Lawan Polusi Plastik, Ubah Sampah Jadi Ecobrik

Perikanan UMMDukung SDGs, Mahasiswa Perikanan UMM Sulap Sampah Plastik Jadi Ecobrick di Kota Batu

MALANG –  Perikanan UMM mengambil langkah konkret dalam mendukung poin SDGs (Sustainable Development Goals), khususnya nomor 12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab serta nomor 14 terkait Ekosistem Laut. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat, mereka menginisiasi pembuatan ecobrik sebagai solusi inovatif menangani limbah plastik. Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa mengedukasi warga tentang bahaya mikroplastik yang mengancam ekosistem perairan. Mereka mempraktikkan cara mengubah sampah plastik yang sulit terurai menjadi bata ramah lingkungan dengan memasukkannya ke dalam botol bekas hingga padat. Produk ecobrik ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan alternatif atau furnitur sederhana. Inisiatif ini membuktikan bahwa mahasiswa perikanan tidak hanya fokus pada budidaya, tetapi juga aktif menjaga kelestarian lingkungan dari hulu. Dengan mengubah sampah menjadi barang bernilai guna, mereka berharap dapat memutus rantai polusi plastik yang kerap berakhir di sungai dan laut, demi menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan di masa depan.

Dosen Perikanan UMM dan Dinas Perikanan Perkuat Ketahanan Pangan di RW 04 Wagir Lewat Sistem RAS

Dosen Perikanan UMM dan Dinas Perikanan Perkuat Ketahanan Pangan di RW 04 Wagir Lewat Sistem RAS

WAGIR, MALANG – Sektor perikanan di wilayah Kecamatan Wagir terus didorong menuju modernisasi. Bertempat di balai pertemuan RW 04, Desa Wagir, Dinas Perikanan Kabupaten Malang berkolaborasi dengan Program Studi Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) intensif mengenai budidaya ikan nila dengan Sistem RAS (Recirculating Aquaculture System), Kamis (29/01/2026). Hilirisasi Riset Kampus ke Masyarakat Kegiatan ini menjadi wadah bagi akademisi Perikanan UMM untuk melakukan hilirisasi teknologi hasil riset kepada warga. Penggunaan sistem RAS ditekankan sebagai solusi budidaya di lahan sempit dengan efisiensi pakan yang tinggi. “Kami membawa keahlian teknis dari kampus untuk memastikan masyarakat dapat menerapkan biosekuriti dan manajemen kualitas air yang terukur. Dengan RAS, produktivitas ikan nila bisa meningkat berkali-kali lipat dibanding metode tradisional,” jelas perwakilan tim ahli UMM di hadapan para peserta. Inovasi Teknologi RAS: Solusi Lahan Sempit dan Minim Air Dalam sesi sosialisasi tersebut, tim Dosen Perikanan UMM menekankan bahwa teknologi RAS bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan di tengah semakin terbatasnya sumber daya air. Melalui sistem ini, air kolam tidak dibuang, melainkan disirkulasikan kembali melalui serangkaian filter biologis dan mekanis untuk menjaga kualitasnya tetap optimal bagi pertumbuhan ikan. Sinergi Pemerintah dan Akademisi Perwakilan dari Dinas Perikanan Kabupaten Malang menyatakan bahwa pemilihan lokasi di Wagir sangat strategis untuk menjadi percontohan kampung perikanan cerdas (smart fishery village). Keterlibatan Perikanan UMM sebagai mitra strategis memberikan jaminan bahwa warga mendapatkan pendampingan berbasis data dan sains yang kuat. “Kami ingin warga RW 04 Wagir tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor utama dalam kemandirian pangan. Dengan sistem RAS, budidaya ikan nila bisa dilakukan di belakang rumah tanpa perlu khawatir bau atau penggunaan air yang boros,” ungkap tim penyuluh di lokasi. Melalui kegiatan bimtek ini, diharapkan muncul kelompok-kelompok pembudidaya baru yang mampu mengoperasikan sistem RAS secara mandiri. Pihak Perikanan UMM juga berkomitmen untuk terus memantau perkembangan teknis di lapangan, memastikan bahwa instalasi yang dibangun nantinya benar-benar produktif dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Wagir. (Humas/Sang)

Perikanan UMM Dukung SDGs, Mahasiswa Perikanan UMM Sulap Sampah Plastik Jadi Ecobrick di Kota Batu

Perikanan UMMDukung SDGs, Mahasiswa Perikanan UMM Sulap Sampah Plastik Jadi Ecobrick di Kota Batu

(Dokumentasi pribadi) BATU – Masalah sampah plastik yang kian meningkat di kawasan permukiman menuntut solusi kreatif dan berkelanjutan. Menanggapi hal tersebut, sejumlah mahasiswa Program Studi Akuakultur yang tergabung dalam PERIKANAN UMM melaksanakan aksi nyata bertajuk “Pemanfaatan Ecobrick Sebagai Solusi Pengurangan Sampah Plastik” di Desa Dadaprejo, Kota Batu, pada Senin (26/1/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R Dadaprejo Mandiri, Kecamatan Junrejo ini merupakan bagian dari implementasi mata kuliah Wawasan Berkelanjutan. Sebanyak 16 mahasiswa PERIKANAN UMM angkatan 2025 turun langsung untuk berkolaborasi dengan petugas kebersihan dalam menangani timbulan sampah rumah tangga yang terus membengkak. Ketua Pelaksana kegiatan, Daffa Rayhan Zaky, menjelaskan bahwa fokus utama aksi ini adalah mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs) poin 15 mengenai perlindungan ekosistem daratan. Melalui metode ecobrick, sampah plastik yang sulit terurai dipadatkan ke dalam botol bekas hingga menjadi material kuat menyerupai bata atau balok. Program ini mengolah sampah plastik menjadi ecobrick dengan cara memasukkan plastik kering yang sudah dipilah ke dalam botol hingga padat. Inovasi ini bertujuan mencegah pencemaran lingkungan, memberikan nilai estetika pada area TPST, dan efektif mengurangi volume sampah ke TPA. Pembina kegiatan, Rindya Fery Indrawan, S.Pi., MP, berharap aksi yang dilakukan mahasiswa PERIKANAN UMM ini tidak hanya menjadi tugas kuliah semata, namun mampu mengedukasi masyarakat sekitar mengenai pentingnya disiplin pemilahan sampah dari sumbernya. “Kehadiran mahasiswa di lapangan juga bertujuan untuk membantu meringankan beban kerja rutin petugas di TPST. Kami berharap ini menjadi langkah jangka panjang dalam menciptakan lingkungan permukiman di Kota Batu yang lebih sehat, bersih, dan lestari,” tutur Rindya. Dengan aksi ini, mahasiswa PERIKANAN UMM membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup harus dilakukan secara menyeluruh, mencakup aspek daratan guna menjaga kualitas ekosistem air yang menjadi fokus utama studi mereka. (Humas/sang)

Perikanan UMM Lestarikan Mata Air, Mahasiswa Perikanan UMM Gelar “Umbulan Blue Action” di Sumber Umbulan

Lestarikan Mata Air, Mahasiswa Akuakultur UMM Gelar "Umbulan Blue Action" di Sumber Umbulan

MALANG – Kelestarian ekosistem air menjadi isu krusial di tengah perubahan iklim global saat ini. Menyadari hal tersebut, puluhan mahasiswa Program Studi Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025 mengambil langkah nyata melalui aksi lingkungan bertajuk “Umbulan Blue Action”. Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 21 Januari 2025 ini, difokuskan pada pemulihan ekosistem di kawasan wisata Sumber Umbulan, Malang. Aksi ini merupakan bagian dari implementasi poin-poin Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek perlindungan ekosistem perairan. Di bawah arahan dan bimbingan langsung dari Bapak Rindya Fery Indrawan, S.Pi., MP., para mahasiswa tidak hanya belajar secara teoretis di kelas, tetapi juga mempraktikkan ilmu konservasi langsung di lapangan. Restorasi Ekosistem: Dari Penghijauan hingga Restocking Ikan Kegiatan utama dalam “Umbulan Blue Action” mencakup dua agenda vital, yaitu penanaman bibit pohon dan penebaran benih ikan (restocking). Penanaman pohon dilakukan secara strategis di sekeliling sumber mata air. Langkah ini diambil untuk memperkuat struktur tanah guna mencegah erosi yang dapat mengakibatkan pendangkalan sumber air, sekaligus berfungsi sebagai daerah resapan air yang alami. Di sisi lain, penebaran berbagai jenis ikan dilakukan di aliran perairan Sumber Umbulan. Upaya ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan rantai makanan dan meningkatkan biodiversitas di dalam air. Dengan meningkatnya kualitas ekosistem perairan, diharapkan sumber daya alam tersebut tetap dapat memberikan manfaat ekonomi dan ekologi yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. Mengenal Potensi Lokal Sumber Umbulan Pemilihan lokasi di Sumber Umbulan juga didasari oleh status kawasan ini sebagai destinasi wisata alam yang sedang berkembang. Objek wisata ini memiliki keunikan berupa dua akses masuk yang memudahkan wisatawan. Akses Desa Ngenep: Menawarkan pengalaman melintasi pekarangan rumah warga dan hamparan persawahan yang asri. Area ini juga dilengkapi dengan lahan parkir motor yang luas dan teduh di bawah pepohonan. Akses Desa Lang-lang: Menyediakan kemudahan akses bagi pengunjung karena lokasi parkirnya yang berada tepat di pinggir jalan utama. Kondisi geografis yang strategis ini menjadikan Sumber Umbulan sebagai aset penting yang harus dijaga kebersihannya dari sampah maupun kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia. Harapan untuk Masa Depan Melalui kegiatan “Umbulan Blue Action”, mahasiswa Akuakultur UMM berharap dapat memantik kesadaran kolektif masyarakat lokal maupun pengunjung mengenai pentingnya menjaga hulu sungai dan mata air. Kontribusi nyata ini bukan sekadar tugas akademik, melainkan bentuk pengabdian untuk memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat menikmati air bersih dan ekosistem yang sehat. “Kami berharap aksi kecil ini memberikan dampak besar secara jangka panjang, baik bagi struktur tanah di sekitar sumber maupun bagi populasi ikan yang ada di sini,” pungkas salah satu mahasiswa penyelenggara di sela-sela kegiatan. (Humas/sang)

Bandeng Naik Kelas Menuju Panggung Blue Food Global

Transformasi dari Tambak ke KJA Laut

BARU saja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merilis capaian sektor kelautan dan perikanan Indonesia Tahun 2025. Salah satunya adalah data tentang total produksi perikanan Tahun 2025 yang mencapai 18,64 juta ton (hingga Tri Wulan III). Produksi ini meningkat 2,19ri periode yang sama tahun sebelumnya. Jika ditotal hasil produksi dari perikanan budidaya termasuk rumput laut adalah 13,21 juta ton dan perikanan tangkap 5,43 juta ton. Tentu ini sebuah capaian yang baik, disaat ancaman krisis iklim dan menyusutnya lahan daratan, dunia mulai menoleh ke arah samudera/laut. Kemudian muncul sebuah konsep pangan masa depan yang disebut sebagai Blue Food (pangan biru). Diantara sumber Blue Food lokal yang dimiliki Indonesia adalah ikan bandeng (Chanos chanos), yang jumlah produksinya di Tahun 2024 mencapai 792.863,87 ton untuk budidaya pembesaran (KKP, 2025). Selama ini bandeng dicitrakan sebagai komoditas yang ‘merakyat’ dan tradisional, namun di sinilah terdapat peluang besar untuk memimpin revolusi pangan Indonesia, dengan satu syarat bandeng harus ‘naik kelas’. Mengapa Blue Food? Konsep Blue Food merujuk pada pangan yang berasal dari sumber daya perairan, baik laut, sungai, maupun danau, yang diproduksi secara berkelanjutan. Keunggulan pangan biru diantaranya adalah memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan protein hewani di darat, namun kaya akan nutrisi esensial seperti Omega-3, protein tinggi, dan mikronutrien yang krusial untuk mencegah stunting. Bagi Indonesia, bandeng bisa menjadi salah satu kandidat utama dalam peta jalan Blue Food nasional. Ikan ini memiliki daya tahan yang luar biasa terhadap perubahan lingkungan dan penyakit, terutama sifatnya yang euryhaline yakni memilki kemampuan hidup pada kisaran salinitas yang luas (0-45 ppt) Sayangnya, citra bandeng seringkali terjebak dalam batas-batas tambak pesisir yang konvensional. Begitu pula terdapat faktor penghambat untuk bersaing di pasar global, seperti bau lumpur, kontaminasi limbah di pesisir, hingga alih fungsi lahan mangrove. Di sinilah perlunya teknologi Keramba Jaring Apung (KJA) laut hadir sebagai solusi transformatif. Transformasi dari Tambak ke KJA Laut Memindahkan budidaya bandeng dari tambak pesisir ke laut lepas menggunakan sistem KJA adalah langkah besar untuk membuat bandeng naik kelas. Keunggulan budidaya bandeng di KJA laut adalah kualitas lingkungan hidup yang lebih baik karena sirkulasi air terjadi secara alami dan berkelanjutan dari arus laut, bisa padat tebar tinggi hingga 125 ekor per m3 sampai panen, tanpa daya listrik, serta tanpa perlu treatment air secara khusus seperti pemupukan maupun pemberian probiotik. Hasilnya juga cukup signifikan. Pertama, masalah klasik bau lumpur/tanah yang sering dikeluhkan konsumen bisa hilang sepenuhnya, karena ikan tidak lagi bersentuhan dengan substrat dasar tambak. Kedua, kandungan nutrisi bandeng laut cenderung lebih baik karena mereka hidup di air dengan salinitas yang stabil dan kaya oksigen. Hal ini diperkuat oleh hasil riset Hakim et al. (2025), yang menyebutkan bahwa kandungan protein bandeng dari budidaya di KJA laut sebesar 40,96%. Kadar protein ini lebih tinggi dari bandeng hasil budidaya di tambak sebesar 24,18% (Malle et al, 2019). Ketiga, densitas atau padat tebar yang lebih tinggi namun tetap higienis. Ini berarti meningkatkan efisiensi produksi tanpa merusak ekosistem mangrove pesisir. Agar tetap dalam bingkai keberlanjutan, maka perlu diperhatikan juga daya dukung (carrying capacity) dari setiap perairan tempat KJA. Strategi Ekonomi dan Target Pasar Global Bagaimana agar benar-benar bandeng naik kelas? Jawaban singkatnya adalah bandeng tidak boleh hanya berakhir di pasar tradisional dengan harga rendah. Dengan sistem KJA laut mestinya bisa menaikkan citra bandeng, yang dulunya bandeng kualitas biasa menjadi bandeng premium. Kelebihan bandeng premium laut, seperti rasa yang lebih gurih dan tanpa bau lumpur, kandungan protein yang tinggi, sisik lebih bersih, ukuran seragam, dan tekstur daging yang lebih padat, bisa dijadikan standar untuk memenuhi pasar ekspor. Selama ini, pasar internasional juga sangat ketat mengenai standar keamanan pangan dan keberlanjutan. Budidaya di laut lepas bisa memberikan kendali lebih baik terhadap kebersihan produk. Jika dibarengi dengan sertifikasi budidaya berkelanjutan, bandeng KJA laut Indonesia bisa bersaing dengan komoditas ikan ekspor lainnya. Ini bukan sekadar mimpi, namun ini adalah peluang ekonomi yang bisa meningkatkan devisa negara sekaligus mengangkat derajat hidup para pembudidaya ikan. Di samping itu, transformasi ini juga membuka peluang industri hilir. Bandeng laut yang berkualitas tinggi adalah bahan baku sempurna untuk produk olahan premium, mulai dari bandeng tanpa duri kualitas ekspor hingga produk ready to cook (siap masak) yang bisa menembus pasar supermarket global. Tantangan dan Sinergi Kebijakan Pemindahan budidaya di tambak ke sistem KJA laut tentu saja bukan tanpa tantangan, di antaranya kebutuhan modal untuk infrastruktur KJA yang tahan ombak, ketersediaan bibit unggul yang seragam (sebaiknya benih yang ditebar minimum ukuran 10 cm), hingga logistik pakan yang berkualitas. Selain itu, pemerintah perlu memastikan tata kelola ruang laut melalui Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Hal ini untuk menghindari adanya kawasan budidaya yang berbenturan dengan jalur transportasi laut atau kawasan konservasi pariwisata. Pengembangan bandeng premium laut ini juga memerlukan dukungan riset dari akademisi dan pendampingan teknologi bagi pembudidaya lokal. Untuk menghindari agar teknologi ini tidak hanya dinikmati oleh korporasi besar, maka skema kemitraan antara pengusaha dan kelompok pembudidaya kecil harus dibentuk agar kesejahteraan yang dihasilkan dari laut bisa dirasakan secara merata. Menjadikan bandeng naik kelas melalui sistem KJA laut bukanlah sesuatu yang mustahil, karena negara kita sejatinya memilki semua kekuatan untuk mewujudkannya. Inilah saatnya bersinergi untuk membawa bandeng Indonesia bertransformasi dari pangan lokal menjadi primadona Blue Food global.

Dosen Perikanan UMM Turun Langsung Bantu Korban Banjir Bandang di Sumatra dan Aceh

Dosen Perikanan UMM Turun Langsung Bantu Korban Banjir Bandang di Sumatra dan Aceh

  Bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Aceh mengundang kepedulian banyak pihak. Salah satunya datang dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dosen Program Studi Perikanan UMM, Rindya Fery Indrawan, S.Pi., M.P., turut turun langsung ke lokasi terdampak sebagai bagian dari tim relawan kemanusiaan. Indra Fery, bergabung bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Timur dan Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) UMM. Kehadiran mereka di lapangan difokuskan pada upaya respon awal bencana, mulai dari pendampingan masyarakat terdampak, distribusi bantuan, hingga asesmen kondisi di lapangan. Menurut Indra Fery, bencana tidak hanya menyisakan kerusakan secara fisik, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis yang besar bagi warga. Oleh karena itu, kehadiran relawan di tengah masyarakat menjadi hal yang sangat penting. Dalam keterangannya, Indra Fery juga menegaskan bahwa kehadiran relawan bukan hanya soal membawa bantuan, tetapi juga memastikan masyarakat tidak merasa sendirian menghadapi bencana. “Bencana seperti ini bukan hanya soal kerusakan fisik, tapi juga soal kondisi psikologis warga. Kehadiran kami di lapangan adalah untuk membantu semampunya dan memberi penguatan bahwa mereka tidak sendiri.” ujar Rindya Fery Indrawan. Ia menambahkan, keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam aksi kemanusiaan merupakan bagian dari tanggung jawab moral sekaligus wujud nyata nilai ke-Muhammadiyahan yang selama ini dijunjung oleh UMM. “Ini bukan sekadar kegiatan sosial, tapi juga pembelajaran kehidupan. Mahasiswa belajar langsung tentang empati, kerja sama, dan bagaimana ilmu bisa hadir untuk kemanusiaan.” tambah Indra Fery. Partisipasi dosen Perikanan UMM dalam aksi kemanusiaan ini menunjukkan komitmen kampus tidak hanya pada pengembangan akademik, tetapi juga pada nilai kepedulian sosial dan kemanusiaan. Sinergi antara dosen, mahasiswa, dan lembaga kemanusiaan diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat terdampak bencana.

Peluncuran Inovasi Pangan Sehat: Milkfish Belly dan Fillet, Solusi Protein Berkualitas dari Budidaya Laut Berkelanjutan

Peluncuran Inovasi Pangan Sehat: Milkfish Belly dan Fillet, Solusi Protein Berkualitas dari Budidaya Laut Berkelanjutan

Bogor, 16 Desember 2025 – Dalam rangka memperingati Milad Muhammadiyah ke-113, inovasi pangan sehat berupa Milkfish Belly dan Milkfish Fillet resmi diluncurkan pada Senin, 15 Desember 2025, di Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Bogor. Peluncuran ini menjadi momentum penting untuk mendorong kemandirian pangan, gaya hidup sehat, serta penguatan ekonomi melalui inovasi dan kolaborasi antarlembaga. Produk Milkfish Belly dan Milkfish Fillet merupakan olahan premium dari ikan bandeng hasil budidaya keramba jaring apung (KJA) laut. Kedua produk ini hadir dalam bentuk siap masak (ready to cook) dan bebas duri (boneless), sehingga sangat praktis untuk dikonsumsi sehari-hari. Diproduksi menggunakan pakan pellet penuh tanpa antibiotik kimia, ikan bandeng laut ini memiliki rasa lebih gurih dan tidak berbau tanah atau lumpur seperti bandeng budidaya air tawar. “Milkfish Belly dan Milkfish Fillet memiliki kandungan protein hingga 40,96 persen, lebih tinggi dibandingkan ikan salmon dan tuna. Selain itu, rasanya lebih gurih, tidak berbau tanah atau lumpur, bebas duri (boneless), serta siap dimasak (ready to cook) sehingga praktis bagi masyarakat,” ujar Riza Rahman Hakim, inisiator produk sekaligus Dosen Aquakultur Universitas Muhammadiyah Malang yang sedang menempuh pendidikan doktor di IPB University. Inovasi ini lahir dari kolaborasi antara RNI Milkfish Processing dengan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University, didukung penuh oleh Lembaga Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (LP UMKM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta Jurusan Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pendekatan berbasis riset dan praktik budidaya berkelanjutan ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah ikan bandeng nasional, tetapi juga menjadi alternatif sumber protein hewani yang ramah lingkungan dan aman dikonsumsi. Riza Rahman Hakim menambahkan, “Inovasi ini tidak hanya menjawab kebutuhan sumber protein berkualitas, tetapi juga mendorong peningkatan nilai tambah ikan bandeng hasil budidaya laut nasional.” Ke depan, Milkfish Belly dan Milkfish Fillet diharapkan dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia dalam memenuhi kebutuhan protein sehat serta berkualitas tinggi. Tentang RNI Milkfish Processing RNI Milkfish Processing adalah inisiator pengolahan ikan bandeng laut premium yang fokus pada inovasi pangan berkelanjutan untuk mendukung kemandirian pangan nasional. Sumber: Berdasarkan laporan VIVA Bogorbogor.viva.co.id

Kuliah Shrimp Engineering di Prodi Akuakultur UMM dalam Program CoE Pembekalan Teknis Budidaya Udang dari Praktisi untuk Generasi Muda Akuakultur

mitra dudi perikanan umm

SIARAN PERS Sinergi DUDI dan Akademisi: Pak Guntur Isi Kuliah Shrimp Engineering di Prodi Akuakultur UMM dalam Program CoE Pembekalan Teknis Budidaya Udang dari Praktisi untuk Generasi Muda Akuakultur Malang, 9 Arpil 2025 – Dalam upaya meningkatkan kompetensi mahasiswa agar siap menghadapi tantangan industri perikanan modern, Program Studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Pak Guntur, seorang praktisi senior di bidang rekayasa tambak udang, sebagai dosen tamu dalam kuliah mata kuliah Shrimp Engineering. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program Center of Excellence (CoE) yang menjalin kemitraan erat antara kampus dan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI). Pada kesempatan tersebut, Pak Guntur menyampaikan berbagai aspek teknis dan praktis dalam bidang Shrimp Engineering, mulai dari perencanaan desain tambak, sistem aerasi, manajemen biosekuriti, hingga efisiensi energi dalam operasional tambak modern. Mahasiswa terlibat aktif dalam diskusi, bahkan beberapa di antaranya menyampaikan pertanyaan kritis terkait tantangan lapangan. “Teknologi tambak udang saat ini berkembang sangat cepat. Mahasiswa harus dibekali dengan pemahaman yang aplikatif dan siap pakai, tidak cukup hanya teori,” ujar Pak Guntur dalam paparannya yang disambut antusias oleh para mahasiswa. Kuliah berlangsung di ruang kelas FPP UMM dalam suasana interaktif. Para mahasiswa tampak mencatat, berdiskusi, dan menyerap ilmu langsung dari pengalaman Pak Guntur yang telah lama berkecimpung di dunia industri budidaya udang. Koordinator Program Studi Akuakultur UMM menyampaikan bahwa program CoA terus menghadirkan praktisi terbaik di bidangnya guna menciptakan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kecakapan teknis dan siap pakai di industri. “Dengan menghadirkan tokoh-tokoh dari DUDI seperti Pak Guntur, kami berharap mahasiswa memiliki perspektif nyata tentang dunia kerja, khususnya dalam teknologi budidaya udang yang terus berkembang,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, UMM menegaskan komitmennya untuk menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan industri, sekaligus memperkuat peran pendidikan tinggi dalam mencetak SDM unggul di sektor akuakultur.

Innovations in Natural Feed Additives for Sustainable Aquaculture

SIARAN PERS UMM Hadirkan Dr. Osman Sabri Kesbiç dari Turki dalam Kuliah Tamu Internasional Angkat Tema ”Innovations in Natural Feed Additives for Sustainable Aquaculture” Malang, 30 April 2025 – Program Studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam membangun jejaring internasional dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dengan menghadirkan Dr. Osman Sabri Kesbiç, pakar akuakultur dari Kastamonu University, Turki, sebagai narasumber dalam kuliah tamu internasional bertajuk “Innovations in Natural Feed Additives for Sustainable Aquaculture”. Kegiatan ini diselenggarakan di bawah naungan program internasionalisasi Center of Excellence (CoE) Prodi Akuakultur, dan diikuti oleh mahasiswa serta dosen dari berbagai jenjang yang antusias mendalami tema yang sangat relevan dengan isu global ketahanan pangan dan keberlanjutan perikanan budidaya. Dalam pemaparannya, Dr. Kesbiç menekankan pentingnya penggunaan bahan pakan alami seperti ekstrak tanaman, minyak esensial, dan limbah agroindustri sebagai alternatif pengganti antibiotik dan bahan sintetis dalam budidaya ikan dan udang. “Natural feed additives not only improve growth and immunity in fish, but also reduce the environmental impact of aquaculture,” ujarnya. Dr. Kesbiç sendiri merupakan Associate Professor di Kastamonu University, Faculty of Veterinary Medicine, dan dikenal secara internasional melalui berbagai publikasi ilmiah di jurnal bereputasi seperti Aquaculture Nutrition dan Comparative Biochemistry and Physiology. Keahliannya meliputi nutrisi ikan, praktik budidaya yang baik, serta strategi berkelanjutan dalam produksi akuakultur. Kegiatan ini juga diisi dengan sesi diskusi interaktif, di mana mahasiswa diberikan kesempatan untuk bertanya langsung mengenai praktik feed innovation yang diterapkan di berbagai negara, termasuk di Eropa dan Asia. Banyak dari mereka menyampaikan ketertarikan untuk melakukan riset kolaboratif internasional di bidang serupa. Koordinator Program Studi Akuakultur UMM menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari agenda besar internasionalisasi kurikulum dan peningkatan kapasitas lulusan yang adaptif, global-minded, dan unggul dalam bidang perikanan tropis. “Dengan menghadirkan tokoh internasional seperti Dr. Kesbiç, kami ingin membekali mahasiswa dengan perspektif global serta mendorong kolaborasi lintas negara dalam riset dan inovasi akuakultur berkelanjutan,” ujarnya. Kuliah tamu ini diharapkan menjadi pintu pembuka untuk kolaborasi riset bersama Kastamonu University, serta memperluas jejaring akademik internasional yang dimiliki oleh UMM.