Kunjungan Aquatic Study Club Makassar ke Perikanan UMM

Pada bulan Desember 2014 yang lalu, Jurusan Perikanan UMM kedatangan tamu dari perkumpulan mahasiswa perikanan di Makassar yang tergabung dalam Aquatic Studi Club Makassar (ASCM). Seperti pada tahun sebelumnya, ASCM melakukan kunjungan ini dengan tujuan untuk silaturahim dan sharing kegiatan yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Perikanan. Selain itu juga melakukan kunjungan ke lab. perikanan.

Dialog Jurusan Perikanan Sebagai Ladang Menempa Sifat Kritis Mahasiswa

Sebagai mahasiswa, idealnya mampu berperan sebagai agent of control dan agent of change. Agent of control memiliki pengertian bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab pengontrolan dan kritis terhadap berbagai kondisi sosial yang ada disekitarnya termasuk masalah aturan maupun kebijakan dari yang berwenang. Dan agent of change memiliki perngertian bahwa mahasiswa memiliki wewenang untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik apabila terjadi kekeliruan. Karenanya pada hari Sabtu (10/1/2015) Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang mengadakan sebuah kegiatan yang dinamakan Dialog Jurusan. Agenda ini bertujuan agar mahasiswa perikanan mampu mengimplementasikan bentuk tanggung jawabnya sebagai mahasiswa yang berperan sebagai agent of control and agent of change mulai dari lingkup yang kecil yaitu terkait kebijakan jurusan dan laboratorium perikanan terhadap kegiatan perkuliahan dan juga praktikum yang ada di jurusan perikanan. Sehingga kedepannya mahasiswa mampu menjadi pengawala maupun penopang berbagai kebijakan yang ada di jurusan dan laboratorium perikanan. Karena antara dosen dan mahasiswa memiliki hubungan yang sangat erat, jika salah satunya tidak ada maka sistem perkuliahan tidak akan berjalan. Sehingga menjadi sebuah keharusan bahwa keduanya harus saling berinteraksi untuk memberikan masukan ataupun kritik agar keduanya dapat berjalan dengan baik, sala satunya dengan adanya kegiatan dialog ini. Kegiatan yang dihadiri oleh Riza Rahman Hakim, S.Pi, M.Sc sebagai Ketua Jurusan Perikanan ini berlangsung selama kurang lebih 4 jam dengan dihadiri oleh puluhan peserta yang sangat antusias. Berbagai pertanyaan pun dilontarkan oleh para peserta sebagai bentuk sifat kritis yang tengah berkembang di kalangan mahasiswa saat ini. Mulai dari permasalahan yang berkaitan dengan sistem akademik hingga sarana dan prasarana perkuliahan menjadi bahan diskusi dan evaluasi pada dialog ini. “Kegiatan ini merupakan sebuah kultur yang baik dan harus dipertahankan oleh HMJ Perikanan setiap tahunnya, karena kegiatan ini mampu menjembatani ide, saran maupun kritik dari mahasiswa sehingga kedepannya jurusan dan juga mahasiswa dapat berjalan bersama untuk menuju perikanan yang lebih baik”  Kata Riza. Harapannya setelah adanya kegiatan dialog ini, Jurusan Perikanan UMM yang saat ini telah memiliki akreditasi A ini mampu mengevaluasi dan terus berkembang untuk menjadi sebuah lembaga yang melahirkan pionir kebangkitan sumber daya manusia pada sektor perikanan. Acara ini juga dihadiri oleh Hany Handajani, S.Pi, M.Si sebagai Kepala Laboratorium Perikanan, Dr.Ir. David Hermawan, M.P sebagai dosen perikanan dan juga Senator Universitas Muhammadiyah Malang serta Ganjar Adhy Wirawan, S.Pi, M.Si sebagai dosen perikanan dan juga instruktur Laboratorium Perikanan.  (Hamdi Rosyidi)* *) mahasiswa Jurusan Perikanan UMM angkatan 2012

Perikanan UMM-MAI Siapkan Gerakan Indonesia Bertambak

PROGRAM Studi (Prodi) Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan menjadi bagian dari gerakan Indonesia Bertambak yang dicanangkan Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI). Hal itu terungkap dalam penandatangananmemorandum of understanding (MoU) antara Prodi Perikanan UMM dan MAI yang berlangsung Jumat (26/9) di Aula BAU UMM. MoU ini sekaligus meneruskan kegiatan kuliah umum bagi mahasiswa Perikanan UMM sehari sebelumnya, Kamis (25/9) di UMM Dome.       Melalui gerakan Indonesia Bertambak, menurut ketua Prodi Perikanan UMM  Riza Rahman Hakim S.Pi M.Sc, lulusan fresh graduate Perikanan UMM akan segera disalurkan ke tambak-tambak seluruh Indonesia dalam jangka waktu tertentu untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka dapatkan selama bangku kuliah.       Selain bagi fresh graduate, MAI juga memberi peluang bagi mahasiswa aktif magang di lembaga tersebut untuk bekerja bersama akademisi, peneliti, birokrat serta praktisi bidang kelautan dan perikanan. “Dengan metode ini, mahasiswa diharapkan memiliki bekal dan wawasan berharga ketika nantinya bekerja secara mandiri, sekaligus berkontribusi dalam memperluas produksi sumber daya Indonesia,” tutur Riza yang meraih gelar master di Kasetsart University, Thailand ini. Ketua MAI Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS selepas penandatangan MoU menyebutkan, kerjasama MAI dan UMM ini akan sangat strategis karena UMM dalam banyak hal tengah menjadi trend setter bagi kampus-kampus lain. “Saya juga nantinya akan berkomunikasi dengan pak Muhadjir Effendy (rektor UMM, red) agar UMM memilikiconcern khusus di bidang kelautan. Ini penting, UMM kan banyak follower-nya, supaya nanti bisa diikuti kampus lain,” ujar mantan Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 ini.       Lebih dari itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan Abduh Nurhidayat yang hadir saat kuliah umum memaparkan, industri akuakultur merupakan penggerak ekonomi unggulan di negara ini. “Sumber daya ikan Indonesia memang begitu kaya karena pengelolaannya tidak terbatas oleh cuaca dan waktu,” tandasnya.       Mengamini hal tersebut, Sekjen MAI Ir Agung Sudaryono MSc PhD bahkan menyebutkan, produksi perikanan budidaya Indonesia merupakan yang terbesar kedua di dunia, yakni lebih dari 3,5 juta ton per tahun, hanya kalah dari Cina. Selain itu, lanjutnya seraya merujuk data Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2014, sektor perikanan budidaya, baik tawar, payau, maupun laut merupakan sumber pendapatan usaha rumah tangga terbesar dengan nilai mencapai Rp 196,4 juta per tahun, mengungguli sektor usaha padi, hortikultura, perkebunan, peternakan, dan kehutanan.       Bagi Agung, hal itu menjadi bukti bahwa nilai dan produksi sektor perikanan merupakan sumber pendapatan negara paling potensial dibanding sektor agribisnis lain, dan karenanya perlu penanganan khusus. Untuk itu, kata Agung, MAI berharap pemerintah Jokowi-JK mendatang tetap mempertahankan nomenklatur Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam struktur kabinetnya.       Sikap MAI itu dilatari oleh wacana yang berkembang tentang rencana pemisahan sektor kelautan dan sektor perikanan, di mana sektor kelautan akan masuk dalam Departemen Maritim sementara sektor perikanan akan bergabung dengan Departemen Kedaulatan Pangan termasuk di dalamnya ada pertanian dan peternakan.       “MAI akan memperjuangkan agar sektor kelautan dan perikanan tidak dipisah. Kita harus mencontoh negara-negara maju dunia yang sukses di sektor perikanan seperti Kanada, Norwegia, Irlandia dan Finlandia, di mana dua sektor itu masuk dalam satu departemen, yaitu Department of Fisheries and Ocean (DFO),” paparnya. (sel/han) Source: http://www.umm.ac.id/id/umm-news-4283-student-day-tarik-minat-berorganisasi.html

Lagi, Perikanan UMM Gelar KULPER Nasional

Program Studi (Prodi) Budidaya Perairan Jurusan Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar Kuliah Perdana (Kulper) bagi mahasiswa baru (Maba) jurusan perikanan tahun akademik 2014/2015. Acara yang dilaksanakan sehari setelah Kuliah Umum Nasional ini dilaksanakan di gedung Aula Badan Administrasi Umum (BAU) kampus III Universitas Muhammadiyah Malang pada hari Jumat tanggal 26 September 2014. Kuliah Perdana (Kulper) kali ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa baru saja, namun juga diikuti mahasiswa aktif jurusan perikanan UMM lintas angkatan, aktivis perikanan yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (Himapikani) dan beberapa praktisi perikanan. Acara yang bertajuk “ Menjadikan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dalam Perspektif Islam “ menghadirkan Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, MS sebagai native speaker. Selain itu hadir juga Sekretaris jendral (Sekjen) Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Ir. Agung Sudaryono, M.Sc., Ph.D yang juga merupakan akademisi dari Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang.   Sebelum acara kuliah perdana berlangsung, telah dilaksanakan penandatanganan MoU (memorandum of Understanding) antara Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) dengan Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang. MoU ini merupakan salah satu bukti, bahwa Perikanan UMM akan menjadi bagian dari gerakan Indonesia Bertambak yang dicanangkan oleh Masyarakat Akuakultur Indonesia ungkap Kaprodi perikanan UMM Riza Rahman Hakim, S. Pi, M.Sc. Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001-2004 Prof. Dr. Rokhmin Dahuri MS dalam materinya menerangkan bahwa poros maritim dunia merupakan Indonesia sebagai negara maritim yang maju, kuat, berdaulat dan berbasis ekonomi kelautan, hankam dan budaya maritim serta menjadi teladan (memimpin) dalam berbagai kemajuan IPTEK, kesejahteraan, keadilan dan perdamaian dunia. Ada enam aspek yang harus dibangun sebagai konstruksi negara maritim Indonesia diantaranya yaitu aspek Ekonomi, Hankam, Lingkungan, IPTEK, Budaya, Kelembagaan. Sementara itu menurut Rokhmin Dahuri, ada 8 program pembangunan sektor kelautan prioritas yang harus dikembangkan secara optimal sebagai aksi nyata dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia, diantaranya yaitu sektor Perikanan Tangkap, Perikanan Budidaya, Industri Pengolahan Hasil Perikanan, Industri Bioteknologi Kelautan, Pengembangan Pulau-Pulau Kecil, Pembangunan Tol Laut, Pengembangan Sumberdaya Kelautan Nonkonvensional, serta Pemantapan Kelembagaan Kelautan. Prinsip pembangunan konektivitas maritim (Tol Laut) diantaranya, rute pelayaran melewati tujuh Pelabuhan Utama, yaitu Pelabuhan Kuala Tanjung, Pelabuhan Batam, Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Bitung, dan Pelabuhan Sorong, setiap pelabuhan utama terhubung dengan pelabuhan-pelabuhan Short Sea Shipping (SSS), terbentuknya multiple port call dan ship size, bertujuan menurunkan biaya logistik nasional, mewujudkan sistem distribusi barang yang efisien dan terintegrasi, menjadi solusi yang efektif dalam mencegah berlayarnya kapal berkapasitas kosong dari satu tempat ke tempat lainnya, meningkatkan kapasitas dan efisiensi. “Dengan peta jalan pembangunan kelautan seperti di atas, Insya Allah Indonesia tidak hanya bakal menjadi negara maritim yang besar, kuat, maju, makmur dan berdaulat, tetapi juga akan menjadi poros (kiblat) maritim dunia dalam waktu tidak terlalu lama, 2025”, tegas Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut. Kiriman dari: Ghufron Affandy Mahasiswa Jurusan Perikanan UMM ‘2011   Source:  http://halomalang.com/news/lagi-perikanan-umm-gelar-kulper-nasional

PERERAT SILATURAHMI MELALUI KEJUARAAN FUTSAL

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Perikanan belum lama ini telah mengadakan kegiatan yang mewadahi pecinta olahraga futsal untuk menyalurkan kemampuan mereka. Bertempat di Lapangan Futsal Caesar, Malang, seluruh mahasiswa perikanan semua angkatan, termasuk dosen dan alumni turut serta berpartisipasi memeriahkan kejuaraan futsal dalam rangka memperebutkan piala bergilir Kajur Cup Perikanan tahun 2014 ini. Dengan banyaknya supporter yang hadir, menunjukkan bahwa kegiatan ini sangat diminati oleh mahasiswa perikanan. Acara yang bertemakan “Burn Your Spirit, Show Up Your Statregy” tersebut sengaja diadakan oleh HMJ Perikanan khususnya bidang minat bakat agar terjalin silaturahmi yang erat antar berbagai angkatan di jurusan Perikanan, terutama untuk angkatan 2013/2014 yang masih baru agar mengenal lingkungan mereka. Selain  memberikan kesehatan jasmani pada tubuh, dengan kegatan semacam ini juga dapat memupuk sportivitas, pengendalian emosi diri, dan persaingan yang sehat. Turnamen Futsal yang memperebutkan piala bergilir Kajur Perikanan ini akan diagendakan setiap tahunnya oleh Jurusan dan HMJ Perikanan. Adapun pertandingan futsal kali ini diikuti oleh 9 tim dari berbagai angkatan, kemudian setelah beberapa pertandingan berlangsung akhirnya didapatkan 4 tim yang maju ke babak semifinal, yaitu tim dari angkatan 2012, angkatan 2013 kelas A, 2013 Kelas B, serta mahasiswa angkatan 2009. Pertandingan semifinal berlangsung sangat ketat dengan tensi yang tinggi, dan akhirnya didapatkan finalis dari angkatan 2013 kelas A dan kelas B. Walaupun mereka termasuk muda diantara mahasiswa perikanan lainnya, tetapi kemampuan mereka cukup membanggakan. Pertandingan futsal tersebut akhirnya dimenangkan oleh mahasiswa angkatan 2013 kelas B yang telah berjuang keras untuk mendapatkan piala bergengsi tersebut. Euforia kemenangan tidak hanya dirasakan oleh pemenang saja, akan tetapi semua supporter juga turut merayakannya. “ Semoga acara semacam ini akan berlanjut untuk tahun depan, dan diharapkan juga tidak hanya olahraga futsal yang diselenggarakan, karena masih banyak lagi ide-ide yang dapat memeriahkan kejuaraan Kajur Cup“ papar Yogatama salah satu mahasiswa angkatan 2012. “ Walaupun tim kami tidak berhasil mendapatkan piala Kajur Cup tersebut, tetapi semua mahasiswa perikanan sangat senang karena selain kegiatan ini dilakukan satu tahun sekali, pertandingan futsal ini mampu mengumpulkan semua mahasiswa perikanan dari semua angkatan dan ini jarang terjadi” jawab Tiyok Susanto yang merupakan salah satu peserta pertandingan futsal angkatan 2011 dan juga ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Perikanan. (Khusnul K)

HIMAPERIK MENULIS DAN BERKARYA MELALUI SOSIALISASI PKM

Himpunan Mahasiswa Jurusan Perikanan atau lebih dikenal dengan HMJ Perikanan (Himaperik) belum lama ini kembali merealisasikan salah satu program kerjanya, yaitu Sosialisasi Penulisan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa). Program kerja di bidang keilmuan ini tentunya diadakan untuk membantu para mahasiswa perikanan terutama mahasiswa baru angkatan 2013/2014 yang mungkin sebagian besar dari mereka masih kurang paham tentang PKM itu sendiri. PKM adalah program penulisan karya tulis yang diselenggarakan oleh Dikti untuk mahasiswa khususnya program sarjana guna mengasah kemampuan menulis dan mengembangkan kreatifitas dalam sebuah karya cipta. Kegiatan ini dihadiri sekitar 40 mahasiswa dari berbagai angkatan. Sosialisasi penulisan PKM sendiri di isi oleh 3 pemateri yaitu Ibu Hany Handayani, S.Pi. M.Si sebagai pemateri utama, dimana beliau telah lama berkecimpung dalam pembimbingan penulisan karya ilmiah khususnya PKM. Selain itu beliau menjabat juga sebagai kepala Laboratorium Perikanan UMM dan Dosen Perikanan di Fakutas Pertanian-Peternakan UMM. Pemateri lain yaitu Jefri Lazaroni, S.Pi yang pada tanggal 22 Februari lalu telah diwisuda sebagai sarjana perikanan dengan IPK tertinggi nomor 2 se-Fakultas Pertanian-Peternakan UMM. Pemateri ketiga diisi oleh Rindya Fery Indrawan yang memberikan motivasi kepada para mahasiswa untuk menciptakan sebuah karya inovasi yang mampu menembus ajang bergengsi di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), suatu kegiatan yang pernah dia ikuti. Dalam Sosialisasi penulisan PKM yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam tersebut, dipaparkan oleh pemateri mengenai PKM secara rinci, mulai dari jenis PKM, cara atau metode penulisan yang sesuai prosedur, keuntungan dalam menulis PKM sampai pada seberapa besar peluang lolosnya PKM yang akan dibuat berdasarkan jenisnya. “Jika pada tahun 2011-2012 jenis PKM yang banyak diterima adalah PKMP dan PKMK, terutama dalam bidang makanan, maka pada tahun 2013-2014 lebih cenderung pada PKMT yang berorientasi pada Teknologi” papar Ibu Hany Handayani. Dijelaskan pula, hingga 30 Maret mendatang Dikti akan menerima proposal dari PKM-AI dan PKM-GT yang masih mempunyai peluang cukup besar untuk lolos. PKM yang sudah diterima kemudian akan didanai oleh Dikti. Adapun jumlah dana yang disediakan mencapai 12 juta per proposal. Setelah itu tim Monev akan memonitoring dengan presentasi kegiatan dan jika presentasi tersebut lolos maka peserta yang terdiri dari 3-5 orang dari angkatan yang berbeda berhak masuk di PIMNAS. Tentunya mengikuti acara semacam itu merupakan kebanggaan tersendiri bagi mahasiswa yang menjadi pesertanya, apalagi jika berhasil sebagai pemenang PIMNAS. (Khusnul Khotimah)* *Penulis adalah mahasiswi Perikanan UMM angkatan 2012

Lulusan Thailand Menjadi Nahkoda Baru di Jurusan Perikanan UMM

Baru-baru ini Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pergantian kepemimpinan di tingkat Jurusan pada semua Fakultas. Pelantikan Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan di lingkungan UMM tersebut dilakukan oleh Dekan masing-masing Fakultas. Dr. Muhadjir Effendi, M.AP, selaku Rektor UMM yang hadir pada saat itu memberikan sambutan dan pengarahan berkaitan dengan pengembangan Jurusan dan model kepemimpinan yang sebaiknya dijalankan oleh setiap pemimpin. “Tugas seorang pemimpin diantaranya adalah membagi, yaitu membagi tugas, wewenang dan juga rizki” ucap Rektor dihadapan para Kajur dan Sekjur baru, mantan Kajur, serta pejabat di tingkat Fakultas maupun Universitas. Kajur dan Sekjur periode 2014-2018 ini tampak sekali didominasi oleh usia muda, dan ini menjadi hal positif untuk regenerasi kepemimpinan. Begitu pula yang terjadi di Jurusan Perikanan UMM, yang saat ini dipimpin oleh Riza Rahman Hakim, S.Pi, M.S. Dosen muda yang baru menyelesaikan studi masternya di bidang Aquaculture (budidaya perikanan) di Kasetsart University, Thailand ini langsung diberi amanah untuk menjadi nahkoda baru di Jurusan Perikanan, Fakulktas Pertanian-Peternakan, UMM. Prestasi yang ditorehkan Kajur baru Perikanan ini cukup membanggakan, diantaranya adalah mendapatkan beasiswa studi lanjut S2 dari Dikti dan beasiswa penelitian thesis dari Kasetsart University. Disamping itu, dia juga dapat menyelesaikan studi masternya tersebut kurang dari 2 tahun (1 tahun 10 bulan). Penelitian yang dilakukan untuk thesisnya juga sangat menarik, yaitu pemanfaatan bungkil biji jarak pagar (Jatropha curcas) untuk pakan ikan. Ide penelitian itu muncul karena selama ini biji jarak pagar telah diketahui memiliki kandungan minyak yang tinggi, namun bungkil biji jarak yang merupakan hasil proses ekstraksi pengambilan minyak (oil extraction) masih belum termanfaatkan dengan baik. Ketika studi di Thailand, Riza Rahman juga aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan Indonesia di Thailand yang dikenal dengan nama PERMITHA (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand). Bahkan dia menjadi salah satu pengurus di bidang Sumberdaya Manusia(SDM) untuk periode 2012-2013. Menurutnya, aktif di organisasi merupakan sarana untuk mengasah soft skill dalam kepemimpinan, serta untuk membangun net working. Dan hal itu telah dilakukannya sejak masa kuliah S1. Kini, sebagai nahkoda baru di Jurusan Perikanan, Riza Rahman bercita-cita untuk menjadikan Jurusan Perikanan UMM yang memiliki program studi Budidaya Perairan ini bisa bersaing dengan program studi yang sama di lingkungan PTN. Dengan akreditasi Jurusan Perikanan yang mendapat nilai A dan mulai dibangunnya laboratorium Perikanan yang baru, serta meningkatnya jumlah mahasiswa, maka bisa dijadikan modal untuk menjadikan Jurusan Perikanan UMM sebagai salah satu Jurusan yang Unggul dan Kompetitif. Tentunya semua itu bisa tercapai dengan dukungan seluruh civitas akademika yang ada di Jurusan, Fakultas maupun Universitas. (rh)

Jurusan Perikanan UMM Jalin Kerjasama Ke Thailand

Malang – Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) aktif menjalin kerjasama dengan kampus di dalam dan luar negeri. Pada pertengahan bulan Februari lalu, sejumlah dosen dan mahasiswa perikanan UMM melawat ke Kasetsart University Bangkok Thailand, untuk sharing dan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU). Ketua Jurusan Perikanan UMM, Sri Dwi Hastuti, S.Pi., M.Aqua sebelumnya kerjasama telah dibangun melalui pengiriman dosen untuk studi master disana. “Kali ini kami bertemu untuk memperkuat dan memperluas lagi kerjasama ini dengan menandatangani MoU,” kata dosen lulusan Australia ini. Sri Dwi Astuti mewakili pihak UMM, sedangkan dari Kasetsart University diwakili Pembantu Dekan bidang Akademik Fakultas Perikanan Dr. Methee Kaewnern. Penandatanganan MoU juga disaksikan dosen dan mahasiswa Jurusan Perikanan UMM. Mereka adalah Ir. David Hermawan, M.P., Ir. Sutawi M.P., Hani Handayani, S.Pi., M.Si., Ganjar Adhy W. S.Pi dan Riza Rahman Hakim, S.Pi yang sedang studi S2 di Kasetsart University dan 2 perwakilan mahasiswa Jurusan Perikanan UMM Rindya Fery Indrawan dan Jeffri Lazarroni. Kerjasama ini lanjutnya meliputi 4 aspek. Pertama, pertukaran materi pendidikan, penelitian, publikasi dan informasi akademik. Kedua, pertukaran dosen dan mahasiswa. Ketiga, pengembangan sumberdaya manusia dan Keempat, berkolaborasi dalam kegiatan riset dan pertemuan ilmiah. Romobongan Jurusan Perikanan UMM juga mengunjungi Faculty of Science, Mahidol University untuk penjajakan kerjasama riset di bidang Center for Genetic Engineering and Biotechnologi CENTEX Shirmp. Di Mahidol University,  Jurusan Perikanan UMM langsung disambut hangat oleh Head of CENTEX Shirmp Prof. Boonsirm Withyachumnamkul, Prof. Tim Plegel dan Prof. Saengchan Senapin. Di sana rombongan memperoleh banyak informasi tentang biomulekuler pada udang.rfi

Jurusan Perikanan UMM menyelenggarakan Betta Fishes Contest

Jurusan Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan menyelenggarakan kontes Ikan Cupang dengan tema “Betta Fishes Contest” Rabu (26/6) di Dome UMM. Kompetisi ini bertujuan untuk mengapresiasi kepada para pecinta Ikan Cupang di Indonesia dan sebagai media informasi kepada masyarakat umum tentang pemeliharaan Ikan Cupang jelas Ketua Pelaksana Tiyok, mahasiswa angkatan 2011. Dalam penyelenggaraan kontes kali ini Jurusan Perikanan UMM bekerjasama dengan Malang Betta Community  dengan kategori SERIT, HALFMOON, PLAKAT dan BABY.  Kontes Ikan Cupang di buka untuk umum dengan biaya pendaftraan Rp.20.000,- per ekor, Juara Umum akan mendapatkan Uang Pembinaan, Trophy, dan Piagam Penghargaan. pendaftaran paling lambat pada tanggal 26 Juni 2013  jam 12.00 WIB lewat batas waktu ikan tidak dapat diterima, tegas Tiyo. (rfi/fp/mza)

Mahasiswa Perikanan UMM Ikuti Kemah Riset Perikanan

Kemah Riset Perikanan Wilayah(KRPW) merupakan agenda tahunan yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia(HIMAPIKANI) wilayah IV. Kegiatan yang berlangsung di Lembaga Kemahasiswaan Perikanan Universitas Tujuh Bekas Agustus 1945 ini dilakukan selama 4 hari mulai tanggal 18-21 februari 2013 yang diikuti oleh beberapa Lembaga Kemahasiswaan Perikanan(LKP) di wilayah Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara termasuk Universitas Muhammadiyah Malang. Inti kegiatan dari agenda KRPW ini adalah melakukan riset perikanan yang meliputi perikanan budidaya, pesisir dan penangkapan yang ada di daerah Banyuwangi. Setelah melakukan riset, dilakukan perumusan solusi untuk memecahkan permasalahan atau konflik yang dihadapi para pelaku perikanan di daerah Banyuwangi yang kemudian diteruskan ke pihak-pihak terkait berupa prosiding kegiatan.             Riset perikanan budidaya dilakukan di Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan(PM2KP) Raja Lele. PM2KP Raja Lele merupakan binaan dari Dinas Perikanan dan Kelautan setempat. Kegiatan budidaya yang dilakukan oleh PM2KP Raja Lele yaitu adalah kegiatan pembenihan ikan lele sekaligus pembesarannya. Benih yang di tebar berasal dari persilangan induk sangkuriang. Benih yang di tebar diproduksi sendiri. Padat tebar dalam melakukan budidaya pembesaran lele adalah 2000/m2. Terlihat aneh, namun ini kenyataan yang ada di lapangan. Meski padat tebar sangat tinggi, namun pertumbuhan ikan juga relatif baik dengan angka SR mencapai 80%. Namun dalam melakukan budidaya ini perlu disediakan banyak kolam, karena setiap 10 hari sekali dilakukan greeding untuk mengurangi jumlah biomassa yang ada di kolam penebaran awal.             Selanjutnya yaitu riset mengenai daerah pesisir dan penangkapan perikanan yang dilakukan di Tempat Pelelangan Ikan(TPI) Muncar Banyuwangi dengan dasar pemilihan lokasi sebagai kawasan Minapolitan dan adanya penurunan hasil tangkapan . Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan langsung di lapangan , ternyata banyak sekali permasalahan atau konflik yang terjadi di TPI Muncar. Permasalahan yang ditemukan di lapangan adalah Kurangnya pasokan BBM akibat ketersediaan SPBN yang tidak mencukupi untuk semua armada Bantuan pemerintah yang dinilai nelayan tidak tepat sasaran Konflik dengan nelayan luar muncar Tidak adanya pengolahan limbah sisa kegiatan perikanan yang mencemari kawasan Muncar Alokasi retribusi yang tidak jelas peruntukkannya.              Salah konflik yang terjadi adalah konflik antar nelayan yaitu antara nelayan purse seine lokal dan nelayan andon. Istilah nelayan andon sebenarnya hanya untuk menyatakan seseorang atau beberapa orang yang ada dan beroperasi disuatu daerah dan daerah tersebut bukan merupakan tempat tinggalnya atau bukan merupakan tempat asli nelayan tersebut. Inti dari masalah atau konflik yang terjadi antar nelayan adalah kecemburuan terhadap hasil tangkapan yang berbeda. Sebenarnya jika nelayan lokal dan andon sama-sama mendapatkan hasil, hal tersebut tidak menjadikan masalah. Akan tetapi jika nelayan andon mendapat hasil tetapi nelayan lokal tidak mendapat hasil maka hal tersebut memicu terjadinya konflik. Pada dasarnya konflik terjadi karena masalah kecemburuan sosial dan ekonomi. Hal tersebut terlihat dari sisi Sumber Daya Manusia(SDM) nelayan andon yang lebih baikdaripada nelayan lokal, karena nelayan pantai utara lebih bisa menerima alih teknologi, terutama teknologi yang berhubungan dengan alat tangkap serta cara menangkap ikan yang lebih modern. Hal itu terbukti dengan adanya perbedaan alat tangkap yang digunakan antara nelayan lokal dan nelayan andon. Nelayan lokal memilih menangkap ikan dengan peralatan tradisional yaitu menangkap ikan dengan tanpa lampu, kalaupun menggunakan lampu itupun hanya sebagai penerangan ketika akan melaut. Sedangkan nelayan andon justru menggunakan lampu terang benderang saat melakukan penangkapan ikan, bahkan lampu tersebut dimasukkan ke dalam air sehingga banyak ikan-ikan yang mengumpul di sumber cahaya tersebut yang akhirnya bardampak pada hasil tangkapan yang didapatkan. Adanya perbedaan cara tangkap antara nelayan lokal dan nelayan andon di latar belakangi karena pola pikir masyarakat nelayan lokal yang masih sangat tradisional yaitu menangkap ikan dengan mengedepankan naluri dan kebersamaan ketika turun ke laut. Selain itu masyarakat nelayan lokal selalu berfikir bagaimana memberikan warisan yang baik berupa kekayaan laut kepada generasi penerusnya. Untuk itu , HIMAPIKANI Wilayah 4 memberikan rekomendasi kepada DKP Banyuwangi dan pihak-pihak terkait tentang temuan riset di lapangan.Berikut merupakan rumusan rekomendasi Peningkatan SDM melalui kegiatan penyuluhan, sosialisasi dan pelatihan Adanya standarisasi harga ikan di tiap wilayah Menghidupkan kembali sistem lelang di TPI Progam pemerintah dilakukan tepat sasaran sehingga lebih efektif dalam membantu mengentaskan kemiskinan nelayan Perbaikan dan peningkatan fasilitas di kawasan TPI Kegiatan KRPW diakhiri dengan seminar yang membahas tentang penyampaian materi oleh Bapak Yanuar, S.Pi sebagai pengusaha udang vanname dalam pengembangan teknologi budidaya udang vanname menggunakan semiflok.Hal ini merupakan informasi baru yang berguna untuk memperluas wawasan mahasiswa dalam kegiatan budidaya terutama udang vanname. Beliau memamaparkan dengan menggunakan sistem semiflok dirasa paling tepat jika menilik dari kebutuhan kuantitas dan kualitas perairan yang semakin menurun. Sistem BFT (Biofloc technology) yang menggunakan pin point floc /small biofloc untuk budidaya akuakultur, khususnya pada budidaya udang putih atau  udang windu. Pin  floc / small floc diperoleh dan dibentuk dengan pengkondisian jumlah floc forming bacteria (pada khususnya genera Bacillus sp dan Pseudomonas putida) yang ditambahkan secara kontinyu dan teratur ke dalam sistem budidaya agar diperoleh rasio jumlah floc forming bacteria > bakteri filamen atau minimal jumlah floc forming bacteria = jumlah bakteri filamen. (rpa/rfi)