Menjaga Kedaulatan di Balik Ombak: Penghormatan untuk Pahlawan Pangan di Hari Nelayan Nasional 2026

Menjaga Kedaulatan di Balik Ombak: Penghormatan untuk Pahlawan Pangan di Hari Nelayan Nasional 2026

Malang, 6 April 2026 – Pernahkah kita sejenak merenungkan, berapa mil laut yang harus ditempuh dan berapa besar risiko yang dihadapi demi sepiring hidangan laut yang tersaji hangat di meja makan kita? Pertanyaan ini menjadi refleksi utama di tengah peringatan Hari Nelayan Nasional yang jatuh tepat pada hari ini, 6 April 2026. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas perairan yang mencapai dua pertiga wilayahnya, nelayan bukan sekadar profesi, melainkan garda terdepan dalam menjaga kedaulatan pangan dan identitas bangsa bahari Indonesia. Dedikasi Tanpa Batas di Tengah Tantangan Global Bagi jutaan nelayan di pelosok nusantara, laut adalah kantor sekaligus rumah. Mereka bekerja saat dunia tertidur, menerjang ketidakpastian cuaca, dan beradaptasi dengan perubahan iklim yang kian ekstrem. Namun, dedikasi mereka sering kali luput dari perhatian arus utama. Peringatan tahun ini mengusung semangat “Nelayan Sejahtera, Samudra Terjaga”. Fokus utamanya bukan sekadar merayakan hasil tangkapan yang melimpah, melainkan menyoroti pentingnya akses teknologi, perlindungan jaminan sosial, serta keberlanjutan ekosistem laut yang menjadi tumpuan hidup mereka. Pilar Ekonomi dan Ketahanan Pangan Data menunjukkan bahwa sektor perikanan terus menjadi kontributor signifikan bagi ekonomi nasional. Di balik angka-angka pertumbuhan tersebut, terdapat tangan-tangan tangguh nelayan tradisional maupun modern yang memastikan asupan protein bagi seluruh lapisan masyarakat terpenuhi. “Hari Nelayan adalah momentum bagi kita semua—pemerintah, pelaku industri, hingga konsumen—untuk bersinergi. Menghargai nelayan berarti memastikan mereka mendapatkan harga yang adil atas hasil tangkapannya dan mendapatkan perlindungan hukum yang kuat saat melaut,” ujar salah satu perwakilan asosiasi nelayan dalam peringatan tahun ini. Harapan di Tengah Arus Modernisasi Memasuki era digital, tantangan nelayan kian kompleks. Mulai dari penggunaan alat tangkap ramah lingkungan hingga digitalisasi pemasaran hasil laut. Harapannya, peringatan Hari Nelayan Nasional 2026 ini menjadi titik balik bagi penguatan ekosistem maritim yang lebih inklusif. Mari kita jadikan momentum ini untuk lebih peduli. Bukan hanya dengan menikmati hasil lautnya, tapi dengan menjaga kebersihan laut dan mendukung produk-produk tangkapan nelayan lokal. Karena setiap jaring yang ditarik, membawa harapan bagi masa depan generasi bangsa. Selamat Hari Nelayan Nasional 2026. Jayalah Lautku, Sejahteralah Nelayanku.

Mahasiswa Akuakultur UMM Ikuti Seleksi Ketat untuk Program ke Jepang Japan Corner Siapkan Bimbingan Bahasa Jepang Satu Tahun Penuh

prodi akuakultur

Malang — Program Studi Akuakultur Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menggenjot program internasionalisasi melalui kerja sama dengan Shimonoseki City University (SCU), Jepang. Puluhan mahasiswa Akuakultur kini turut serta dalam proses seleksi ketat untuk mengikuti program student exchange, internship, dan beasiswa lanjut studi S2 di Jepang. Seleksi ini merupakan tahap penting setelah penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan peresmian Japan Academic and Cultural Center (Japan Corner) pada November 2025. Japan Corner hadir sebagai pusat informasi dan persiapan bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan program akademik ke Negeri Sakura. Dalam tahapan seleksi ini, mahasiswa Program Studi Akuakultur UMM aktif mengikuti berbagai tes, termasuk penilaian akademik, wawancara, dan portofolio. Bagi yang berhasil lolos, UMM melalui Japan Corner akan memberikan bimbingan bahasa Jepang secara intensif selama satu tahun penuh. Program bimbingan ini dirancang sebagai bekal utama agar mahasiswa siap menghadapi kehidupan akademik dan budaya di Jepang, mulai dari kemampuan komunikasi sehari-hari hingga bahasa teknis di bidang akuakultur. “Melalui bimbingan bahasa Jepang selama satu tahun ini, kami ingin memastikan mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap beradaptasi dengan lingkungan di Shimonoseki City University. Ini menjadi keunggulan tersendiri dari program kerja sama kami,” ujar perwakilan Program Studi Akuakultur UMM. Program yang ditawarkan meliputi: Student Exchange selama satu hingga dua semester Internship di laboratorium dan industri perikanan Jepang yang mengusung teknologi modern seperti Recirculating Aquaculture System (RAS) Beasiswa lanjut studi S2 bagi mahasiswa berprestasi Japan Corner berfungsi sebagai “rumah” bagi para calon peserta program. Selain bimbingan bahasa, fasilitas ini juga menyediakan konsultasi, pelatihan budaya Jepang, dan pendampingan proses administrasi visa serta pendaftaran ke SCU. Rektor UMM menyambut antusiasme mahasiswa Akuakultur dalam mengikuti seleksi ini. “Kehadiran Japan Corner dan program bimbingan bahasa satu tahun ini membuktikan komitmen UMM untuk benar-benar mempersiapkan mahasiswanya agar sukses di kancah internasional,” katanya. Bagi mahasiswa Akuakultur UMM yang ingin bergabung, pendaftaran dan sosialisasi seleksi selanjutnya akan segera diumumkan melalui Japan Corner dan situs resmi Program Studi Akuakultur. Informasi lengkap juga dapat diperoleh langsung di Japan Academic and Cultural Center UMM. Dengan adanya persiapan matang ini, diharapkan semakin banyak lulusan Akuakultur UMM yang mampu berkontribusi pada pengembangan sektor perikanan dan kelautan Indonesia setelah merasakan pengalaman studi dan magang di Jepang.

Program Studi Akuakultur UMM Tandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan Shimonoseki City University Jepang Dorong Student Exchange, Internship, dan Beasiswa Lanjut Studi S2

prodi akuakultur

Malang — Program Studi Akuakultur Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi menjalin kerja sama internasional dengan Shimonoseki City University (SCU), Jepang. Perjanjian ini mencakup program student exchange, internship, serta beasiswa untuk melanjutkan studi jenjang S2 di Jepang. Kerja sama ini merupakan bagian dari penguatan Memorandum of Understanding (MoU) antara UMM dan SCU yang telah ditandatangani sebelumnya. Fokus utama kolaborasi di bidang akuakultur dan perikanan diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta pengembangan riset teknologi budidaya perairan yang modern dan berkelanjutan. Menurut rencana, mahasiswa Program Studi Akuakultur UMM berkesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa (student exchange) selama satu hingga dua semester di Jepang. Selain itu, tersedia pula kesempatan magang (internship) di laboratorium dan industri perikanan Jepang yang memiliki reputasi tinggi di bidang teknologi akuakultur, termasuk sistem resirkulasi (RAS) dan budidaya spesies unggulan. Salah satu keunggulan terbesar dari perjanjian ini adalah peluang beasiswa lanjut studi S2. Mahasiswa berprestasi dari Prodi Akuakultur UMM dapat melanjutkan pendidikan magister di Shimonoseki City University dengan dukungan beasiswa, sehingga membuka pintu karir internasional di sektor perikanan dan kelautan. Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM menyambut baik kerja sama ini. “Kolaborasi dengan universitas Jepang yang memiliki keahlian mendalam di bidang perikanan ini akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa kami. Mereka tidak hanya mendapatkan pengalaman akademik internasional, tetapi juga keterampilan praktis yang dibutuhkan industri global saat ini,” ujarnya. Shimonoseki City University sendiri dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi di Jepang yang fokus pada ilmu perikanan, kelautan, dan agribisnis. Kerja sama ini juga sejalan dengan upaya UMM dalam menginternasionalkan kampus dan mendukung visi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Bagi mahasiswa yang tertarik, Program Studi Akuakultur UMM akan segera membuka pendaftaran dan sosialisasi lebih lanjut mengenai program student exchange, internship, serta persyaratan beasiswa S2. Informasi lengkap dapat diakses melalui situs resmi Prodi Akuakultur UMM atau menghubungi bagian kerjasama internasional fakultas. Dengan terjalinnya kerja sama ini, diharapkan semakin banyak mahasiswa UMM yang dapat merasakan pendidikan berkualitas dunia dan berkontribusi pada pengembangan sektor akuakultur Indonesia ke depan.

Program Studi Akuakultur UMM Tandatangani Kerja Sama dengan Shimonoseki City University Jepang Japan Corner Hadir sebagai Jembatan Akses Program Akademik ke Negeri Sakura

prodi akuakultur

Malang — Program Studi Akuakultur Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) semakin memperkuat internasionalisasinya melalui perjanjian kerja sama dengan Shimonoseki City University (SCU), Jepang. Perjanjian ini mencakup program student exchange, internship, serta beasiswa lanjut studi S2. Kerja sama ini tidak hanya ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), tetapi juga peresmian Japan Academic and Cultural Center atau yang dikenal sebagai Japan Corner di lingkungan kampus UMM. Japan Corner sengaja didirikan untuk memudahkan akses mahasiswa UMM yang ingin mengikuti berbagai program akademik ke Jepang, mulai dari pertukaran mahasiswa, magang, hingga melanjutkan pendidikan pascasarjana. “Japan Corner menjadi pusat informasi, pembelajaran bahasa dan budaya Jepang, serta wadah konsultasi bagi mahasiswa yang berminat mengikuti program internasional. Fasilitas ini dirancang agar mahasiswa lebih mudah mempersiapkan diri, mulai dari pendaftaran student exchange hingga proses pengajuan beasiswa S2 di Shimonoseki City University,” ujar salah satu perwakilan UMM.Melalui perjanjian ini, mahasiswa Program Studi Akuakultur UMM berkesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa selama satu hingga dua semester di Jepang. Selain itu, tersedia kesempatan internship di laboratorium dan industri perikanan Jepang yang terkenal dengan teknologi budidaya perairan modern dan berkelanjutan, seperti sistem resirkulasi akuakultur (RAS).Keunggulan lain dari kerja sama ini adalah peluang beasiswa lanjut studi S2. Mahasiswa berprestasi dari Prodi Akuakultur dapat melanjutkan pendidikan magister di SCU dengan dukungan beasiswa penuh atau parsial, sekaligus memperdalam pengetahuan di bidang akuakultur, perikanan, dan agribisnis kelautan. Japan Corner juga berfungsi sebagai ruang kolaborasi untuk penelitian bersama, dialog budaya, serta persiapan mahasiswa sebelum berangkat ke Jepang. Dengan hadirnya fasilitas ini, diharapkan semakin banyak mahasiswa UMM — khususnya dari Program Studi Akuakultur — yang dapat merasakan pengalaman pendidikan berkualitas internasional.Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM menyatakan bahwa kerja sama ini sejalan dengan komitmen universitas untuk mendukung visi Indonesia sebagai poros maritim dunia. “Kehadiran Japan Corner menjadi babak baru yang sangat strategis. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan akses program akademik, tetapi juga pemahaman budaya yang lebih mendalam,” katanya.Bagi mahasiswa yang tertarik, Program Studi Akuakultur UMM bersama Japan Corner akan segera menggelar sosialisasi dan pendaftaran program student exchange, internship, serta beasiswa S2. Informasi lengkap dapat diperoleh melalui Japan Corner, situs resmi Prodi Akuakultur UMM, atau bagian Kerja Sama Internasional Fakultas.

Dosen UMM ajarkan Budidaya Perikanan Berkelanjutan melalui Sistem Akuaponik di Lawang, Kabupaten Malang

Dalam rangka mendukung peningkatan kapasitas pembudidaya ikan, Dinas Perikanan Kabupaten Malang menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya Ikan Lele Sistem Akuaponik pada Rabu, 12 Februari 2026, bertempat di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Kegiatan yang merupakan bagian dari program DBH CHT Tahun Anggaran 2026 ini menghadirkan Kepala Laboratorium Perikanan UMM, Bapak Indra, sebagai pemateri utama. Dalam kesempatan tersebut, peserta yang terdiri dari masyarakat dan pembudidaya ikan mendapatkan pemahaman mengenai teknik budidaya ikan lele berbasis sistem akuaponik yang terintegrasi dengan tanaman. Dalam pemaparannya, Bapak Indra menjelaskan bahwa sistem akuaponik menjadi solusi inovatif yang tidak hanya meningkatkan efisiensi budidaya, tetapi juga ramah lingkungan. “Sistem akuaponik memungkinkan kita untuk mengoptimalkan lahan yang terbatas dengan hasil yang lebih maksimal, karena menggabungkan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem yang saling menguntungkan,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya pemahaman teknis dalam pengelolaan kualitas air serta pemilihan komponen dalam sistem akuaponik. “Kunci keberhasilan budidaya ini terletak pada manajemen air dan keseimbangan ekosistem. Jika dikelola dengan baik, hasilnya dapat lebih produktif dan berkelanjutan,” tambahnya. Kegiatan berlangsung secara interaktif, di mana peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga berdiskusi langsung terkait kendala yang dihadapi di lapangan. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi berlangsung. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat mengimplementasikan sistem budidaya ikan lele berbasis akuaponik secara mandiri, sehingga mampu meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan ekonomi masyarakat di sektor perikanan.

Dalam rangka mendukung peningkatan kapasitas pembudidaya ikan, Dinas Perikanan Kabupaten Malang menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya Ikan Lele Sistem Akuaponik pada Rabu, 12 Februari 2026, bertempat di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Kegiatan yang merupakan bagian dari program DBH CHT Tahun Anggaran 2026 ini menghadirkan Kepala Laboratorium Perikanan UMM, Bapak Indra, sebagai pemateri utama. Dalam kesempatan tersebut, peserta yang terdiri dari masyarakat dan pembudidaya ikan mendapatkan pemahaman mengenai teknik budidaya ikan lele berbasis sistem akuaponik yang terintegrasi dengan tanaman. Dalam pemaparannya, Bapak Indra menjelaskan bahwa sistem akuaponik menjadi solusi inovatif yang tidak hanya meningkatkan efisiensi budidaya, tetapi juga ramah lingkungan. “Sistem akuaponik memungkinkan kita untuk mengoptimalkan lahan yang terbatas dengan hasil yang lebih maksimal, karena menggabungkan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem yang saling menguntungkan,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya pemahaman teknis dalam pengelolaan kualitas air serta pemilihan komponen dalam sistem akuaponik. “Kunci keberhasilan budidaya ini terletak pada manajemen air dan keseimbangan ekosistem. Jika dikelola dengan baik, hasilnya dapat lebih produktif dan berkelanjutan,” tambahnya. Kegiatan berlangsung secara interaktif, di mana peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga berdiskusi langsung terkait kendala yang dihadapi di lapangan. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi berlangsung. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat mengimplementasikan sistem budidaya ikan lele berbasis akuaponik secara mandiri, sehingga mampu meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan ekonomi masyarakat di sektor perikanan.

Kepala Laboratorium Perikanan UMM Jadi Pemerhati K3 di Laboratorium Farmasi

Kepala Laboratorium Perikanan UMM Jadi Pemerhati K3 di Laboratorium Farmasi

Kepala Laboratorium Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rindya Fery Indrawan, S.Pi., M.P., menjadi pemerhati sekaligus narasumber dalam kegiatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Laboratorium Farmasi yang dilaksanakan pada Sabtu, 21 Maret 2026, di Kampus 3 UMM, GKB 4. Kegiatan ini diikuti oleh dosen, laboran, serta mahasiswa yang aktif berkegiatan di laboratorium. Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat pemahaman serta kesiapsiagaan sivitas akademika terhadap potensi risiko kecelakaan kerja di laboratorium. Dalam sesi pemaparan materi, Rindya Ferry Indrawan menekankan bahwa penerapan K3 harus menjadi budaya bersama, bukan sekadar formalitas administrasi. “Laboratorium adalah ruang belajar sekaligus ruang berisiko. Karena itu, setiap individu harus paham prosedur keselamatan dan tahu apa yang harus dilakukan saat kondisi darurat terjadi,” ujar Rindya. Tidak hanya penyampaian teori, kegiatan ini juga dilengkapi praktik langsung berupa simulasi penanganan kebakaran. Peserta diajak mempraktikkan penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dengan teknik yang benar, mulai dari cara melepas pin pengaman, mengarahkan nozzle ke titik api, hingga teknik menyapu api dari sisi ke sisi. Selain itu, dilakukan pula simulasi pemadaman api skala kecil menggunakan handuk basah yang ditutupkan ke tong berisi sumber api untuk memutus suplai oksigen. Simulasi tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta agar tidak panik ketika menghadapi situasi darurat. “Dengan latihan seperti ini, kita belajar mengendalikan keadaan, bukan justru dikendalikan oleh kepanikan. Respons cepat dan tepat hanya bisa dibentuk melalui pembiasaan,” tambahnya. Melalui kegiatan ini, diharapkan penerapan standar K3 di lingkungan laboratorium UMM semakin optimal. Kolaborasi lintas laboratorium juga menjadi langkah strategis untuk membangun budaya keselamatan kerja yang kuat, disiplin, dan berkelanjutan di seluruh unit akademik.

Meluruskan Mitos Pakan: Mahasiswa Akuakultur UMM Tekankan Pakan Sebagai Fondasi Kesehatan, Bukan Obat

Meluruskan Mitos Pakan: Mahasiswa Akuakultur UMM Tekankan Pakan Sebagai Fondasi Kesehatan, Bukan Obat

MALANG, Maret 2026 – Industri akuakultur nasional diingatkan untuk mengubah paradigma dalam memandang pakan. Pakan tidak boleh lagi hanya dilihat sebagai alat pemacu pertumbuhan atau biaya produksi semata, melainkan sebagai instrumen strategis untuk menjaga kesehatan dan stabilitas produksi jangka panjang. Dalam dua artikel opini terpisah yang diterbitkan di majalah Info Akuakultur, dua mahasiswa Program Studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang, Natasya Rahmayati dan Riska Eza Febrianti, memberikan sorotan tajam pada peran krusial nutrisi bagi keberlanjutan tambak. Pakan Sebagai Pencegahan, Bukan Pengobatan Riska Eza Febrianti menegaskan perlunya meluruskan anggapan keliru bahwa pakan dapat berfungsi sebagai “obat” saat penyakit mulai muncul. Secara biologis, pakan berperan dalam konteks pencegahan dengan memperkuat ketahanan tubuh udang terhadap tekanan patogen maupun lingkungan sehingga risiko infeksi dapat ditekan sejak awal. Sinergi Organ Dalam: Pakan berkualitas menjaga integritas barrier usus dan fungsi hepatopankreas yang optimal dalam metabolisme serta detoksifikasi. Peran Aditif: Penggunaan probiotik, enzim, dan aditif fungsional membantu menstabilkan mikrobiota usus dan memperkuat respons imun bawaan. Bukan Solusi Instan: Seluruh komponen ini bekerja secara bertahap untuk membangun kesehatan jangka panjang, bukan sebagai “pemadam kebakaran” saat penyakit sudah meledak. Bahaya Jebakan Harga Murah Senada dengan hal tersebut, Natasya Rahmayati menyoroti fenomena pembudidaya yang sering terjebak memilih pakan hanya berdasarkan harga terendah per kilogram. Padahal, pakan murah tanpa evaluasi performa biologis yang jelas justru berisiko meningkatkan biaya produksi melalui: Variabilitas pertumbuhan yang tidak seragam. Lonjakan Rasio Konversi Pakan (Feed Conversion Ratio/FCR). Penurunan kualitas air akibat pakan yang mudah hancur, yang memicu munculnya penyakit oportunistik. Menuju Manajemen Berbasis Data dan Evaluasi Kinerja Kedua mahasiswa tersebut sepakat bahwa pemilihan pakan seharusnya didasarkan pada pendekatan evaluasi kinerja yang objektif. Pemilihan pakan harus mengacu pada parameter biologis seperti laju pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup (survival rate), dan stabilitas kesehatan populasi secara konsisten. “Kesehatan udang merupakan hasil dari proses jangka panjang yang dibangun melalui nutrisi tepat, manajemen lingkungan yang baik, dan disiplin biosekuriti,” tulis Riska. Sementara itu, Natasya menambahkan bahwa ketersediaan data uji lapangan dan dukungan teknis dari produsen menjadi faktor penentu agar aplikasi pakan berjalan optimal. Dengan menempatkan pakan sebagai pilar kesehatan, industri akuakultur diharapkan dapat lebih tangguh dalam menghadapi tantangan biologis dan ekonomi di masa depan.

Bukan Sekadar Harga, Kualitas Pakan Adalah Fondasi Kesehatan dan Stabilitas Produksi Akuakultur

Bukan Sekadar Harga, Kualitas Pakan Adalah Fondasi Kesehatan dan Stabilitas Produksi Akuakultur

MALANG, 03 Maret 2026 – Dalam industri akuakultur, pakan sering kali hanya dipandang sebagai mesin pendorong pertumbuhan. Namun, sebuah perspektif baru menekankan bahwa pakan sejatinya adalah fondasi utama kesehatan organisme yang menentukan stabilitas produksi jangka panjang. Natasya Rahmayati, mahasiswa Program Studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang, dalam artikel terbarunya menyoroti bahwa komposisi nutrisi yang tepat berperan langsung dalam menjaga kondisi fisiologis, meningkatkan daya tahan terhadap stres, serta memperkuat kemampuan organisme menghadapi serangan penyakit. Keseimbangan Nutrisi dan Imunitas Hubungan antara pakan dan kesehatan bersifat kontinu dan kumulatif. Ketidakseimbangan nutrisi—baik kekurangan maupun kelebihan—dapat memicu gangguan fisiologis tersembunyi. Di lapangan, kondisi ini sering kali termanifestasi dalam bentuk: Pertumbuhan yang tidak seragam. Peningkatan rasio konversi pakan (Feed Conversion Ratio/FCR). Penurunan tingkat kelangsungan hidup organisme. Selain itu, pakan dengan kualitas fisik yang buruk atau rendah daya cerna dapat meningkatkan beban metabolik dan memicu gangguan pencernaan. Sisa pakan yang tidak termanfaatkan juga berpotensi menurunkan kualitas air, yang pada akhirnya memperbesar risiko munculnya penyakit oportunistik. Bahaya Memilih Pakan Hanya Berdasarkan Harga Natasya juga menyoroti fenomena di tingkat pembudidaya yang sering kali menjadikan harga murah sebagai faktor dominan dalam memilih pakan tanpa evaluasi performa biologis yang menyeluruh. “Harga murah tidak selalu identik dengan efisiensi. Variabilitas pertumbuhan dan meningkatnya risiko kegagalan panen justru dapat menambah biaya produksi dalam jangka menengah hingga panjang,” tulis Natasya dalam artikelnya. Pendekatan Berbasis Evaluasi Kinerja Sebagai solusi, para pelaku industri didorong untuk beralih ke pendekatan berbasis evaluasi kinerja. Pemilihan pakan seharusnya mengacu pada: Kesesuaian Nutrisi: Harus sesuai dengan fase pertumbuhan dan kondisi fisiologis organisme. Parameter Biologis: Evaluasi berdasarkan laju pertumbuhan, FCR, kelangsungan hidup, dan stabilitas kesehatan populasi. Dukungan Data dan Teknis: Pentingnya ketersediaan data uji lapangan serta pendampingan dari produsen pakan untuk memastikan aplikasi di tambak berjalan optimal. Pada akhirnya, pakan harus diposisikan sebagai elemen strategis dalam manajemen kesehatan budidaya. Pendekatan yang berbasis pemahaman biologis dan evaluasi objektif akan membantu menekan risiko penyakit serta mendukung keberlanjutan sistem akuakultur di masa depan.

Dilema Industri Pakan: Antara Perang Harga dan Ketahanan Budidaya

Dilema Industri Pakan: Antara Perang Harga dan Ketahanan Budidaya

Dunia akuakultur saat ini sedang menghadapi tantangan serius yang bukan lagi sekadar soal kualitas teknis pakan, melainkan tekanan ekonomi yang sistemik. Dalam artikel berjudul “Dinamika Harga dan Uji Ketahanan Industri Pakan Akuakultur”, Muhammad Nabiel Yetzakson, seorang mahasiswa Akuakultur dari Universitas Muhammadiyah Malang, menyoroti fenomena “perang harga” yang kian tajam dan dampaknya terhadap seluruh rantai pasok. 1. Mereka yang Terjepit di Tengah Salah satu temuan menarik dalam artikel ini adalah posisi pabrikan skala menengah. Berbeda dengan anggapan umum bahwa pemain kecil adalah yang paling rentan, pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa pabrikan menengah justru berada di posisi paling terjepit. Kalah Skala: Mereka tidak memiliki akses bahan baku semurah pemain besar (ekonomi skala). Struktur Kaku: Mereka sulit melakukan subsidi silang antar produk dan belum cukup fleksibel untuk berinvestasi besar pada diferensiasi teknis. Ruang Gerak Sempit: Akibatnya, mereka memiliki ketahanan yang rendah terhadap fluktuasi harga pasar. 2. Efek Domino ke Tingkat Petambak Tekanan di sektor hulu (pabrik pakan) secara otomatis mengalir ke sektor hilir (tambak). Kondisi ekonomi memaksa banyak petambak, terutama skala kecil-menengah, untuk memilih pakan hanya berdasarkan harga per kilogram termurah. Namun, Nabiel memperingatkan bahwa strategi ini adalah “risiko yang tersembunyi”. Pakan murah yang tidak konsisten kualitasnya dapat menyebabkan: Pertumbuhan udang yang tidak seragam. Feed Conversion Ratio (FCR) yang sulit dikendalikan. Udang menjadi lebih rentan terhadap perubahan lingkungan dan penyakit. 3. Kompetisi sebagai Seleksi Alam Artikel ini memandang kompetisi harga bukan hanya sebagai beban, melainkan sebagai bentuk seleksi struktural. Industri sedang menyaring pelaku usaha mana yang benar-benar memiliki ketahanan. Ketahanan ini tidak hanya diukur dari modal, tetapi dari efisiensi biaya, keunggulan biologis yang terukur, dan manajemen berbasis data. “Pakan murah belum tentu menjadi pilihan ekonomi yang bijak dalam jangka panjang jika performa budidaya di kolam justru menurun.” 4. Masa Depan: Dari “Harga” Menuju “Nilai” Sebagai penutup, narasi ini mengajak para pelaku industri untuk mengubah pola pikir. Fokus industri harus bergeser dari sekadar “berapa harga per kilogram pakan” menjadi “berapa biaya pakan untuk menghasilkan satu kilogram biomassa” secara stabil dan berkelanjutan. Kunci dari keberlanjutan ini terletak pada tiga pilar: Akurasi Data: Mengukur performa secara presisi. Uji Lapangan Transparan: Membuktikan kualitas pakan secara nyata. Pendampingan Teknis: Memastikan petambak mampu mengelola risiko biologis dengan baik.

Perkuat Sektor Maritim, Dosen Perikanan UMM Hadiri Pelantikan Pengurus JALAMU Kabupaten Malang

Perkuat Sektor Maritim, Dosen Perikanan UMM Hadiri Pelantikan Pengurus JALAMU Kabupaten Malang

MALANG – Sinergi antara akademisi dan praktisi perikanan kembali diperkuat melalui kehadiran dosen Program Studi Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam acara Pelantikan Pengurus JALAMU (Jama’ah Nelayan Muhammadiyah) Kabupaten Malang. Kegiatan yang berlangsung khidmat pada Sabtu, 7 Februari 2026 ini, menandai babak baru penguatan komunitas nelayan di wilayah pesisir Malang Selatan. Keterlibatan dosen perikanan UMM dalam struktur maupun pendampingan JALAMU diharapkan mampu membawa perubahan signifikan bagi kesejahteraan nelayan lokal. Dengan dukungan basis keilmuan dan teknologi tepat guna dari kampus, para pengurus baru JALAMU diharapkan dapat menjadi pilar utama dalam mengadvokasi kebutuhan nelayan, mulai dari modernisasi alat tangkap hingga pengelolaan hasil laut yang berkelanjutan. “Semoga kontribusi dan pengabdian bapak-bapak pengurus yang baru dilantik dapat menjadi energi baru dalam menguatkan posisi nelayan di Kabupaten Malang,” ungkap salah satu perwakilan. Langkah kolaboratif ini menjadi bukti nyata komitmen Muhammadiyah dalam memberdayakan ekonomi umat di sektor bahari.