. Pria yang sejak muda menggeluti usaha budidaya gurami ini mengungkapkan,perhari harus memberi pakan sebanyak 2 % dari biomassa perkolam berukuran 25 m x 25 m. Totalnya kala itu ada  42 kolam yang terletak di Kelurahan Semampir Kecamatan Banjarnegara Jawa Tengah.Tak heran jika biaya produksi jadi tinggi yaitu mencapai 60 – 70% untuk pakan saja. Selain itu, ada kendala seringnya terkena penyakit seperti penyakit mata bola, koreng (penyakit kulit), insang berdarah, bisulan, ikan banyak kutu, ikan pilek, flu ikan,ekor ke merah-merahan, serta  ikan sering stres. Karena latar belakang itulah, Nurul yang telah hampir 10 tahun merekayasa dan meramu sendiri akhirnya menemukan pakan racikan yang menurutnya sangat cocok untuk pemeliharaan gurami. Apalagi menurut Nurul ditempat tinggalnya tersedia bahan pakan ikan dari tumbuhan yang melimpah. “Maka sayapun mulai merekayasa membuat pakan sendiri yang kami ramu dan kami fermentasi dengan bahan-bahan dari tumbuh-tumbuhan,” tambahnya. Tanaman Organik Dijelaskan Nurul, pelet herbal yang ia ramu terbuat dari bahan pakan yang sebagian besar berasal dari tanaman antara lain  jagung, bungkil kelapa, bekatul/ dedak padi, ampas tahu, dan ikan rucah. Bahan lainnya adalah ragi, bawang putih, kunir kuning, jahe, tomat, wortel, jantung pisang, nanas, rebung bambu, nasi, air leri (air bekas cucian beras), serta gula kelapa yang harus difermentasi terlebih dahulu. Kesemua bahan tersebut nantinya akan dicampur dan dibentuk seperti pelet. Proses pembuatannya menurut Nurul masih manual dan mengandalkan sinar matahari sehingga pelet yang dihasilkan hanya dalam bentuk pakan tenggelam. “Jika musim hujan tidak bisa produksi secara maksimal karena tidak bisa menjemur,”keluh Nurul. Kini setiap harinya Nurul mampumemproduksi 1 ton pelet.  Untuk kebutuhan sendiri mencapai 6 kuintal dan sisanya dipasarkan untuk pembudidaya di sekitar atau kelompok pembudidaya di Kabupaten Banjarnegara. Sebagai pendukung pakannya, Nurul pun menambahkan suplemen tambahan yaitu berupa pakan hijauan dari daun  talas. “Ini sebagai pendukung kualitas pakan ikan yang kita hasilkan,” ungkapnya. Dari kesemua bahan yang tergolong bahan alami tersebutdiharapkan bisamenghasilkan ikan organik yang tidak mengandung antibiotik kimia. Keunggulan Lebih lanjut Nurul menjelaskan setiap unsur bahan pakan yang digunakan dalam pakan memiliki banyak manfaat bagi ikan. Kandungan bawang putih dalam pakan digunakan untuk pencegahan penyakit kulit dan untuk menambah nafsu makan ikan dibuat dari nutrisi kunir kuning. Kemudian vitamin A dapat diperoleh dari wortel, sedangkan vitamin C diperoleh dari nutrisi tomat. sumber : www.trobos.com

Diskriminasi Kelautan

Kelautan sebelum Indonesia lahir menjadi kekuatan raksasa yang berkembang di kawasan ASEAN. Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit membuktikan akan kehebatannya secara ekonomi dan politik dengan mengoptimalkan potensi maritim yang memang menjadi kekuatan paling signifikan dalam membangun kesejahteraan rakyat dan membangun kekuasaan melalui angkatan laut yang kuat. Adanya Sumpah Palapa mahapatih Gajah Mada yang menyatukan nusantara menjadi inspirator wawasan kebangsaan sampai saat ini. Sejak abad ke-5 jauh sebelum kedatangan orang-orang eropa di perairan nusantara, pelaut-pelaut negeri ini telah menguasai laut internasional dan tampil sebagai penjelajah samudra. Kronik China serta risalah-risalah musafir Arab dan Persia menorehkan catatan agung tentang tradisi besar kelautan nenek moyang bangsa Indonesia, (Dick, 2008). Bukti di atas sebenarnya sudah cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai raksasa Asia dengan potensi kelautannya. Pemimpin negeri ini sejak Soekarno sampai Soeharto ternyata “lupa” dengan kekayaan alam laut yang mempesona, walaupun Soekarno memberikan perhatian serius melalui Deklarasi Juanda 1957 yang telah menjadi perkembangan signifikan dalam pengelolaan wilayah laut dan kemaritiman nampaknya situasi saat itu belum memberikan ruang yang luas untuk sektor perikanan kelautan menjadi tulangpunggung ekonomi negeri ini. Zaman Soeharto lebih menyedihkan di mana konsentrasi pembangunan menjadi daratan sebagai orientasi utama melalui berbagai kebijakan yang menganaktirikan potensi perikanan kelautan nasional. Soeharto menjadikan kekayaan laut sebagai santapan pemodal dan kapitalis dengan kebijakan Blue revolution dengan beroperasinya alat penangkap Trawl yang mengakibatkan nelayan sengsara, bahkan timbul konflik berkepanjangan. Kasus konflik nelayan Cilacap menjadi bukti laut hanya sebagai the sleeping giant (raksasa yang tidur). Tahun 2000 Gus Dur memberikan gebrakan serius dalam pengelolaan potensi kelautan dan perikanan dengan mendirikan Departemen Perikanan Kelautan yang sempat terjadi pro kontra tentang fungsi dan urgensinya karena pengelolaan laut sebelumnya hanya ditangani sekelas dirjen yang bersifat sangat teknis di Kementrian Pertanian. Akhirnya sampai sekarang KKP menjadi sangat penting bagi seluruh upaya negeri ini untuk menjadikan kelautan perikanan sebagai motor utama dalam membangun ekonomi nasional. Bias Kebijakan Rokhmin Dahuri (2010) menyampaikan bahwa kontribusi sektor kelautan perikanan dengan jumlah nelayan mencapai 2,2 juta orang, luas perairan laut 580 juta ha dan potensi perikanan tangkap 6,5 juta ton per tahun sangat signifikan. Dia memperkirakan penangkapan ikan di dalam negeri baru mencapai 5,1 juta ton per tahun atau 77,8% dari potensi yang ada. Luas perairan umum saat ini mencapai 54 juta ha dengan potensi perikanan 0,9 juta ton. Namun, potensi  baru sekitar 0,45 juta ton atau 80%. Perikanan budi daya laut yang mencapai 24 juta ha berpotensi menghasilkan 42 juta ton, tetapi pemanfaatan hanya 8%. Adapun, perikanan budi daya tambak memiliki potensi 1,2 juta ha dengan produksi 10 juta ton. tetapi baru dimanfaatkan 9,9%.  Kondisi di atas lahir secara alami tanpa campur tangan pemerintah secara optimal, keberadaan pemerintah masih sebatas “pencatat” transaksi yang dilakukan oleh pihak swasta dan pengusaha multinasional . Menurut Prof. Dr. Ir. H. Tridoyo Kusumastanto, MS Hasil kajian PKSPL IPB (2000), Kusumastanto (2003) menggambarkan perbandingan kontribusi PDB, lapangan usaha kelautan dibandingkan lapangan usaha lainnya, pada tahun 1998 adalah pertanian 12,62 %, pertambangan dan penggalian 4,21 %, industri manufaktur 19,92 %, jasa-jasa   41,12 % dan kelautan 20,06 %.  Nilai tersebut ternyata masih rendah bila dibandingkan dengan negara-negara yang memiliki laut lebih sempit dibanding Indonesia, misalnya saja Cina yang hanya memiliki luas laut kurang dari separo Indonesia bidang kelautannya memiliki kontribusi 48,40%, Korea 37% dan Jepang 54%, sehingga Indonesia yang memiliki laut lebih luas mempunyai peluang lebih besar untuk meningkatkan peran ekonomi kelautannya mengingat  potensi serta posisi geopolitis Indonesia yang sangat strategis. Potensi di atas saat ini masih menunggu kebijakan pemerintah yang nampaknya semakin tidak jelas. Adanya impor ikan dan garam yang saat ini menyerbu Indonesia semakin membuktikan bahwa adanya bias kebijakan dalam pengelolaan laut nasional. Bukannya mencari alternatif kebijakan serta terobosan pembangunan, birokrasi kita terjebak dalam pragmatism pembangunan dengan orientasi jangka pendek yang menguntungkan. Sampai saat ini kita belum punya kebijakan yang utuh dalam pengelolaan kelautan, road map pembangunan nasional kelautan kita belum ada. Bagaimana mengoptimalkan potensi dan menambah kontribusi PDB menjadi 30% juga belum jelas bagaimana langkahnya. Bias kebijakan ini memang “wajar” terjadi karena mainstream pembangunan nasional belum mengarah ke laut, namun masih berorientasi kepad daratan. Buktinya UU Kelautan yang sudah 3 kali ganti presiden sejak Megawati sampai SBY menjabat dua kali juga belum disahkan oleh DPR dan pemerintah. Belum adanya Ocean Policy menjadikan nelayan dan negara menjadi korbannya. Kesejahteraan nelayan tidak bergerak pada level 100 – 1005, kerugian illegal fishing mencapai sekitar 1/2 (setengah) milyar dollar sampai 4 (empat) milyar dollar per tahun akibat pencurian ikan oleh orang asing. Setidaknya dari fakta minimnya kebijakan dilingkup kelautan bisa disimpulkan dalam dua kerangka makro. Pertama, minimnya legeslasi kelautan perikanan yang dihasilkan oleh pemerintah. Lemahnya legeslasi ini mengakibatkan rendahnya produktivitas kebijakan sehingga peluang kerusakan dan pembajakan potensi laut oleh pihak luar sangat terbuka. Kedua, kecilnya dukungan sector fiscal dengan anggaran yang memadai untuk pembangunan kelautan khususnya untuk optimalisasi potensi perikanan melalui pembangunan industri perikanan nasional yang tangguh. Industri perikanan berjalan dan dikuasi oleh swasta dengan misi utama keuntungan dengan mengabaikan faktor nelayan sebagai pemilik sah laut. Langkah ke Depan Pertama, kebijaksaan makro yang lebih memihak pembangunan kelautan perikanan, khususnya nelayan. Langkah ini bisa dilakukan dengan kebijaksanaan moneter dan fiscal. Kebijaksanaan fiskal anggaran untuk usaha kreatif nelayan serta pengembangan industry perikanan harus diprioritaskan. Insentif bagi pelaku usaha perikanan serta usaha kecil nelayan diharapkan bisa mengangkat nilai tambah produk perikanan serta kesejahteraan nelayan. Kebijaksanaan moneter ditempuh melalui penyedian kredit yang mudah bagi nelayan, Jepang dan Australia bisa menjadi contoh negeri kita. Bank didorong untuk menurunkan suku bunga bagi kredit nelayan dan menambah plafon alokasi kreditnya, terbukti kalangan petani dan nelayan memiliki kredit macet yang sedikit dibanding dengan konglomerat. Kedua, pembuatan road map pembangunan kelautan nasional. Pemerintah harus mengubah orientasi darat menuju orientasi laut. Ocean Policy adalah pilihan tepat bagi perubahan strategi tersebut, karena majunya Thailand, Cina, Philipina dalam produksi perikanan di kawasan Asia didukung oleh kebijakan pembangunan kelautan perikanan yang sudah berorientasi kepada kelautan perikanan. Langkah cepat saat ini adalah pengesahan RUU Kelautan yang sudah terkatung – katung sejak jaman Megawati. Ketiga, kebijakan perdagangan harus dibuat menguntungkan sektor perikanan dan nelayan. Pajak ekspor ditekan sekecil mungkin agar hasil produk perikanan lebih kompetitif dan menguntungkan nelayan. Pelarangan hasil