Palestina Utus Delegasi Ke Jurusan Perikanan UMM Untuk Belajar Budidaya Di Lahan Sempit
Malang, Jawa Timur – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi kampus tujuan bagi warga Palestina untuk belajar budi daya perikanan dengan berbagai cara yang memanfaatkan lahan terbatas hasil temuan para dosen kampus tersebut. Dosen Program Studi (Prodi) Perikanan UMM, Dony Prasetyo di Malang, Jawa Timur, Senin mengemukakan pekan lalu sejumlah warga Palestina datang secara khusus ke UMM untuk belajar membuat berbagai temuan budi daya pertanian, peternakan, dan perairan. “Kehadiran mereka ini dalam rangka menindaklanjuti kerja sama antara Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM dengan Department of Aquaculture, Palestinian Ministry of Agriculture,” kata Dony. Dony menerangkan warga Palestina tertarik untuk belajar budi daya, khususnya perairan, karena pengelolaan dan budi daya sejumlah produk yang dikembangkan UMM masuk standar Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan telah tersertifikasi. Selain ke tempat pembudidayaan ikan, lanjutnya, mereka juga diajak melihat produksi jamur, hasil pertanian dan pembuatan roti yang terpusat di satu lokasi. Prodi Perikanan UMM juga memperkenalkan program unggulannya, yakni aquaponik atau sistem bio natural (Biona). Sistem ini tidak menghasilkan limbah dalam kolam ikan selama 3-6 bulan. “Penerapan sistem seperti ini bisa menjadi lebih efisien untuk diterapkan di wilayah Timur Tengah seperti Palestina. Sistem ini yang membuat mereka belajar ke UMM karena lebih hemat lahan serta air,” ujarnya. Lebih lanjut, Dony mengatakan Aquaponik adalah sistem pertanian berkelanjutan yang mengombinasikan aquakultur dan hidroponik dalam lingkungan yang bersifat simbiotik. Dalam akuakultur yang normal, ekskresi atau proses pembuangan sisa metabolisme dan benda tidak berguna dari hewan yang dipelihara akan terakumulasi di air dan meningkatkan toksisitas (kadar racun) air jika tidak dibuang. Salah satu hasil riset terkini yang diperkenalkan dan menjadi solusi bagi masyarakat urban di Palestina. Antara lain konsep one house one pond (satu rumah satu kolam) yang digagas dosen Prodi Perikanan, FPP UMM, Riza Rahman Hakim alam konsep tersebut, Riza memiliki strategi memanfaatkan lahan sempit di perkotaan atau urban untuk berternak ikan dengan hasil maksimal dan efisien. Dalam konsep ini, Riza menggabungkan antara budi daya ikan lele di kolam terpal dengan budi daya sayuran melalui sistem aquaponik. Ada dua sistem yang dikembangkan Riza, yaitu sistem budi daya lele biona berbasis bio-natural serta budi daya lele bionik yang merupakan kombinasi antara bio-natural dan aquaponik. Dengan konsep ini, penggantian air hanya 30 persen dan hanya sepekan sekali. Secara umum, “one house one pond” menjadikan kotoran lele sebagai pupuk tanaman di atas kolam yang terus berulang. Selain hemat dalam memberi makan lele, konsep ini juga meminimalisasi pemakaian air. “Dalam konsep ini, penggunaan air sangat sedikit. Sementara pada budi daya lele tradisional, sekitar 50 persen air diganti dan dilakukan hampir setiap hari. Airnya juga berbau tak nyaman,” katanya. Selain belajar budidaya ikan di Fish Edupark, peserta dari Palestina juga belajar teknik pertanian terpadu yang dikembangkan UMM, Sementara itu dalam kesempatan berbeda, Rektor UMM Dr Fauzan mengatakan penguatan riset berbasis kepakaran ini menjadi ciri khas UMM untuk mengembangkan mutu akademik agar bisa bersaing di level internasional. “Hal itu selaras dengan upaya UMM yang terus melakukan pemetaan kepakaran para dosen agar memiliki keahlian yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,” kata Fauzan. Sumber: UMM.ac.id Malangkota.go.id Antaranews.com Infokampus.news
Lulusan UMM Produksi Bandeng Tanpa Duri Tanpa Dipresto !
JawaPos.com – Kata presto mungkin tak asing di telinga orang Indonesia. Biasanya, presto berhubungan dengan makanan seperti bandeng presto. Bandeng dengan duri lunak yang banyak beredar di pasaran. Namun, ada cara lainnya untuk melunakkan duri bandeng selain mengunakan cara presto. Seperti halnya yang dilakukan oleh Nurmalasari, lulusan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dimana ia membuat BANGDUR (bandeng tanpa duri) namun tidak dengan cara dipresto. Sarjana Perikanan dari Program Studi Budidaya Perairan (Perikanan) Fakultas Pertanian dan Peternakan itu, memisahkan duri ikan dengan cara difillet. Ini bermula, ketika dirinya tengah mengerjakan tugas mata kuliah Praktik Usaha Perikanan atau biasa disebut aquapreneurship. Inspirasinya muncul ketika melakukan Praktek Kerja Lapang (PKL) di salah satu perusahaan swasta di Probolinggo. Perusahan itu membudidayakan udang vannamei dan bandeng. Perusahaan ini, melakukan dua budidaya dalam satu wadah. Serta memproduksi bandeng tanpa duri. Dari sini, perempuan yang akrab disapa Mala itu mendapatkan ilmu tentang teknik memfilet bandeng. Ia pun sudah memasarkan produknya baik secara konvesional di berbagai toko sayur modern maupun secara online dengan memanfaatkan media sosial. Produksinya, dilakukan Mala tiga kali dalam satu minggu. Mala Tidak main-main, untuk kestabilan kualitas dan kuantitas produk, Mala bermitra dengan pemasok ikan bandeng dari Probolinggo. “Tidak hanya memasok, supplier ini juga memasarkan produk saya di pasar tradisional, Pasar Gadang,” bebernya, Senin (9/7). Istimewanya, perbedaan BANGDUR Nusantara dengan bandeng presto lainnya tidak hanya pada rasa. Namun juga teknik pembuatan, BANGDUR Nusantara menggunakan teknik pemisahan daging dan durinya dengan teknik filet. Sedangkan bandeng presto, menggunakan teknik pemasakan dengan suhu rata-rata 121 derajat celcius. Proses pemanasan menggunakan suhu tinggi ini sangat disayangkan, karena dapat menghilangkan kandungan gizi yang ada. Dia menjelaskan, secara ilmu gizi, dinyatakan dalam salah satu jurnal yang menjadi acuan mereka di proposal aquapreneurship. Isinya, bahwa bandeng presto dan bandeng segar setelah di presto gizinya hampir 98 persen hilang, jadi rasa daging nya juga tidak enak. “Dengan teknik filet, kami ingin menjaga kualitas daging dari bandeng itu sendiri, rasa juga gizi nya tetap,” tambahnya. Mala juga menguraikan, selain kelebihan tersebut ciri khas produk ini terletak pada varian rasa yang dimiliki. Berinovasi untuk menghadirkan produk yang berbeda dari bandeng tanpa duri di pasaran. Mala dan timnya memproduksi BANGDUR Nusantara dengan empat varian rasa, yakni original, balado, rendang dan sambal matah. “Varian rasa nusantara ini mencerminkan keanekaragaman kuliner nusantara,” paparnya. Untuk mengembangkan usahanya, Mala pun berusaha merangkul, memberdayakan dan berbagi ilmu dengan adik tingkat khususnya mahasiswa Perikanan yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Perikanan. Sedangkan Mala dan tim hanya mengurus manajemen produksi dan pemasaran. “Untuk produksinya diserahkan ke Himaperik (Himpunan Mahasiswa Jurusan Perikanan). Jadi mereka bisa belajar dari sekarang sebelum memasuki semester tujuh untuk mengerjakan aquapreneurship,” pungkasnya Kini produk tersebut menjadi ladang usaha yang menjanjikan. Bersama tiga orang temannya Muhammad Soleh, Fernanda Rahmadillah Putri dan Sabarudin yang juga satu tim dalam proses pengerjaan aquapreneurship, Nurmalasari berhasil memasarkan produk inovatif ini. Bisnis tersebut bahkan telah meraih omzet hingga Rp 10 juta untuk setiap 100 kilogram bandeng yang diproduksi. (tik/JPC)
AKSI SOLIDARITAS NELAYAN – HIMAPERIK UMM GAGAS PETISI PERINGATI HARI NELAYAN NASIONAL
Malang- HIMAPERIK (Himpunan Mahasiwa Perikanan) UMM, – Dalam memperingati Hari Nelayan Nasional Indonesia yang jatuh pada 6 April, Pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang, mengadakan kegiatan aksi solidaritas sebagai upaya memperkenalkan dan mengangkat kembali marwah para nelayan yang selama ini masih tertindas oleh bayang-bayang kemiskinan. Aksi solidaritas ini diselenggarakan tepat pada Hari Nelayan Nasional (6/4/2018) di depan Laboratorium Biologi, Universitas Muhammadiyah Malang. Kegiatan tersebut diikuti oleh 38 peserta aksi, peserta berasal dari mahasiwa perikanan dan mahasiswa jurusan lain. Kegiatan aksi solidaritas nelayan dibuka dengan doa bersama pukul 09.00 WIB. Rentetan kegiatan aksi solidaritas nelayan setelah doa bersama diantaranya musikalisasi puisi yang dibawakan oleh teman-teman Sanggar Malaka, dilanjutkan aksi penandatanganan petisi. Petisi ini dibuat sebagai langkah konkrit dalam mengkritisi Pemerintah. Pada kesempatan kali ini pula disinggung beberapa kebijakan Pemerintah yang dirasa merugikan para nelayan. Beberapa peraturan yang menjadi dasar petisi tersebut diantaranya: Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan PERMENKP No. 56/PERMEN-KP/2014 tentang Penghentian Sementera (moratorium) Perizinan Usaha Perikanan Tangkap di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP); Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 57/PERMEN-KP/2014 tentang Penghentian Kegiatan Alih Muatan (transhipment); Peraturan Mentri Nomor 01/PERMEN- KP/2015 tentang pembatasan penangkapan tiga spesies perikanan penting yakni Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scyla spp.), dan Rajungan (Portunus pelagicus spp.) yang telah ditindaklanjuti dengan Surat Edaran Nomor 18/MEN-KP/I/2015. Menerangkan bahwa yang boleh diperdagangkan hanya : Lobster dengan berat 200 gram keatas, Kepiting Soka Minimal 150 gram, dan Rajungan lebih dari 55 gram; Peraturan menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 02/PERMEN-KP/2015, mengatur larangan penggunaan alat penangkapan ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP NRI), Peraturan Pemerintah No. 75/2015 tentang jenis dan tarif atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berlaku pada Kementrian Kelautan dan Perikanan. Kebijakan-kebijakan ini didukung pula oleh SK Dirjen Perikanan Tangkap No. B 1234/DJPT/F1.410.D4/31/12/2015 tentang pembatasan ukuran GT kapal pada SIUP/ SIPI/ SIKPI, dan Surat edaran No. 721/ DPB/ PB.510.S4/ 11/ 2016 tentang kapal pengangkut ikan hasil pembudidayaan berbendera asing (SIKPI-A). Dasar petisi tersebut merupakan hasil kajian empiris HIMAPIKANI (Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia) yang dikelola kembali oleh HIMAPERIK UMM. Sekitar pukul 20.30 WIB di lanjutkan dengan kegiatan NOBAR (nonton bareng) bertempat di Equel Coffe. Kegiatan aksi ini ditutup dengan makan ikan bersama. Harapannya dengan aksi solidaritas nelayan, bisa merefleksi kembalikepada khalayak untuk tetap menghargai para nelayan Indonesia.(Haq/HIMAPERIK UMM)
Festival Produk Perikanan UMM, Cetak Wirausaha Muda Kreatif
Berbagai hal menarik yang belum banyak diketahui oleh masyarakat umum dalam dunia perikanan, menjadi salah satu alasan digelarnya Festival Ikan Hias dan Pameran Produk Perikanan. Acara yang diiniasi oleh Jurusan Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, juga menjadi wadah bagi mahasiswa membuka peluang dan membangun jaringan promosi usaha. Khususnya yang berintegrasi dengan teknologi terbaru dan ramah lingkungan. “Kegiatan ini mendukung peran perikanan untuk mengenalkan produk yang berintegrasi pada teknologi ramah lingkungan,” ungkap Ketua Program Studi Akuakultur, Riza Rahman Hakim, Senin (4/12). Pada festival ini banyak usaha kreatif mahasiswa yang dipamerkan. Diantaranya budidaya ikan kerapu, budidaya aquascape serta produk olahan perikanan seperti Bandeng Bebas Duri, Cumi Crispy, Ricebowl, dan Captain Fish. Yang menyenangkan, sambutan pengunjung stan ternyata luar biasa. Banyak dari produk perikanan yang bahkan laris terjual sebelum pameran resmi dibuka. “Hari ini banyak produk yang sudah habis sebelum festival resmi dibuka. Sejak hari pertama anak-anak sudah kewalahan memenuhi animo mahasiswa dan dosen yang berkunjung,” tambah Riza. Festival yang berawal dari kegiatan mata kuliah Praktik Usaha Perikanan ini diharapkan dapat membuat mahasiswa lebih percaya diri untuk membuka dan meningkatkan peluang usaha kreatif. Selain itu, acara ini juga diharapkan mampu menjadi wadah mahasiswa mengembangkan hasil Praktik Kerja Lapang (PKL) untuk diaplikasikan pada bidang usaha masing-masing. Mendapatkan ruang untuk saling bertukar pikiran serta bimbingan langsung dari dosen dan para ahli pada bidang wirausaha, festival ini juga diharapkan dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat . “Harapan saya UMM bisa memiliki inkubator bagi para pengusaha muda seperti mahasiswa perikanan yang saat ini mengikuti kegiatan pameran ini. Kegiatan ini bisa jadi ladang untuk menciptakan lahan pekerjaan baru bagi kita,” ungkap M. Andy Afnan Pengusaha Cupy (Cumi Crispy). (nis/sil) Sumber: http://www.umm.ac.id/id/berita/festifal-produk-perikanan-umm-cetak-wirausaha-muda-kreatif.html
Pengalaman Praktek Kerja Lapang di Kasetsart University Thailand
Pengalaman Praktek Kerja Lapang di Kasetsart University Thailand Praktek kerja lapang dilaksanakan pada tanggal 1 – 30 Agustus 2016 bertempat di Kasetsart University (KU),BangkokThailand. Pada awal Agustus 2016 tepatnya pada tanggal satu saya bersama mahasiswa dari Fakultas Pertanian-Peternakan UMM yang lainberangkat ke Thailand dalam rangka praktek kerja lapang sekaligus field trip disana. Setelah sesampainya di sana tepatnya diBandara Internasional Don Mueang Bangkok, saya langsung dijemput Nukk dan Songpwol. Mereka adalah utusan dari KUuntuk memandu kami dalam melaksanakan dan memenuhi tugas kampus yang di sebut praktek kerja lapang atau biasa disingkat PKL. Nukk dan Songpwol dengan senang hati membawa kami ke tujuan awal yaitu untuk melakukan perkenalan kampus KUdan mengajak kami untuk berbelanja keperluan PKL yang akan dilakukan di hari mendatang. Di hari keduakami masih melakukan masa adaptasi terhadap budaya, kuliner, bahasa dan lain lain. Setelah hari ketiga barulah kami memulai PKL di tempat yang berbeda yaitu di Suwan FarmNakorn Ratchasima. Suwan Farm adalah pusat penelitian di sektor agricultural yang telah menjadi pusat penelitian baik untuk mahasiswa lokal dan mahasiswa internasional dari berbagai penjuru Asia dan Eropa. Tujuan utama dari pusat penelitian ini adalah untuk melakukan penelitian dan mempublikasikan teknologi untuk pertumbuhan jagung dan sorgum serta tanaman ladang lainnya. Pada hari pertama di Suwan Farm kami diajak perkenalan tentang prospek pertanian dan hasil produksi pertanianyang ada di Suwan Farm seperti jagung manis, sorghum, susu jagung manis dan lain lain. Sehingga tidak hanya sekedar belajar dan praktek tetapi sekaligus mengenal budaya baru. Kami menggeluti di bidang pertanian dan produksi hasil pertanian berlangsung selama satu minggu. Setelah selesai melakukan PKL di Suwan Farm, kami dirujuk ke Pakchong Research Stationuntuk melakukan program PKL selanjutnya yaitu tentang pengenalan produk-produk pertanian seperti mangga, serikaya, alpukat, pisang dan lain lain selama satu minggu. Destinasi yang paling kami tunggu-tunggu adalah di Tubkwang Research Station. Sesampainya di sana,kami sangat disambut ramah oleh orang-orang yang ada disana, tentunya kami dijamu makan dengan baik, dan kami juga mendapatbiaya living cost dengan harga yang relatif murah dan tentunya terjamin fasilitas dengan pelayanan yang terbaik. Tetapi kita diminta untuk bekerja keras dalam menggeluti PKL di bidang peternakan, produk produk olahan peternakan dan lain lain. Dapat dikatakan lumayan melelahkan bagi kami untuk mengurusi dan membersihkan kandang sapi dan penebaran bibit rumput gajah dengan ukuran yang lumayan luas. Sehingga setelah menyelesaikan pekerjaan itu kami langsung disuruh untuk bersih-bersih diri dan berpakaian rapi.Setelah itu kami langsung terkejut bahwa kami diajak ke restoran untuk melakukan makan malam dan dibiayai oleh pihak Tubkwang. Kemudiankamijugadiajak berbelanja ke Tesco Lotus atau pusat perbelanjaan terbesar di daerah tersebut. Tak terasa waktu satu minggu sudah berlalu,kami pun kembali lagi ke kampus Kasetsart University. Kami pun telah menyiapkan persiapan yang sangat matang untuk melakukan presentasi di Faculty of Agriculture KUbersama beberapaprofessor yang ada di universitas tersebut. Setelah kami melakukan presentasi,kami pun diajak untuk melakukan program selanjutnya yaitu home economic yang diadakan selama dua hari di Fakultas Seni KU.Setelah aktivitas selesai, saya lansung dirujuk untuk mengikuti program PKL perikanan yang ada di Faculty of Fisheries KU.PKL di bidang perikanan difokuskantentang formulasi pakan, menghitung densitas pakan, kemampuan pakan tenggelam atau mengapung dan lain lain. Pada hari-hari terakhir di thailand, saya pun diajak teman-teman mahasiswa dari KUuntuk melakukan field trip di berbagai destinasi Bangkok, seperti berbelanja pernak-pernik sampai berkeliling ke tujuan wisata yang terletak di Bangkok.Itulah sedikit cerita tentang PKL di KU Thailand. Tentunya dari PKL ini kami mendapat wawasan dan pengalaman baru yang sangat bermakna. *Fuad, Mahasiswa Perikanan Angkatan 2014
Dosen Perikanan UMM Berhasil Kembangkan Budidaya Lele Dengan Sistem Biona

MALANG — Ikan lele merupakan salah satu ikan yang banyak di gemari masyarakat. Selain rasa dagingnya yang gurih, ikan lele juga menjadi salah satu sumber protein hewani yang sangat di butuhkan manusia. Namun begitu, di kota Malang sendiri pasokan ikan lele masih dirasa minim dan masih mengandalkan pasokan dari luar kota Malang. Di latar belakangi permasalahan tersebut, Riza Rahman Hakim S.PI. M.Sc seorang dosen jurusan perikanan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sejak tahun 2014 mulai mengembangkan sistem budidaya ikan lele Bio Natural (Biona) yang dapat di terapkan di lahan perkotaan yang terbatas. “Sistem Biona yaitu sistem budidaya lele menggunakan kolam terpal dengan merekayasa lingkungan perairan di kolam budidaya agar kondisinya mirip dengan lingkungan perairan di habitat aslinya, sehingga ikan lele bisa hidup nyaman di kolam tersebut. Sistem ini saya temukan sekitar 1,5 tahun yang lalu,” jelasnya kepada Cendana News, Senin (8/8/2016). Menurutnya, dibandingkan dengan budidaya tradisional atau konvensional, sistem Biona ini memiliki banyak kelebihan, yaitu bisa padat tebar tinggi. Jika biasanya pada budidaya tradisional per satu meter kubik kolamnya rata-rata hanya di isi 200 ekor lele, dengan sistem Biona kolam bisa di isi 500-1000 ekor lele per satu meter kubik. Sistem Biona juga memiliki keunggulan air tidak perlu di ganti sampai panen. Riza hanya merekomendasikan mengurangi atau membuang dasar sebulan sekali sebanyak 30 cm saja, karena jika air di ganti secara keseluruhan justru akan membuat ikan menjadi stres. Pada sistem Biona juga tidak diperlukan adanya penyortiran berdasarkan ukuran tubuh ikan yang biasanya sering dilakukan petani setiap dua minggu sekali. “Jadi ikan mulai dari ukuran kecil sekitar 5 cm sampai dengan panen, cukup di biarkan di satu kolam saja,” urainya. Lebih lanjut, Riza juga menyampaikan bahwa budidaya sistem Biona ini juga menerapkan budidaya secara higienis tanpa menggunakan pakan yang aneh-aneh seperti bangkai ayam, sosis kadarluarsa maupun sisa buangan rumah tangga yang sebenarnya justru dapat merusak kualitas air dan menyebabkan air menjadi bau sehingga setiap hari harus di kuras. “Disini kami hanya menggunakan pakan pelet buatan pabrik sehingga kita bisa menjaga kuwalitas air agar tidak bau,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai ketua Jurusan Perikanan di UMM ini. Riza juga mengaku dalam sistem Biona sama sekali tidak menggunakan obat antibiotik yang residunya bisa membahayakan kesehatan karena tidak dapat di cerna oleh tubuh sehingga mengendap dan dapat menyebabkan penyakit kanker. “Kita sama sekali tidak merekomendasikan penggunaan antibiotik. Kalaupun nanti ternyata ada ikan yang sakit, kita hanya akan melakukan treatment sendiri tanpa menggunakan antibiotik,” ujarnya. Riza menambahkan, yang tidak kalah penting, karena bentuk kolam terpalnya yang tidak membutuhkan tempat yang luas, budidaya lele dengan sistem Biona sangat cocok di lakukan di kalangan perkotaan yang lahannya terbatas, Tidak hanya itu, biaya pembuatan kolam terpal juga dirasa lebih murah dibandingkan dengan menggunakan kola semen. Kolam terpal bisa di pindah-pindah dan tahan lama sekitar 4-5 tahun. “Pembuatan kolam saja dengan diameter 1 yang dapat di isi 500-1000 ekor biayanya hanya Rp.550.000,- dan kolam terpal diameter 2 yang dapat menampung 3000 ekor biayanya hanya Rp.850.000,-,”ucapnya. Sedangkan jika ingin memesan paket lengkap kolam terpal sekaligus pemasangan, mesin, benih, pakan untuk tiga minggu serta konsultasi, biayanya hanya Rp.1,7 juta untuk diameter 1 dan Rp.2,5 juta untuk diameter 2, tandasnya. Selain keunggulan-keunggulan sistrm Biona yang telah ia uraikan, Riza juga menyampaikan bahwa kelemahan dari sistem ini adalah umur panen yang sedikit lebih lama yaitu 3 bulan baru bisa dinpanen. “Karena tidak dilakukan penyortiran, otomatis ukuran ikan juga bervariasi dari yang kecil, sedang hingga besar. Dengan kepadatan yang tinggi di tambah lagi dengan karakter lele yang kanibal, kami hanya bisa memberikan kelulusan hidupnya 70-80 %,” ujarnya. Disebutkan, untuk memulai budidaya lele sistem Biona selain kolam ikan, yang harus di persiapkan selanjutnya adalah media (air) yang harus di persiapkan tujuh hari sebelum bibit di tebar. “Sebagai media, air terlebih dulu di beri perlakuan khusus yaitu dengan pemberian garam, tetes tebu dan probiotik yang berfungsi untuk menguraikan bahan organik agar tidak menjadi bahan yang berbahaya bagi ikan. Persiapan media tujuh hari dan hari kedelapan baru bibit lele bisa di tebar,” jelasnya. Persiapan media ini di butuhkan karena berhubungan erat dengan kualitas perairan kolam yang nantinya akan di tempati ikan lele untuk di budidayakan. Karena menurutnya masing-masing jenis ikan memiliki parameter kualitas air yang berbeda-beda. “Untuk ikan lele, selama tidak ada lele yang menggantung di permukaan air berarti kondisi perairannya masih baik. Tetapi jika sudah ada lele yang terlihat menggantung di permukaan air apalagi dalam jumlah yang banyak, berarti kondisi perairan ada yang tidak beres dan perlu di berikan treatment,” pungkasnya. Sementara itu, tidak hanya sistem Biona Riza juga tengah mengembangkan sistem Bionic yang merupakan dikombinasi antara sistem Biona dengan Aquaphonik. Melaui sistem Bionic, petani juga bisa budidaya lele sekaligus budidaya sayuran organik. Sumber: http://www.cendananews.com/2016/08/dosen-perikanan-umm-berhasil-kembangkan-budidaya-lele-dengan-sistem-biona.html
Konsep One House One Pond Antar Riza ke Belanda
Lowokwaru, MC – Konsep menarik pertanian organik ‘one house one pond‘ yang dibuat oleh Riza Rahman Hakim, S.Pi, M.Sc berbuah manis. Berkat kreasinya, dosen Universitas Muhammadiyah Malang itu mendapatkan beasiwa untuk menimba ilmu di Belanda, Senin (1/2). Riza menunjukkan ikan lele hasil budidayanya, Senin (1/2) Konsep one house one pond dikembangkan Riza dengan menggabungkan antara budidaya ikan lele di kolam terpal dan menanam sayuran melalui sistem aquaponik. Jadi selain bisa memanen lele, pemilik kolam juga bisa menikmati lezatnya berbagai macam sayuran. Riza mengungkapkan konsep one house one pond ia kembangkan untuk menyiasati sempitnya lahan di perkotaan. Dengan cara ini meski lahan yang dimiliki tidak luas, masyarakat perkotaan masih bisa bertani dengan hasil yang memuaskan. “Melalui pertanian yang mengadopsi one house one pond, setiap keluarga bisa memproduksi sendiri sayuran sehat dan ikan yang bergizi untuk bisa meningkatkan gizi keluarga,” jelas Riza, Senin (1/2). Dari uji coba yang dilakukan oleh Riza, ada dua jenis ikan yang cocok dikembangkan menggunakan konsep one house one pond. Kedua jenis ikan itu adalah ikan lele dan ikan patin. Untuk ikan lele, panen sudah bisa dilakukan saat usia tiga bulan, sedangkan ikan patin saat usia delapan bulan. “Saya sengaja memilih ikan lele dan patin sebab budidayanya relatif mudah, ikannya banyak disukai masyarakat hingga memasarkanya mudah,” terang Riza. Terkait beasiswa pendidikan singkat di Universitas Wageningen Belanda, Riza yang juga Ketua Program Studi Perikanan UMM ini mengatakan akan menjalaninya mulai tanggal 29 Februari 2016 sampai dengan 16 Maret 2016. Adanya beasiswa ini diakui Riza semakin membuatnya bersemangat untuk lebih serius lagi dalam menggeluti urban farming. Sumber: http://malangkota.go.id/2016/02/02/konsep-one-house-one-pond-antar-riza-ke-belanda/
Dosen FPP Gagas ‘Satu Rumah Satu Kolam’ sebagai Inovasi Urban Farming

Dosen FPP Gagas ‘Satu Rumah Satu Kolam’ sebagai Inovasi Urban Farming PENGUATAN riset berbasis kepakaran menjadi ciri khas UMM untuk mengembangkan mutu akademik agar bisa bersaing di level internasional. Hal itu selaras dengan ikhtiar UMM yang terus berupaya melakukan pemetaan kepakaran para dosen agar memiliki keahlian yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Salah satu hasil riset terkini yang dapat menjadi solusi bagi masyarakat urban yaitu konsep one house one pond (satu rumah satu kolam) yang digagas dosen Prodi Perikanan, Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM, Riza Rahman Hakim MSc. Dalam konsep tersebut, Riza memiliki strategi memanfaatkan lahan sempit di perkotaan untuk berternak ikan hasil dengan hasil maksimal. Dalam konsep ini, Riza menggabungkan antara budidaya ikan lele di kolam terpal dengan budidaya sayuran melalui sistem aquaponik. Ada dua sistem yang dikembangkan Riza, yaitu sistem budidaya lele biona berbasis bio-natural serta budidaya lele bionik yang merupakan kombinasi antara bio-natural dan aquaponik. Secara umum, one house one pond menjadikan kotoran lele sebagai pupuk tanaman di atas kolam yang terus berulang. Selain hemat dalam memberi makan lele, konsep ini juga meminimalisir pemakaian air. “Dalam konsep ini, penggunaan air sangat sedikit. Pada budidaya lele tradisional, sekitar 50% air diganti dan dilakukan hampir setiap hari, airnya juga berbau tak nyaman. Dengan konsep one house one pound, penggantian air hanya 30% dan dilakukan seminggu sekali. Airnya juga tidak berbau,” jelas Ketua Prodi Perikanan ini. Dengan cara ini, Riza menjelaskan, satu meter kolam dapat diberikan 1000 ikan lele dan dalam waktu tigabulan sekali dapat dipanen sebanyak 300 ikan lele.Hal ini, diyakini Riza, tentu dapat menjadi solusi bagi kemandirian pangan keluargalantaran keluarga merupakan kelompok terkecil dan paling efektif dapat mewujudkan kemandirian pangan. Lantaran penelitian tersebut, Riza diundang untuk mengikuti pendidikan singkat selama duapekan di Wageningen University, Belanda, pada 29 Februari hingga 16 Maret 2016, untuk memperkuat risetnya tersebut. Pada kegiatan yang dihadiri peneliti 10 negara tersebut, UMM merupakan satu-satunya kampus swasta yang mengirimkan perwakilannya. Setelah kembali dari Belanda, Riza makin yakin konsepnya sangat relevan diterapkan di kota-kota dengan lahan terbatas. Selain mengembangkan one house one pondsebagai urban farming, Riza juga ingin mengembangkan teknologi perairan yang memang telah menjadi keunggulan Negeri Seribu Tulip itu. Riza berharap, hasil riset ini dapat mewujudkan gagasannya agar terealisasi satu rumah satu kolam di masyarakat perkotaan. “Apalagi, ini akan meningkatkan protein yang sangat dibutuhkan oleh tubuh,terutama untuk masa perkembangan dan asupan otak,” imbuh peraih gelar Master of Science dari Kasetsart University, Thailand ini. (jal/han) Dosen FPP UMM, Riza Rahman Hakim MSc ciptakan konsep one house one pond yang cocok bagi urban farming. Foto: Rino Anugrawan.
KULIAH PERDANA JURUSAN PERIKANAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
Program Studi (Prodi) Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembalimenggelar Kuliah Perdana (Kulper) bagi mahasiswa baru jurusan perikanan tahun akademik2014/2015. Acara yang dilaksanakan sehari setelah Kuliah Umum Nasional ini dilaksanakandi gedung Aula Biro Administrasi Umum (BAU) Universitas Muhammadiyah Malang padahari Jumat tanggal 26 September 2014. Kuliah Perdana (Kulper) kali ini tidak hanya diikutioleh mahasiswa baru saja, namun juga diikuti mahasiswa aktif jurusan perikanan UMMlintas angkatan, aktivis perikanan yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa PerikananIndonesia (Himapikani) dan beberapa praktisi perikanan. Acara yang bertajuk “ Menjadikan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dalam PerspektifIslam “ menghadirkan Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, MS sebagai native speaker. Selain itu hadir juga Sekretaris Jendral MAI Ir.Agung Sudaryono, M.Sc., Ph.D yang juga merupakan akademisi dari Universitas DiponegoroSemarang.Sebelum acara kuliah perdana berlangsung, telah dilaksanakan penandatanganan MoU(memorandum of Understanding) antara Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) denganJurusan Perikanan Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang. MoUini merupakan salah satu bukti, bahwa Perikanan UMM akan menjadi bagian dari gerakanIndonesia Bertambak yang dicanangkan oleh Masyarakat Akuakultur Indonesia ungkapKaprodi perikanan UMM Riza Rahman Hakim, S. Pi, M.Sc.Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001-2004 Prof. Dr. Rokhmin Dahuri MSdalam materinya menerangkan bahwa poros maritim dunia merupakan Indonesia sebagainegara maritim yang maju, kuat, berdaulat dan berbasis ekonomi kelautan, hankam dan budaya maritim serta menjadi teladan (memimpin) dalam berbagai kemajuan IPTEK,kesejahteraan, keadilan dan perdamaian dunia. Ada enam aspek yang harus dibangunsebagai konstruksi negara maritim Indonesia diantaranya yaitu aspek Ekonomi, Hankam,Lingkungan, IPTEK, Budaya, Kelembagaan.Sementara itu menurutnya, ada 8 program pembangunan sektor kelautan prioritasyang harus dikembangkan secara optimal sebagai aksi nyata dalam mewujudkan Indonesiasebagai poros maritim dunia, diantaranya yaitu sektor Perikanan Tangkap, PerikananBudidaya, Industri Pengolahan Hasil Perikanan, Industri Bioteknologi Kelautan,Pengembangan Pulau-Pulau Kecil, Pembangunan Tol Laut, Pengembangan SumberdayaKelautan Nonkonvensional, serta Pemantapan Kelembagaan Kelautan. Prinsippembangunan konektivitas maritim (Tol Laut) diantaranya, rute pelayaran melewati tujuhPelabuhan Utama, yaitu Pelabuhan Kuala Tanjung, Pelabuhan Batam, Pelabuhan TanjungPriok, Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Bitung, dan PelabuhanSorong, setiap pelabuhan utama terhubung dengan pelabuhan-pelabuhan Short SeaShipping (SSS), terbentuknya multiple port call dan ship size , bertujuan menurunkan biayalogistik nasional, mewujudkan sistem distribusi barang yang efisien dan terintegrasi,menjadi solusi yang efektif dalam mencegah berlayarnya kapal berkapasitas kosong darisatu tempat ke tempat lainnya, meningkatkan kapasitas dan efisiensi . “Dengan peta jalan pembangunan kelautan seperti di atas, Insya Allah Indonesia tidak hanya bakal menjadinegara maritim yang besar, kuat, maju, makmur dan berdaulat, tetapi juga akan menjadiporos (kiblat) maritim dunia dalam waktu tidak terlalu lama, 2025”, tegas Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Institut Pertanian Bogor itu
Monitoring Magang Perikanan
Dalam rangka memantau perkembangan mahasiswa yang sedang melakukan Praktek Kerja Lapang (PKL)/Magang, Jurusan Perikanan melakukan monitoring PKL di wilayah Jatim, khususnya di Probolinggo dan Situbondo, pada tanggal 16 Feb 2015 kemarin. Kegiatan monitoring di Probolinggo dilakukan di Balai Budidaya Air Payau, sedangkan monitoring di Situbondo di Balai Perikanan Budidaya Air Payau, UD Milenium (Asosiasi Hatchery Sumber Mina Lestari), dan UD RBS. Pada kesempatan kali ini yang bertindak sebagai pemonitor adalah Riza Rahman Hakim, S.Pi, M.Sc selaku Kajur Perikanan dan Ganjar Adhi W, S.Pi, MP selaku dosen pembimbing PKL. Beberapa komoditas yang menjadi bahan pelaksanaan PKL ini antara lain ikan kerapu bebek, kerapu cantang, udang vanname, dan teknik budidaya spirulina. Adanya PKL ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam bidang perikanan budidaya. (riz)